Sunday, August 30, 2015

Book Review : Branded Outlaw by L. Ron Hubbard

No comments
This book originally published in 1938 in "Five-Novels Monthly" magazine
Re-published by Galaxy Press in 2011.

Sinopsis
Berangsur-angsur, dekatnya kematian mengempaskan semua pikiran lain dari kepala Lee. Dia menunggang di mimpi buruk yang pedih. Dia berlari cepat karena bisa melihat awan yang menandai pengejaran di belakangnya. Entah bagaimana, dia harus masuk ke dalam pegunungan.

Ketika masih kecil, Lee sering menunggang di sekitar tanah ini. Pun hanya karena dia sangat mengenal daerah ini, dia bisa mencapai mulut jurang yang mengarah ke labirin kusut berwujud ngarai dan puncak gunung. Di suatu tempat di depan sana, dia tahu ada sungai, dan di tepiannya ada gubuk penjerat tua yang tersembunyi dengan sangat baik. Karena para perawat ternak lebih tertarik dengan kawasan datar, maka mereka pun tidak pernah mendatanginya. Dulu di tempat itu, Lee menghabiskan minggu-minggu bahagia dengan memancing ikan trout. Tempat itulah satu-satunya kesempatan untuk hidup. Itu pun kalau dia bisa tetap sadar cukup lama untuk mencapainya.
—L. Ron Hubbard



Identitas Buku
Judul : Branded Outlaw
Judul AsliBranded Outlaw: A Tale of Wild Hearts in the Wild West
Penulis : L. Ron Hubbard
Penerjemah : Melody Violine
Kategori : Fiksi, Pulp
Dimensi Buku : 196 Halaman, 17x11.5 cm
ISBN9786028801003 
Penerbit : Ufuk Publishing House
Softcover, Cetakan Pertama, Mei 2010
Rate : 3/5

Review
Lee Weston menerima surat dari ayahnya. Ternyata Harvey Dodge, musuh lama ayahnya, telah kembali ke kota asal mereka. Lee bergegas menunggang dari Wyoming ke Pecos, New Mexico. Ironisnya, dia hanya menemukan ayahnya telah terbunuh, dan peternakan keluarganya terbakar rata dengan tanah. 

Merasa yakin bahwa Dodge adalah pelakunya, Lee berangkat untuk membalas. Tapi Lee malah terjebak di dalam adu tembak yang sengit. Dalam kondisi terluka parah, Lee melarikan diri ke pegunungan, tepat sebelum dia kehilangan kesadarannya. 

Bagaikan panggilan takdir, anak perempuan Dodge yang bernama Ellen menemukan Lee yang tidak sadarkan diri. Gadis cantik yang keras kepala ini pun diam-diam merawatnya hingga sehat kembali. Ketika Lee bersikeras untuk melanjutkan rencana pembalasannya, dia terjerat di dalam masalah yang lebih pelik. Dia dituntut atas tuduhan palsu, nyaris tewas diserbu massa yang mengamuk, dan dipandang hina oleh satu-satunya gadis yang pernah ditatap oleh Lee lebih dari satu kali.

- - - - - - - - - - -

Sebenarnya, saya agak bingung bagaimana menuliskan ulasan untuk buku mungil ini. Soalnya, selain menampilkan sinopsis, buku ini juga menampilkan review atau ulasan ceritanya itu sendiri. Nah, yang membuat saya bingung, review seperti apa yang harus tulis untuk buku ini, hehehe... toh, ulasannya udah ada, hwehehee.... Yang pasti sih, this is Great fun pulp fiction, konsep ceritanya menarik mengkombinasikan sejarah dengan plot dan adegan cerita petualangan yang menuntut untuk terus diikuti hingga lembar terakhirnya. Saya juga suka gaya penulisan Hubbard dan yang paling saya suka, bukunya ini juga diselipi gambar-gambar ilustrasi yang meskipun hitam putih saja tetapi semakin membuat cerita terasa detail dan nyata.

Buku ini berseri sampai delapan puluh seri lho. Jadi penasaran pengen baca kesemua karyanya Hubbard.

Oh iya, buku ini hadiah dari sahabat saya, Melody Violine yang juga penerjemah buku ini. Terima kasih bukunya, Mel... Suka :))

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2


Book Review : The Book of Names by Jill Gregory & Karen Tintori

No comments
Dalam setiap generasi, ada tiga puluh enam jiwa-jiwa berbudi.
Nyawa mereka adalah kunci bagi takdir dunia.
Sekarang seseorang menginginkan mereka mati!

Sinopsis
Saat tragedi masa kecil kembali menghantui Prof David Sheperd, ia mendapati dirinya memiliki pengetahuan yang bisa mempertahankan dunia dalam keseimbangan yang rapuh. Dia menemukan Kitab Nama-Nama - sebuah teks kuno yang berasal dari Kitab Suci Adam, dan dianggap hilang untuk selamanya.

Kitab itu berisi nama-nama dari setiap generasi dari jiwa-jiwa yang berbudi, dan hanya dengan kebaikan mereka dunia ini tetap ada. Menurut legenda, jika 36 jiwa yang tersembunyi ini dihapus, dunia akan segera berakhir.

Ketika nama-nama yang tersembunyi ini mulai sekarat karena sebab-sebab yang tidak alamiah, dunia berubah menjadi tidak stabil, perang di Afganistan, banjir besar di New York, serangan teroris brutal di Melbourne dan ledakan tanker di Iran. David mendapati dirinya berperang melawan Gnoseos, sebuah sekte keagamaan rahasia yang tujuannya adalah merusak dunia dengan cara membinasakan jiwa-jiwa berbudi tersebut. Keterlibatan David menjadi pribadi saat ia menemukan nama putri tirinya adalah salah satu nama yang ada dalam bahaya.

Kini David berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang berbudi, putri tirinya, dan mungkin juga... dunia!


Identitas Buku
Judul : The Book of Names
Judul Terjemahan : Kitab Nama-Nama
Penulis : Jill Gregory & Karen Tintori
Penerjemah : Rosida Irshad
Kategori : Fiksi, Thriller, Misteri, Agama, Petualangan, Kriminal
Tebal : viii + 389 Halaman
ISBN : 979-16124-8-X
Penerbit : Onread-Books Publisher
Softcover, Cetakan Pertama, Maret 2008
Rate : 4/5

Review
Seorang arkeolog terkenal bernama Sir Rodney Davis, merasa sangat gembira ketika ia berhasil menemukan sebuah gulungan tua yang ternyata adalah perkamen lontar yang merupakan Kitab Nama-Nama yang diburu banyak orang. Sayangnya, kebahagiaan itu hanya sekejap saja ia rasakan karena bersamaan dengan waktu ia menemukan gulungan perkamen itu, ia juga merasakan cekikan kuat dari kawat disekeliling lehernya, sampai akhirnya nafasnya terputus. Ia meninggal seketika itu juga. Dengan seringai licik, Raoul LaDouceur meninggalkan mayat Sir Rodney yang baru saja dibunuhnya. Raoul sendiri adalah asisten Sir Rodney Davis, selama belasan tahun terakhir. Sementara Sir Rodney Davis terbunuh di kota Saqqara, Mesir, di tanggal, bulan dan tahun yang sama yaitu 7 Januari 1986 di tempat yang berbeda, yaitu di Rumah Sakit, Connecticut, Dr. Harriet Gardner sedang bersantai ketika ia mendapat panggilan dari unit gawat darurat mengenai tiga pasien yang harus ia tangani segera. Ketiga pasien darurat itu adalah anak-anak yang masing-masing bernama Abby Lewis, Crispin Muller (putra dari Erik Muller, duta besar dari Swiss), dan David Shepherd (putra dari Senator Robert Shepherd dari Amerika). Mereka terluka parah. Setelah berjuang keras selama beberapa jam, akhirnya ketiganya dapat diselamatkan dari kematian. Meskipun selamat, namun Abby Lewis harus menderita cedera fisik yang bisa dipastikan akan bisa segera pulih, sementara itu, Crispin Muller mengalami koma, sedangkan David Shepherd yang sebelumnya dinyatakan meninggal, beberapa saat setelah dinyatakan demikian ia kembali menunjukkan bahwa jantungnya berfungsi kembali.

Di suatu hari tahun 2005 di Universitas Georgetown, Washington DC. Profesor David Shepherd sedang menyantap makan siangnya ketika tiba-tiba saja mengalami kejadian aneh, tanpa ia sadari ia menuliskan sebuah nama, Beverly Panagoupolos. Ia tidak tahu mengapa ia bisa menuliskan nama tersebut, ia juga tidak mengenal nama itu. Sebenarnya kejadian seperti itu bukanlah yang pertama baginya. Dalam perjalanan pulang, David mendengar lewat radio bahwa saudara perempuan Perdana Menteri Yunani bernama Beverly Panagoupolos ditemukan tewas terbunuh secara mengenaskan satu jam sebelumnya. Menurutnya, itu kira-kira terjadi tepat saat ia sedang makan siang tadi, ketika ia tanpa sengaja menuliskan nama tersebut.

Sesampainya dirumah, dengan sedikit ketakutan yang tidak ia pahami David membongkar lemari arsipnya dan mencari buku Jurnal miliknya, sebuah buku dengan tebal 145 halaman yang berisi nama-nama yang ia tulis sejak ia mengalami "bangkit" dari kematian setelah mengalami kecelakaan fatal di masa kecilnya. Dalam jurnalnya tersebut, nama Beverly Panagoupolos telah ia tulis pada tanggal 7 Oktober 1994. 

Kemudian David mengetikan nama-nama lain yang juga tertulis dalam jurnal tersebut dalam mesin pencarian di internet. Hasil pencarian tersebut menghasilkan informasi yang berisi bahwa orang-orang dengan nama-nama itu telah tewas dengan berbagai macam sebab.

Kepada sahabatnya, seorang Pendeta bernama Dillon McGrath yang juga pimpinan Departemen Teologia Universitas Georgetown, David bercerita tentang kondisinya yang pernah "meninggal" saat ia berusia 13. Lalu setelah ia melewati sebuah "terowongan cahaya" ia kemudian dinyatakan hidup kembali. Saat ia berusia 15 tahun, dua tahun setelah peristiwa tersebut, dimulailah pemunculan nama-nama di benaknya, yang kemudian ia tuliskan pada sebuah jurnal. Mendengar kondisi yang dialami sahabatnya, Pendeta Dillon McGrath yang nampak sangat memahami apa yang dirasakan oleh sahabatnya, kemudian menyarankan David agar berkonsultasi pada seorang ahli hipnoterapi kenalannya, Alex Dorset.

Mendengar saran dari sahabatnya, David menolaknya. Namun mendengar nasehat lebih lanjut dari sahabatnya, akhirnya David menemui Alex Dorset. Hasilnya cukup mengejutkan, dari pertemuan pertama nya saja dengan Alex Dorset, David dapat mengingat sesuatu saat ia merasa tengah melewati "Lorong Cahaya" tersebut. Saat itu, ia mendengar sebuah seruan berbunyi "Zakhor". Dengan Dillon yang selalu menemaninya, Dillon mengatakan bahwa kata tersebut memiliki arti "Ingat" dalam bahasa Ibrani. Ini berarti, menurut Dillon, David memang "diminta" untuk mengingat nama-nama yang muncul di pikirannya.

David semakin bingung dan khawatir ketika ia membaca-baca jurnalnya, disana ia juga menemukan nama putri tirinya, Stacy Lachman.

Dengan meminta bantuan Dillon, David ingin mencari tahu lebih dalam makna dari apa yang ia alami tersebut. Mengingat dalam beberapa bagian bahwa hal tersebut berkaitan dengan bahasa Ibrani, maka Dillon mengajak David untuk menemui Rabi Eliezer ben Moshe, seorang ahli Kabbalah (guru besar tradisi mistik Yahudi). Berbekal jurnal berisi nama-nama serta batu tua yang merupakan milik Crispin Mueller yang tertinggal saat terjadi kecelakaan yang pernah membuatnya koma, David menemui Rabi Eliezer ben Mose dikediamannya. Penjelasan yang diterimanya dalam pertemuan tersebut membuat David terkejut karena batu tua yang tampak biasa-biasa saja dan ia simpan selama ini, ternyata diyakini merupakan salah satu dari duabelas batu yang menghiasi baju penutup dada yang dikenal dengan sebutan 'Baju Pengadilan' milik Aaron, sang pendeta tinggi, saudara Nabi Musa. David semakin terkejut ketika ia mendapat penjelasan bahwa nama-nama yang ia tulis pada jurnalnya, juga tertulis pada papirus kuno yang ditemukan di Timur Tengah, suatu jurnal kuno yang dikenal sebagai Kitab Nama-Nama.

Kitab Nama-Nama tersebut dituliskan pertama kali oleh Adam yang kemudian diwariskan secara turun-temurun pada keturunan mereka bahkan pada Nabi Musa yang telah ditunjuk oleh Allah untuk membebaskan "anak-anak" keturunan Israel menuju Tanah Perjanjian.

Mendengar penjelasan demikian dari Rabi Eliezer ben Mose, dengan lantang, David menyatakan sama sekali tidak percaya dengan semua itu.

Dengan sabar, Rabi Eliezer ben Mose kemudian menjelaskan kembali dengan singkat tentang Kitab Nama-Nama. Selama bertahun-tahun, kitab tersebut berada di tangan Isaac, salah satu putra Abraham, dan disimpan di Kuil Valult di Yerusalem. Hingga pada sekitar 70SM, kitab itu dirampas oleh bangsa Romawi. Sejak itu kitab tersebut menghilang beserta peninggalan-peninggalan lain, termasuk "Baju Pengadilan" milik sang Pendeta Tinggi. Sampai akhirnya para arkeolog menemukan salinan naskah Kitab Nama-Nama milik Ishmael, yakni putra Abraham lainnya. Saat ini, papirus inilah yang sekarang sedang digali dan diteliti oleh para pengikut-Nya. Namun mereka harus berlomba dengan waktu untuk memperoleh kelengkapan artefak suci tersebut, dikarenakan keterlibatan pihak lain yang bertekad pula memperoleh Kitab Nama-Nama namun dengan tujuan yang berbeda. Adapun pihak lain itu dikenal dengan Kelompok Gnoseos, suatu komunitas rahasia masyarakat yang secara turun-temurun memeluk agama kepercayaan yang disebut Gnostik.

Mendengar itu semua David mulai sedikit percaya, meskipun ia tetap belum merasa benar-benar yakin. Ditengah pertemuan itu, datang Yael Harpaz, seorang arkeolog wanita yang tergabung dalam persekutuan yang bertugas melacak serta mengamankan peninggalan-peninggalan suci. Beberapa saat kemudian, apa yang baru saja dijelaskan oleh Rabi yang sangat diragukan oleh David terbukti secara nyata. Kediaman Rabi ben Moshe mendapat serangan mendadak dari sekelompok orang yang memiliki julukan "Malaikat Kegelapan", mereka adalah utusan Kelompok Gnoseos. Para "Malaikat Kegelapan" ini tidak segan-segan membunuh siapa pun yang dianggap menghalangi tugas mereka.

Dengan bantuan Yael, David berhasil menyelamatkan diri membawa serta jurnalnya namun mereka tidak berhasil menyelamatkan Rabi ben Moshe.

Kaget dan bingung dengan apa yang baru saja dialaminya, David menuntut penjelasan lebih lanjut pada Yael, terutama mengapa para pengikut Gnoseos memburu mereka. Penjelasan singkat yang diberikan Yael membuat David semakin kaget. Karena dari penjelasan Yael, nama-nama yang tercantum dalam papirus kuno, yang juga sama dengan nama-nama yang tertulis dalam jurnal David merupakan nama-nama orang-orang khusus dan jarang, dimana keberadaan mereka di dunia diperuntukkan untuk menjadi keseimbangan kehidupan di dunia.

Bersumber dari Kitab Talmud (kitab yang membahas komentar para nabi tentang Kitab Perjanjian Lama) disebutkan bahwa di setiap generasi dunia pasti terdapat 36 orang-orang budiman yang diberkahi oleh Shekhinah dan mereka ini disebut "LamedVovniks", yaitu orang-orang spesial dimana jiwa mereka telah mencapai tingkat spiritual tertinggi dan kebaikan hati mereka yang membuat Tuhan dapat menjaga keberadaan dunia.

Adapun tujuan para pengikut Gnoseos memburu dan membunuh setiap nama yang tercantum di dalamnya itu adalah untuk menimbulkan kekacauan besar di dunia hingga akhirnya mereka dapat mengalahkan kekuasaan Tuhan.

Dari penjelasan Yael, David mulai benar-benar percaya dengan semua penjelasan Rabi ben Moshe. Iapun sadar betapa serius serta besarnya bahaya yang mengancam dirinya juga keluarganya. Untuk melindungi orang-orang yang sangat ia sayang, dari kemungkinan serangan kelompok "Malaikat Kegelapan", David meminta bantuan temannya untuk menjemput mantan istri serta putrinya, Meredith serta Stacy untuk bersembunyi di tempat aman sambil menunggu kedatangan dirinya untuk menjemput mereka. Sayangnya, sebelum David berhasil menemui dan menjaga mereka, justru ketiga orang yang amat ia sayangi itu menghilang. Tidak hanya itu, musuh tersembunyi nya juga berhasil membuat David menjadi seorang tersangka pembunuhan.

Mengetahui bahwa dirinya berada dalam perangkap sebuah konspirasi, David bekerja membantu penelitian lebih lanjut tentang "LamedVovniks"sebagai satu-satunya jalan untuk melawan musuh, terutama demi menyelamatkan Stacy yang akhirnya jatuh ke tangan musuhnya.

Berangkatlah David menuju Yerusalem, dengan bantuan kelompok peneliti di kediaman Yael, David berusaha menemukan kunci yang dapat membantu penyelamatan sisa dari ke-36 nama yang masih hidup. Berburu dengan waktu, mereka semua tanpa istirahat bekerja membongkar misteri dari kode-kode rahasia pada salinan papirus.

Disaat David hampir menyerah, datanglah sebuah  "undangan" tak terduga suara dari kegelapan yang "mengundang" kedatangan David dalam pertemuan puncak Gnoseos sedunia di jantung kota London. Hingga akhirnya, tanpa disadari mereka semua terlibat dalam peperangan yang mengerikan, perang melawan orang-orang yang berniat menghancurkan dunia semata-mata demi kemuliaan kelompoknya sendiri.

Demi orang-orang yang dicintainya, David harus menjelajahi hampir seluruh pelosok dunia. Namun, apa yang dapat ia lakukan, saat ia harus berhadapan dengan konspirasi besar yang tak hanya telah dirancang untuknya tetapi juga konspirasi tersebut melibatkan pula para pemuka agama serta pejabat tinggi pemerintahan. Bahkan David tidak tahu harus mempercayai siapa saat orang-orang yang dianggap sahabat justru menjerumuskannya dalam masalah yang besar. Tidak hanya itu, sebagian besar masalah yang dihadapinya disebabkan oleh kenalan lamanya yang bangkit dari kematian. Dimana seseorang tersebut memiliki tekad yang begitu kuat telah ia rencanakan yaitu menghancurkan David Shepherd.

Ditengah segala bentuk kesulitan yang diciptakan untuknya, berhasilkah David menyelamatkan orang-orang yang dicintainya?

Dari sejak halaman pertama, bahkan dari sinopsis yang tertulis di bagian belakangnya saja, buku ini langsung sukses membuat saya terpikat. Dengan karakter tokoh-tokoh yang meyakinkan serta kombinasi plot cerita yang cepat dan penuh intrik, menjadikan buku ini sebagai sebuah thriller yang asyik untuk dibaca. Tidak hanya itu, dengan setting tempat yang ditulis dengan detail, The Book Of Names juga telah mengajak saya berkeliling berbagai benua dan negara. Khususnya bagi para pecinta thriller, saya sangat merekomendasikan buku ini dan umumnya bagi siapapunn yang ingin merasakan cengkeraman sebuah buku yang akan membuatmu tegang dan menggigil yang hanya akan melepaskanmu jika kamu sudah selesai membaca hingga halaman terakhirnya.

Two thumb up untuk karya hasil duet Jill Gregory & Karen Tintori.

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2

Saturday, August 29, 2015

Book Review : Hunted (House of Night #5) by P.C. Cast + Kristin Cast

1 comment
Pintu tertutup dengan suara berdebum yang final, menutup teman-temanku di luar, dan meninggalkanku sendirian bersama musuhku, malaikat terbuang dan makhluk burung menakutkan yang terlahir akibat nafsunya di masa lalu.
Lalu aku melakukan sesuatu yang hanya pernah terjadi dua kali sepanjang hidupku.
Aku pingsan.

Sinopsis
Zoey dan kawan-kawan harus mencari akal untuk menghadapi bahaya tak terduga yang mengancam mereka semua. Neferet menggalang kekuatan dengan pendamping barunya, Kalona, dan tak satu pun di House of Night memahami ancaman yang akan dilancarkannya. 

Kalona memang menawan, dan seisi House of Night berada dalam pengaruh mantranya. Sementara itu, Zoey menghadapi masalah kecil dengan para calon vampir merah. Benarkah mereka telah berubah dan ramah seperti penampilannya? 

Dalam hal pacar, Zoey mendapat kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Erik, mantannya yang superseksi. Tetapi, entah mengapa, pikirannya tak pernah lepas dari Stark, pemanah yang mati dalam pelukannya. Zoey terdorong untuk menyelamatkan Stark dari pengaruh jahat Neferet. Apakah ada yang mau percaya bahwa kekuatan jahat telah bersembunyi di tengah mereka?


Identitas Buku
Judul : Hunted (House of Night #5)
Penulis : P.C. Cast + Kristin Cast
Penerjemah : Shandy Tan
Kategori : Fiksi, YA, Romance, Vampire
Tebal : 544 halaman
ISBN : 9786020208077
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Softcover, Cetakan Pertama, Maret 2013
Rate : 3/5
Review
Dari awal hingga pertengahan, saya tidak menemukan keasyikan saat membaca buku ini. Membosankan. Malah lebih dari itu, saya tidak tahu, ini sebenarnya saya lagi baca apa sih? Ada tokoh bernama Zoey yang menurut aku dia ini kok labil banget ya jadi orang. Tapi ada Aphrodite dan Darius, yang membuat saya tetap ingin melanjutkan membaca buku ini sampai selesai. Mereka berdua ini pasangan manis dan romantis. Suka deh sama mereka :)

Oh iya, Zoey yang tadi saya sebut sebagai orang labil itu, diceritakan terluka parah oleh anak buah Kalona, si malaikat terbuang yang juga seorang immortal. Zoey menerima panggilan Neferet untuk kembali ke House of Night, Sekolah para Vampir. Namun, House of Night seperti mati. Raven Mockers yang menggantikan tugas Sons of Erebus menjaga House of Night, membuat keadaan semakin mencekam. Disebutkan bahwa Neferet juga sudah tidak memakai simbol Nyx, dan menggantinya dengan kalung sayap hitam Onyx.

Para red fledgling terkena pengaruh sihir Kalona dan mereka percaya bahwa Kalona adalah utusan Nyx. Begitu juga dengan para profesor. Hanya Lenobia, Dragon dan Anastasia yang tidak terpengaruh oleh sihir Kalona. Mereka mendukung Zoey untuk menjadi High Priestess yang baru. Pertarungan antara Kalona dan Neferet dengan kubu Zoey berlangsung. Disini saya mulai sedikit menikmati ketegangan demi ketegangan yang terasa sangat mencekam.

Salah satu red fledgling menuliskan puisi berisi kode yang harus dipecahkan untuk mengalahkan Kalona. Dengan bantuan Lenobia untuk membantunya mencari para perwakilan elemen yang disebutkan dalam puisi tersebut, berhasilkah Zoey mengalahkan Kalona-Neferet?
- - - - - - - - - -

Hmm... ya, rasanya cukup segitu ulasan yang bisa saya tulis untuk buku kelima seri House of Night ini. Agak membingungkan ya...? hehehe.... saya sendiripun bingung. Gak baca buku pertama, kedua, ketiga dan keempatnya eh langsung aja baca buku kelimanya, hihi... Saat membeli buku ini, saya gak tahu kalau buku ini ternyata buku kelima dari sebuah seri. Tapi ya, kalau mengikuti kisahnya Zoey ini dari mulai buku pertamanya sih sepertinya ini series yang bagus. Yang setelah saya googling-googling, ternyata ya, seri lengkap dari Hunted of Night ini, beginii : Marked, Betrayed, Chosen, Untamed, Hunted (baru punya yang ini ajaa T_T), Tempted, Burned, Awakened dan Destined. Yah, yah, yaah.... jadi penasaran deh pengen ngumpulin buku-buku dari seri ini. >_<

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2

Book Review : The Mask of Atreus by A.J. Hartley

No comments
Sebuah Topeng Kuno Dicuri...
Kengerian Abad Lampau pun Bangkit...

Sinopsis
SEBUAH RUANGAN RAHASIA...
Dalam sebuah museum yang tak dikenal yang telah menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi pemiliknya, dimana mayatnya terbaring di antara koleksi barang-barang antik Yunani yang menakjubkan-harta karun yang duku dirampas oleh NAZI.

WAJAH KEMATIAN...
Sebuah topeng kematian Mikene yang tak ternilai harganya telah diambil bersama dengan tulang-tulang dari seorang pahlawan legendaris yang sebelumnyadiduga hanya hidup dalam mitos kuno.

SEBUAH CAWAN TIDAK SUCI
DARI KEKUATAN YANG LUAR BIASA
Pencurian itu menyeret seorang kurator museum, Deborh Miller ke dalam jalinan menakutkan. Melibatkan pembunuhan, misteri dan dendam yang membinasakan... oleh mereka yang bermimpi tentang kejayaan yang tak terkalahkan.


Identitas Buku
Judul : The Mask of Atreus
Penulis : A.J. Hartley
Penerjemah : Dwi Istiani
Kategori : Fiksi, Fiksi Sejarah, Misteri, Thriller, Petualangan
Dimensi Buku : viii + 436 halaman, 15x23 cm
ISBN : 979-16124-5-5
Penerbit : OnReads Books Publisher
Softcover, Cetakan Pertama, Maret 2008
Rate : 4/5
Review
Buku ini berkisah tentang tentang hilangnya Topeng kematian Mikene dari sebuah museum yang sangat terkenal. Deborah Miller, kurator museum tersebut, turun tangan untuk menyelidiki kasus tersebut. Dibantu oleh seorang polisi dari kepolisian Jerman yang bernama Cerniga, mereka bersama-sama memecahkan kasus hilangnya benda tersebut.

Benda tak ternilai harganya­ itu telah diambil bersama dengan tulang-tulang dari seorang pahlawan­ legendaris yang sebelumnya diduga hanya hidup dalam mitos kuno. Adapun Museum tempat keberadaan topeng yang dicuri tersebut terkenal sangat angker dan menyeramkan karena terdapat sebuah rumor bahwa di tempat tersebut dikenal sebagai menjadi tempat­ peristirahatan terakhir bagi pemiliknya, di mana mayatnya terbaring di antara koleksi barang-barang antik Yunani­ yang menakjubkan yang juga merupakan harta karun yang dulu dirampas dari Nazi.

Dengan bantuan dari beberapa anggota kepolisian dan arkeologi, penyelidikan pun dimulai.

Hambatan, kebingungan dan kengerian yang mereka rasakan membuat mereka sedikit ketakutan bahkan hingga sempat memutuskan untuk menghentikan pencarian tersebut. Namun, demi harta karun Yunani kuno yang sangat berharga tersebut, akhirnya mereka memutuskan terus melakukan penyelidikan apapun tantangan dan kesulitannya.

Berhasilkah mereka menemukan kembali harta karun tersebut?

The Mask of Atreus, meskipun inti cerita dan karakter-karakternya hanya merupakan karangan semata, namun ini adalah salah satu novel yang memukau. Tak hanya sebagai sebuah novel yang bergenre thriller arkeologis, dari segi ceritanya begitu penuh dengan rahasia-rahasia, pengkhianatan-pengkhianatan licik, kejutan-kejutan yang menegangkan dan sedikit percintaan yang dramatis serta suasana medan pertempuran di hari-hari suram Perang Dunia II yang dikemas memikat hingga akhir cerita yang menggetarkan.

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2

Tuesday, August 25, 2015

Book Review : PS. I Love You by Cecelia Ahern

2 comments
P.S. I Love You adalah novel pertama dari penulis Irlandia, Cecelia Ahern, yang diterbitkan pada tahun 2004. Buku ini mencapai nomor 1 buku terlaris di Irlandia (selama 19 minggu), Britania Raya, Amerika Serikat, Jerman, dan Belanda.

Sinopsis
Pembaca yang budiman,
Namaku Holly. Belum lama ini, Gerry, suamiku, meninggal karena kanker. Sebelum itu, kami pasangan yang bahagia. Mungkin Gerry bukan suami sempurna, karena dia malas mematikan lampu kamar saat kami sudah meringkuk di balik selimut yang hangat. Akibatnya, tulang keringku sering terantuk ranjang dan memar-memar ketika kembali ke ranjang sesudah mematikan lampu.

Ketika Gerry tiada, aku kehilangan sahabatku, kekasihku, batu karangku. Namun, Gerry tidak membiarkanku sendiri. Dia meninggalkan seikat surat untuk kubuka tiap bulan. Seiring bulan-bulan berlalu, aku menjadi lebih tabah. Bersama sahabat dan keluargaku, aku menangis, tertawa, dan belajar menjalani hidup. Seperti kata Gerry dalam surat pertamanya,

Ingatlah semua kenangan manis kita, tapi jangan takut menciptakan kenangan-kenangan baru.

Hidup ini memang untuk dijalani dengan sepenuh hati. Dan rasanya nyaman juga ada malaikat yang mengawasi setiap langkahku.

Holly
PS. I love you.


Identitas Buku
Judul : PS. I Love You
Penulis : Cecelia Ahern
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Kategori : Fiksi, YA, Romance
Dimensi Buku : 632 halaman, 11x20 cm
ISBN : 978-979-22-9788-1
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Softcover, Cetakan Kedelapan, Juli 2013
Rate : 4/5

Review
Novel ini mengambil setting tempat di Irlandia, Holly Kennedy adalah seorang yang cantik, cerdas dan menikah dengan seorang pria Irlandia yang penuh gairah, lucu dan penyabar bernama Gerry.

Dan saat ini, Holly adalah seorang janda, karena Gery telah meninggal dunia akibat penyakit kanker otak yang menyerangnya. Holly memiliki dua sahabat, Sharon yang menikah dengan John (sahabat Gery) dan Denise.

Holly memakai tetap nama belakang keluarganya meskipun sudah menikah dengan Gery. Saudara-saudara Holly memiliki karakter yang berbeda-beda. Kakak tertuanya, Richard, adalah seorang yang sangat kaku dan lurus serta tidak punya kesensitifan dan humor, ia telah memiliki istri, Meredith yang juga memiliki sifat yang sama dengan Richard. Jack, kakak kedua yang paling disukai dan dikagumi Holly, ia seseorang yang ramah, menyenangkan, namun suka usil. Adik perempuannya, Ciara, tinggal di Autralia dan sangat periang serta seringkali melakukan hal-hal yang ekstrim. Ciara sangat menyayangi Holly. Sedangkan Adik laki-lakinya, Declan yang tinggal di rumah kedua orang tua mereka, hampir selalu bersifat layaknya seperti remaja padahal ia telah cukup dewasa, ia berusia 20 tahun. Declan adalah mahasiswa perfilman dan memiliki band.

Holly begitu sedih dan terpuruk setelah kematian Gery. Ia terus teringat kenangan akan Gery dan tidak percaya takdir merenggut kebahagiaan dan kebersamaan mereka di usia yang belum terlalu tua. Namun ternyata, Gery yang kini sudah tenang diperistirahatannya seolah bangkit dan menghidupkan kembali sepuluh bulan setelah kematiannya lewat surat surat yang ditulisnya sebelum ia meninggal. Setiap surat harus dibuka Holly sesuai dengan bulan yang tertera di amplop tersebut. Satu surat untuk setiap bulannya.

Berkat surat-surat itu Holly merasa memiliki kekuatan untuk bangkit. Ia merasa Gery masih ada lewat surat suratnya. Sedapat mungkin, meskipun berat baginya melepas sesuatu yang dipenuhi kenangan akan suami yang teramat dicintainya itu, Holly berusaha untuk memenuhi setiap permintaan Gery lewat surat-suratnya. Gery menulis sebuah daftar mengenai apa-apa saja yang harus dilakukan Holly ketika dirinya sudah tiada, termasuk hal hal sepele dalam kehidupan rumah tangga mereka. Gery juga menyuruhnya untuk mulai mengemas semua barang-barang miliknya.

Melalui surat-suratnya itu juga, ternyata Gery telah menyusun sebuah rencana untuk Holly dan sahabat-sahabatnya, Sharon dan suaminya juga Denise. Mereka pun berlibur bersama.

Sepulang dari acara liburan tersebut, Holly mendapat kabar bahwa Sharon hamil dan Denise akan segera menikah dengan Tom, sahabat Daniel. Daniel adalah lelaki yang pernah bertemu dengan Hollydi sebuah bar saat Holly diajak adiknya, Declan untuk menonton aksi panggungnya. Saat itu, Holly dan Daniel sempat mengobrol banyak hal bahkan hingga masalah pribadi. Dari percakapan itu Holly mengethaui bahwa Daniel yang seumuran dengannya itu, tengah patah hati karena ditinggalkan oleh pacarnya yang berselingkuh.

Mendengar kabar dari dua sahabat yang sangat ia sayang dan menyayangi dirinya, Holly merasa gembira akan kebahagiaan sahabat-sahabatnya, namun saat itu pula ia merasa sebaliknya. Ia merasa ditinggalkan dan marah. Ia merasa semua ini tidak adil baginya, mengapa orang lain bisa bahagia sementara kebahagiaannya dengan Gery direnggut.

Keuangan yang semakin menipis, membuat Holly berpikir untuk mulai mencari pekerjaan, namun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kemudian, berkat dukungan Gerry melalui surat-suratnya, Holly pun mencari pekerjaan dan ia diterima disebuah perusahan majalah dibagian periklanan.

Keluarga Holly, terutama ibunya, juga Sharon dan Denise, yang awalnya merasa khawatir bahwa surat-surat Gerry hanya akan membuat Holly terikat dengan masa lalunya, namun pada kenyataannya, setiap surat justu mendorong Holly menuju masa depan yang baru.

Dengan kata-kata Gerry melalui surat-suratnya yang selalu diakhiri dengan "PS. I Love You" itu, mampu menjadi panduan bagi Holly memulai perjalanannya dalam menemukan kembali cerita tentang pernikahan, persahabatan dan bagaimana cinta yang begitu kuat dapat mengubah akhir dari kematian menjadi awal baru bagi kehidupan. Holly tahu, dia harus tetap kuat, mulai membuka hati dan mengikuti kata hatinya.

- - - PS. I Love You - - -

Dari catatan saya tentang buku-buku yang saya miliki, saya membeli buku ini setahun yang lalu, 24 Agustus 2014. Dan saat itu baru 25 halaman yang saya baca. Saya tergoda untuk terlebih dahulu menonton filmnya. Betul, dengan judul yang sama, buku ini telah diangkat menjadi sebuah film pada tahun 2007. Lebih lengkap mengenai filmnya bisa dibaca disini. Filmnya bagus, saya suka, makanya setelah menonton filmnya, saya jadi lupa untuk melanjutkan membaca bukunya. Dan baru tadi malam, sambil meler-meler to the max, saya membaca ulang 25 halaman sebelumnya dan menyelesaikannya hingga halaman terakhirnya. Aah... ya memang bukunya memang selalu lebih bagus dari filmnya, hihii... 

Meskipun begitu, saya sangat merekomendasikan juga keduanya kok. Silahkan tonton filmnya juga silahkan baca bukunya, karena ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini, khususnya dari perjalanan hidup Holly.

Satu point penting yang bisa saya tangkap dari kisah ini adalah, kehilangan seseorang yang sangat berati bagi kita, yang sangat kita sayangi dan kita cintai, pastilah berat dan sangat menyakitkan, namun, sadarilah dan lihatlah ke sekeliling, hidup ini harus terus dijalani karena hidup adalah salah satu anugerah indah yang harus disyukuri.

Yang tidak saya sukai dari kisah ini adalah sikap Holly yang menye-menye, galau, egois dan mudah menyerah. Gak dewasa banget. Tapi bisa dimaklumi, secara, dia sedang bahagia-bahagianya hidup berumah tangga, tiba-tiba suaminya sakit dan kemudian meninggal dunia.

Secara keseluruhan saya sangat menyukai buku ini. Bahkan, setelah membaca buku ini saya jadi berambisi untuk mengumpulkann buku-buku lainnya karya Cecelia Ahern. Sekarang baru punya ini, PS. I Love You, Where Rainbow End, dan Thanks for the Memories, dan yang dua itu juga belum dibaca sih, hehehe...

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2

Monday, August 24, 2015

Book Review : The Eternity by Douglas Preston & Lincoln Child

2 comments
Misteri Berusia Ratusan Tahun Kembali Terkuak,
Puluhan Orang Tewas Mengenaskan
Demi Obsesi Keabadian
Untuk Memusnahkan Umat Manusia...

Sinopsis
Manhattan, New York, tahun 1870-1880. 36 pria dan wanita tewas dimutilasi. Mereka dibedah dalam keadaan hidup untuk diambil cauda equina-nya (kumpulan saraf di sumsum tulang belakang) pelakunya adalah seorang ilmuwan eksentrik, Enoch Leng, yang ingin menciptakan ramuan keabadiaan guna melancarkan misinya untuk memusnahkan umat manusia.

Di masa kini, tubuh ke-36 korban tersebut ditemukan disebuah terowongan kuno abad 19 di bawah fondasi sebuah gedung apartemen baru. Selagi penyelidikan dilakukan, serangkaian pembunuhan baru terjadi. Tiga orang ditemukan tewas. Tulang belakang mereka dibedah. Cudia Equina mereka hilang. Modus operandi dan ciri-ciri fisik pembunuh baru ini sama dengan Enoch Leng!

Agen FBI Pandergast dan arkeolog DR. Nora Kelly terlibat aksi kejar-mengejar dengan si pembunuh. Mereka harus segera menyingkap identitas si pembunuh ini, apakah orang yang sama dengan pelaku mutilasi ratusan tahun yang lalu, sebelum banyak orang menjadi korban untuk menyempurnakan ramuan keabadiannya...


Identitas Buku
Judul : The Eternity
Judul Asli : The Cabinet of Curiosities (Pendergast #3)
Penulis : Douglas Preston & Lincoln Child
Penerjemah : Syamsul Wardi
Kategori : Fiksi Ilmiah, Thriller, Horor, Suspense, Misteri, Adventure, Detekrif
Dimensi Buku : 624 halaman, 14x21 cm
ISBN : 9789793972381
Penerbit : Dastan Books
Softcover, Cetakan Pertama, Juli 2008
Harga Beli : Rp. 74.500 (Desember 2009)
Rate : 5/5
Review
Pertama-tama, mari saya kenalkan dahulu dengan para karakter utama dalam buku ini. Ada tiga karakter utama yaitu, Agen Khusus Pendergast, Dr. Nora Kelly dan William Smithback.

Agen khusus Pendergast yang menjadi tokoh utama dari buku ini, digambarkan sebagai seorang agen FBI yang terkenal cerdas dan juga kaya. Dengan penampilan yang selalu rapi, bersih, mewah dan berkelas seperti selalu mengenakan setelan jas mahal, makan di restoran kelas 1 dan menggunakan kendaraan mewah Rolls Royce besar lengkap dengan sopirnya, hal tersebut menjadi gabungan yang kurang umum dari seorang agen FBI.

Dua tokoh lainnya, yaitu Dr. Nora Kelly, digambarkan sebagai seorang ilmuwan cantik, seksi dan pintar. Namun sayangnya ia memiliki riwayat karier yang agak berantakan. Sedangkan William Smitback, Jr adalah kekasih Dr. Nora Kelly, ia berprofesi sebagai seorang reporter New York Times.

Cerita dimulai dengan adanya penemuan tak terduga di suatu area konstruksi bangunan yang dimiliki oleh Moegen-Fairhaven Group. Dari penemuan tersebut, ditemukan sebuah terowongan bawah tanah, dimana didalamnya terdapat tulang belulang tubuh manusia. Penemuan tersebut seharusnya tidak diketahui oleh khalayak umum, bahkan timbul kesan sengaja ditutupi demi kelangsungan proyek pembangunan apartemen milik Moegen-Fairhaven Group tersebut.

Pihak Moegen-Fairhaven Group berhasil mendapat dukungan dari pihak kepolisian untuk menutup penemuan tersebut, namun mereka dikejutkan dengan kemunculan seseorang yang bernama Pendergast, seorang Agen Khusus FBI dari cabang New Orleans. Ia memiliki ketertarikan khusus akan latar belakang kasus itu dan mengusutnya hingga tuntas. Bahkan ia juga melibatkan Dr. Nora Kelly, seorang arkeolog dari Museum Sejarah Alam New York untuk membantu penelitian atas tulang belulang yang ditemukan.

Hasil penelitian Pendergast dan Dr. Nora Kelly beserta timnya menunjukkan bahwa tulang belulang tersebut merupakan peninggalan dari korban pembunuhan sadis dan aneh. Para korban tersebut, yang diketahui berjumlah sebanyak 36 orang, didalamnya ada pria dan juga wanita) menunjukkan bahwa mereka telah dimutilasi dan bagian cauda-equina, yang merupakan kumpulan saraf di sumsum tulang belakang telah diambil melalui pembedahan yang nampak dilakukan oleh ahli yang profesional. Dari hasil penelitian ini diketahui pula bahwa para korban besar kemungkinan berasal dari abad ke-19. Hal ini diketahui dari dari cara jenis pakaian yang masih tersisa disekitaran penemuan tulang belulang tersebut. Namun pengamatan di lokasi hanya dapat dilakukan sebentar, dikarenakan pengaruh kekuasaan Anthony Fairhaven pemilik dan pendiri Moegen-Fairhaven Group yang mampu menekan serta menyingkirkan penyelidikan yang sedang dilakukan oleh Pendergast dan Dr. Nora Kelly.

Tidak hanya sisa-sisa pakaian, Dr. Nora Kelly juga pernah menemukan secarik kertas tua yang dijahitkan di dalam pakaian salah satu korban. Ia sangat tertarik mengambil dan menelitinya. Dibantu oleh kekasihnya William Smitback, Jr, ia berhasil mengambil pakaian yang sempat disembunyikan sebelum ia dan Pendergast diusir dari lokasi. Kertas tersebut bertuliskan : "Saya Mary Gree Ne umur 19 tahun No. 16 Watter Street"

Lagi-lagi, penemuan tersebut sangat mengejutkan Dr. Nora Kelly karena diketahui bahwa tulisan tersebut ditulis menggunakan darah manusia. Ia menduga, bahwa gadis ini merupakan salah satu korban pembunuhan berantai yang telah berlangsung sejak 150 tahun yang lalu.

Pendergast yang dikenal cerdas namun misterius itu ternyata mengetahui suatu fakta. Dari yang ia ketahui, terowongan bawah tanah tempat lokasi ke-36 korban ditemukan, dulunya merupakan terowongan batu bara untuk pemanas ruangan bangunan tiga lantai yang dikenal sebagai Shottum's Cabinet. Pendirinya adalah John Canaday Shottum yang pada tahun 1852 membuka secara resmi J.C. Shottum's Cabinet of Natural Productions & Curiosities yang menampilkan koleksi cabinet of curiosities (koleksi sejarah alam berupa kumpulan artefak-artefak sepanjang abad ke-18 dan ke-19) yang dimiliki oleh Alexander Marysas, pemuda kaya yang memburu dan melakukan ekspedisi ke penjuru dunia sejak tahun 1848 sampai ia meninggal dunia di Madagaskar. Pada tahun 1881, Shottum's Cabinet habis terbakar dan pendirinya, John Canaday Shottum sendiri tewas dalam peristiwa kebakaran itu. Pihak berwajib mencurigai bahwa kebakaran tersebut disengaja, namun hingga kini tidak ditemukan siapa pelakunya. Diduga kuat bahwa ke-36 korban tewas dalam periode waktu tersebut memiliki hubungan erat dengan Shottum's Cabinet, yang kini menyisakan bukti berupa tulang belulang dari para korban.

Penyelidikkan yang dilakukan Nora Kelly dan Pendergast terus mendapat banyak hambatan. Mulai dari Roger Brisbane III, Vice President Museum Sejarah Alam New York, salah satu orang yang tidak disukai Nora karena telah memotong dana bagi penelitiannya, hingga tekanan dari pihak Kepolisian yang menugaskan Sersan Patrick Murphy O'Shaughnessy guna mengawasi dan mengawal Agen Pendergast dalam penyelidikan. Yang tak diduga, bahkan oleh Kapten Custer Kepala Polisi yang memiliki ambisi tinggi adalah Sersan O'Shaughnessy justru bekerja sama dengan Pendergast dan Nora Kelly menyelidiki kasus tersebut.

Tekanan dan hambatan semakin bertambah karena ulah ceroboh Smithback yang tidak mampu menahan rahasia yang pernah diungkapkan oleh kekasihnya, Nora. Smithback memuat berita dengan topik yang menyudutkan Anthony Faihaven atas ditutupinya penemuan korban-korban di area situs konstruksinya. Akibat dari kehebohan berita itu membawa dampak bagi masing-masing pihak. Hingga Nora marah dan kemudian memutuskan hubungannya dengan Smithback, dimana ia terjepit akan rasa penasaran atas penyelidikan yang tengah berjalan, dan resiko kehilangan pekerjaan, apalagi saat Dr. Frederick Watson Collopy Direktur Museum turun tangan memberikan peringatan serta pilihan yang tak dapat ditolak oleh Dr. Nora Kelly demi kelangsungan masa depan karirnya.

Di sisi lain, penyelidikan mulai menunjukan arah yang lebih jelas berkat bantuan Reinhart Puck petugas Arsip Museum, yang memberikan bukti surat-menyurat antara J.C. Shottum dengan Tinburry McFadden (kurator Museum pada abad itu). Diantara isi surat-surat tersebut disinggung tentang seseorang yang bernama Dr. Enoch Leng. Beliau menyewa lantai tiga dari Shottum's Cabinet dan bertugas sebagai kurator sekaligus peneliti arsip bagi Shottum's Cabinet. Namun ditemukan pula surat-surat yang disembunyikan di tempat rahasia dari Shottum kepada McFadden, yang mengindikasikan bahwa Enoch Leng-lah yang bertanggung jawab atas ke-36 korban yang telah ditemukan. Bahkan diketahui bahwa korban-korban pembunuhan Dr. Enoch Leng jauh lebih banyak karena bertahun-tahun ia berusaha menyempurnakan penelitian akan kehidupan lebih lama bagi manusia melalui pengambilan cauda equina manusia lain yang diambil lewat pembedahan saat korban dalam keadaan masih hidup.

Dr. Nora Kelly menjadi sangat ketakutan dan tertekan saat terjadi pembunuhan dimana korbannya ditemukan tewas dengan cauda equina hilang lewat pembedahan yang nampak dilakukan dengan sangat ahli.

Apakah mungkin Dr. Enoch Leng masih hidup setelah sekian ratus tahun dan sekarang memburu korban baru? Ataukah ada "Dr Enoch Leng" yang lain tengah melakukan hal serupa yang seperti yang dilakukanDr. Enoch Leng di masa lalu?

Sementara itu, Pendergast nyaris tewas karena percobaan pembunuhan. Dr. Nora Kelly semakin merasa ketakutan dan khawatir, ia sadar bahwa ada yang juga sedang mengincar nyawanya saat ia juga nyaris tewas setelah menemukan tubuh Reinhart Puck tewas dalam keadaan mengenaskan.

Sedangkan Smithback pun demikian, demi obsesinya untuk mengungkapkan kejahatan yang pernah dilakukan oleh Anthony Fairhaven, berusaha mengorek masa lalu sang penguasa tanpa menyadari nyawanya turut terancam.

Namun tak ada yang menduga akan tindakan Sersan O'Shaughnessy yang diam-diam penasaran dengan percobaan pembunuhan terhadap Pendergast, dan penyelidikannya yang menentang atasannya juga akan membawa nasibnya pada masa depan yang tak terduga.

Korban baru terus berjatuhan, semuanya mengarah pada jejak perbuatan Enoch Leng di masa lalu bahkan benar-benar mirip. Hanya seorang yang mampu merangkai keseluruhan teka-teki yang mengerikan serta menelusuri jejak berusia 150 tahun silam, karena hal tersebut berhubungan dengan masa lalu keluarganya, suatu sejarah kelam yang sengaja disembunyikan, dan orang itu adalah Pendergast.

Pendergast yang saat sedang dalam keadaan terluka parah, harus menempuh jalur yang berbeda demi menuntaskan permasalahan ini, karena si pembunuh semakin lama semakin cepat menyelesaikan daftar nama para korban pilihannya. Korban demi suatu kehidupan baru yang abadi bagi si pembunuh.

Berhasilkah Pendergast menguak misteri pembunuhan sadis yang sudah berlangsung sejak 150 tahun lalu itu?

Kelebihan dan Kekurangan
Secara fisik, jangan ditanya. Saya suka!! Kualitas kertas jilidnya, bagus. Terkesan mewah. Dan meskipun ukuran hurufnya kecil dan agak-agak berdempetan, entah mengapa asyik aja lho bacanya. Tidak membosankan, tidak membuat mata lelah.

Dari segi cerita, dengan menggunakan alur maju-mundur-maju, (maksudnya, secara umum buku ini menggunakan alur maju tapi ada flashbacknya juga saat bercerita tentang Dr. Enoch Leng di tahun 1980 terus cerita berlanjut lagi masa kini) unsur ketegangan merupakan yang utama pada buku ini. Hampir setiap babnya, jujur saja membuat saya tegang dan ketakutan saat membacanya, apalagi jika sudah berhubungan dengan si pembunuh, ditambah dengan penjabaran yang sangat detail, saya merasa bisa membayangkan dengan jelas tentang taman New York, Museum, kantor polisi, dan terowongan tempat belulang itu di temukan.

Selain diajak menelusuri pembunuhan berantai dari sejak tahun 150 yang lalu, yang penuh misteri, dan hiburan karena tempat-tempat yang menjadi setting cerita dituliskan dengan detail jadi merasa dapat bonus jalan-jalan di New York, dari buku ini saya juga jadi belajar banyak ilmu biologi, kedokteran, obat-obatan dan hal-hal ilmiah lainnya. Pokoknya buku ini keren.

Hasil karya duet antara Douglas Preston dan Lincoln membuat buku ini benar-benar memiliki gaya penulisan yang sangat berbeda dengan penulis-penulis lain di genre yang sama yang pernah saya baca. Menggunakan bahasa EYD dengan benar, menjadikan hasil terjemahanannya sangat enak dibaca.

Kekuranganya.... cuma dua. Pertama, tidak ada penjelasan apa maksud sesungguhnya dari upaya keabadian yang dibuat oleh Dr. Enoch Leng. Kedua, ternyata buku yang berjudul asli The Cabinet of Curiosities ini merupakan buku ketiga dari lima buku seri Pendergast,


Iya betul, saya kekurangan buku-buku lainya!!!

Review ini diikutsertakan dalam Tantangan Baca Ulas 2015 Season 2