Sunday, March 29, 2015

Want To Sell : New Moon (The Twilight Saga Book #2)

4 comments
Hai Haaaii.... Attention, please!!! I want to sell this book :

Want To Sell a.k.a Dijual :
New Moon (The Twilight Saga Book #2)
Rp. 35.000 (free ongkir untuk seluruh Indonesia, aku baik kaaan... ^_^)
dikirim dari Sumedang, Jawa Barat

Kondisi :
Bekas, Ada bercak-bercak kuning di beberapa halaman karena kelamaan disimpan, Ada nama dan tandatangan saya ^_^
95% Mulus dan Sudah disampul.
Oh iyaa, bonus poster exclusive nya juga masih ada lho,

Ada bekas lipatan-lipatan ya...
dari sejak awalnya, kondisi posternya memang sudah begitu :)

Kenapa dijual...?
Karena saya baru nyadar, setelah diperhatikan, kok cover buku yang ini gak matching ya sama saudara-saudaranya, hehe...
Jadinya, koleksi seri ini gak terlihat cantik ^_^

Wait, dijual karena covernyanya gak matching??,
sungguh alasan yang sangat absurd sekali ya >_<

Nah, maka dari itu... saya pengen banget New Moon yang edisi cover lama, yang warnanya biru. Yang ini niih :



Eh atau mau barter? Boleh banget.
Serius minat beli ataupun barter, silahkan hubungi saya melalui Whatsapp yaa di 081222543018

Terima kasiiih :))

Update
Alhamdulillah, si buku ini akhirnya udah punya adopter, kak Vy, gadis cantik dan baik hati ^_^

Friday, March 27, 2015

Book Review : Anak Bukan Kertas Kosong by Bukik Setiawan

2 comments
Assalamualaikum...

Anak ibarat kertas putih, kosong tanpa noda. Lalu orang tuanyalah yang memberikan coretan, gambar dan tulisan. Coretan, gambar dan   tulisan seperti apa yang dibubuhkan oleh orangtua, kemungkinan besar begitu pulalah anak di kemudian hari. Begitulah yang mungkin selama ini dipahami dan diyakini oleh orang tua pada umumnya. Namun pada kenyataannya, seorang anak tidaklah bisa diibaratkan sebagai kertas yang masih putih bersih menunggu coretan, gambar dan tulisan dari orang tuanya. Karena setiap anak adalah istimewa. Setiap anak sudah mempunyai potensi yang siap untuk dikembangkan dari sejak mereka lahir ke dunia. Tugas orangtua adalah membantu memaksimalkan atau menumbuhkembangkan potensi yang ada, bukan memasukkan pengetahuan sebanyak-banyaknya di benak mereka sekehendak orangtua.


Identitas Buku
Judul : Anak Bukan Kertas Kosong
Penulis : Bukik Setiawan
Jumlah Halaman : xxx+250
Ukuran Buku : 14x21 cm
ISBN : 979-780-782-2
Penerbit : Pandamedia
Pertama Kali Terbit : Februari 2015

Bapak Bukik Setiawan, yang merupakan penulis dari buku Anak Bukan Kertas Kosong ini adalah salah satu orang yang memilki ketertarikan dan kepedulian yang kuat terhadap dunia pendidikan. Namun, kemudian muncul keraguannya terhadap sistem pendidikan di negara kita tercinta ini, sehingga menimbulkan pula kegelisahan tentang pendidikan dan masa depan putrinya. Penulis akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari terkait sistem pendidikan yakni melalui gagasan-gagasan dan praktek pendidikan dari sang pelopor pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara.

Ada tiga pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang kemudian menjadi dasar bagi penulis, untuk menulis buku ini. Ketiga pemikiran tersebut adalah :
  1. Setiap anak itu istimewa
    Anak bukanlah kertas kosong. Anak mempunyai kodratnya sendiri yang tidak bisa diubah oleh pendidik. Pendidik hanya bisa mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut.

    “Hidup dan tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri." (Ki Hadjar Dewantara - Pendidikan, halaman 21)

  2. Belajar bukanlah proses memasukkan pengetahuan ke diri anak. 
    Belajar adalah membentuk pengetahuan, mengonstruksi pemahaman.
    Belajar bukan menanamkan pengetahuan, tetapi menumbuhkan potensi anak. Pendidik tidak bisa mengubah kodrat anak, pendidik hanya mengarahkan tumbuhnya kodrat tersebut.

    "...Kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu dipelopori atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri." (Ki Hadjar Dewantara - Peringatan Taman Siswa 30 Tahun, 1922-1952)

  3. Pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak.
    Keluarga adalah pusat pendidikan. Orangtua mungkin bisa mendelegasikan pengajaran pada kaum ahli, tetapi pendidikan anak tetaplah menjadi tanggung jawab orangtua. Peran orangtua tidak tergantikan oleh sekolah, lembaga pendidikan, ataupun lembaga bakat.

    “Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas.” (Ki Hadjar Dewantara - Pendidikan, halaman 382)

Ketiga pemikiran Ki Hadjar Dewantara itulah yang mewarnai sekaligus menjadi dasar buku ini. Anak bukan kertas kosong, melainkan benih kehidupan yang utuh.

Melalui buku ini, Pak Bukik mengajak para pembacanya, untuk meluruskan dan membenahi kembali pendidikan, khususnya pendidikan untuk anak, demi terlahirnya generasi-generasi yang lebih baik, agar mereka menjadi orang yang layak dan berguna bagi orang lain kelak serta siap menghadapi setiap tantangan perubahan zaman.

Tidak hanya bagi mereka yang sudah berstatus sebagai orang tua, ataupun calon orang tua, dan pendidik, namun bagi siapapun yang peduli terhadap pendidikan, saya sangat merekomendasikan untuk membaca buku ini.


Buku ini terdiri dari 10 bab, dengan dilengkapi lampiran latihan bagi orang tua untuk menumbuhkan bakat anak. Selain itu dilengkapi pula dengan panduan bagi orangtua untuk menstimulasi anak untuk gemar belajar.

Menurut saya, kekurangan dari buku ini adalah adanya variasi font dan penggunaan warna merah dan merah muda dalam buku ini, yang mungkin dimaksudkan bagus untuk membantu pembaca menandai point-point penting, namun malah membuat mata lelah dan pusing membacanya. Selain itu, penjabaran pada point-point tertentu saya rasa terlalu panjang lebar yang sebenarnya bisa dibuat lebih singkat dan fokus. Pada beberapa bagian juga saya menemukan adanya bahasan yang diulang-ulang, sehingga membuat agak sedikit bosan membacanya. Namun secara keseluruhan saya sangat menyukai buku ini.

Dan meskipun belum ada bukti nyata, saya juga sangat tertarik dan peduli dengan pendidikan dan perkembangannya. Kadang sering juga saya sedih memikirkan anak-anak kecil di pelosok-pelosok daerah yang sarana dan prasarana pendidikannya saja sangat terbatas bahkan tidak ada. Padahal, pendidikan adalah hak dasar anak yang wajib untuk dipenuhi. Sanggupkah mereka menghadapi perubahan dan perkembangan zaman yang kian hari kian ekstrem...

Saya belum mempunyai anak, karena memang belum menikah ^_^ tapi..... senang sekali bisa membaca buku ini, menambah wawasan dan pengetahuan. Insyaa Allah semoga bisa menjadi bekal di kemudian hari untuk mendidik dan mendampingi anak-anak saya :)

Terakhir, terima kasih, Pak Bukik... untuk kiriman bukunya. Maaf, mengerjakan "PR"-nya lama... :))

Wassalamualaikum... Wr. Wb.

Saturday, March 21, 2015

Craft Tutorial : How to Make a "Tiga Hati" Bookmark

3 comments
Assalamualaikum...

Masih ingat 3R, yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle...?

Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Penerapan 3R ini juga dapat dilakukan oleh setiap orang dalam kegiatan sehari-hari. Dan salah satu diantaranya adalah seperti yang telah saya praktekkan, yaitu membuat bookmark atau pembatas buku dari benda-benda bekas.

Beberapa waktu yang lalu, saya membuat sebuah bookmark yang saya namai : 

"Tiga Hati" Bookmark


Mengapa dinamai "Tiga Hati"? Meskipun dibuat dari benda-benda bekas seadanya dan nampak sederhana, ini bukan sembarang bookmark. Karena bookmark ini memiliki filosofi tersendiri. Penasaran apa makna filosofinya? Akan saya jelaskan, sekarang yang akan saya jelaskan terlebih dahulu adalah bagaimana cara membuatnya.



1. Seperti yang terlihat pada gambar diatas, benda-benda yang dibutuhkan untuk membuatnya adalah :
- Kertas aluminimum foil bekas pembungkus makanan
- Papan bekas SIM card
- Seal tape bening yang besar
- Double tape
- Gunting


2. Lilit papan bekas SIM Card dengan menggunakan seal tape besar tadi. Ini dimaksudkan untuk menutupi bagian bekas letak SIM Card supaya permukaannya menjadi rata.

3. Sesudah dililit dengan seal tape, bungkus papan bekas SIM Card tersebut dengan kertas aluminimum foil bekas.

Setelah selesai ketiga langkah diatas, perhatikan gambar berikut :


4. Tampak bagian depan papan bekas SIM Card yang telah dibungkus kertas aluminium foil.

5. Tampak bagian belakang papan bekas SIM Card yang telah dibungkus kertas aluminium foil.

6. Buat ornamen atau gambar tiga bentuk hati. Oh iya, aku lupa tidak mengikutsertakan kertas dan pensil/spidol pada gambar sebelumnya >_<. Kamu bisa menggunakan kertas bekas yang masih memiliki sisi atau bagian yang masih bersih. Supaya matching dengan warna perak, beri warna ornamen bentuk hati tersebut dengan warna pink. Pink is my favorite color ^_^
Setelah itu, gunting ketiga bentuk hati tersebut dan tempelkan pada bagian yang tadi saya sebut sebagai bagian belakang papan SIM Card yang telah dibungkus kertas aluminium foil.

Sehingga hasilnya seperti ini :

Cara membuatnya so simple dan hasilnya cantik kaaan.....? ^_^
Seperti yang saya sampaikan diatas, bahwa bookmark yang saya buat ini mengandung sebuah makna filosofi. 

Pertama dari bentuknya. Mengapa saya memilih simbol hati, karena simbol hati adalah simbol yang sejak lama digunakan untuk menunjukkan spiritualitas, emosi, moral, dan pada masa lalu, juga sebagai pusat kecerdasan manusia.

Kedua dari jumlahnya. Terdiri dari tiga bentuk hati. Mengapa tiga? Seperti yang kita ketahui bahwa setiap ibadah yang diperintahkan Allah adalah untuk meningkatkan hubungan vertikal dan horizontal secara seimbang. Hubungan vertikal yaitu hubungan kita kepada Allah (Hablumminallah), sedangkan hubungan horizontal adalah hubungan kita kepada sesama makhluk Allah (Hablumminannas).

Itulah yang menjadi alasan saya mengapa memilih tiga bentuk hati. Yang mana bentuk hati pertama sebagai penggambaran cinta dan hubungan yang baik kita, sebagai makhluk kepada sang Khalik-nya, Allah SWT (Hablumminallah). Dan bentuk hati kedua sebagai penggambaran sekaligus reminder juga agar selalu ingat tentang cinta dan hubungan yang baik antara kita dengan sesama makhluk Allah SWT (Hablumminannas). Sedangkan bentuk hati ketiga, saya jadikan sebagai ilustrasi cinta saya kepada benda yang bernama Buku. Karena salah satu kenikmatan tak ternilai dari Allah SWT kepada kita adalah kenikmatan membaca.

Jadi intinya adalah sekalipun kita sangat gemar membaca jangan sampai mengulur-ulur apalagi sampai melupakan waktu beribadah. Setelah selesai membaca beberapa buku seri, ingatlah, sudah berapa juz pula yang dibaca?. Selain itu, membaca buku seharian dirumah terutama dikamar memang sangat menyenangkan, namun jangan sampai lupa untuk berkomunikasi dengan orang-orang disekitar. Ini sih selfreminder banget, hehehe...

Nah, jadi... selain turut serta dalam program 3R tadi, bookmark sederhana nan cantik ini juga memiliki makna filosofi yang sangat dalam bukan...? ^_^

Tertarik untuk membuatnya? Selamat mencoba.

Wassalamualaikum... Wr. Wb.

Book Review : 1984 by George Orwell

2 comments
Assalamualaikum...

Hai, saya baru saja selesai membaca 1984 (Nineteen Eighty-Four), salah satu buku yang merupakan karya dari penulis kelahiran India, George Orwell.

Pernahkah terbayangkan jika Anda tidak bisa melakukan apa yang Anda suka? Yang ada, setiap gerak-gerik dan ucapan Anda, diawasi oleh suatu pihak? Dan jika Anda melakukan sesuatu yang menurut mereka keliru, Anda akan dilenyapkan, entah itu dibunuh ataupun diasingkan untuk melakukan kerja paksa. Anda hanya boleh melakukan, bahkan hanya boleh memikirkan apa yang menurut pihak tersebut perbolehkan. Sungguh akan sangat membuat kita tidak bebas dan sangat menjemukan. Keadaan seperti itulah yang terjadi di masa hidup Winston Smith pada tahun 1984.

Sinopsis
Sepanjang hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi setiap aturan Partai meski jauh di dalam hati dan pikirannya bersemayam antipati terhadapa kediktatoran yang ada di negaranya. Walaupun begitu, Winston tidak berani melakukan perlawanan secara terbuka.

Tidak mengherankan, karena Polisi Pikiran, teleskrin, dan mikrofon tersembunyi membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan, sejarah ditulis ulang sesuai kehendak Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.

1984 merupakan satire tajam, menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian masa depan yang di dalamnya setiap gera warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalika. Hingga kini, 1984 merupakan karya penting Orwell yang mengantarkannya ke puncak kemasyhuran.

Identitas Buku 
Judul : 1984
Judul Asli : Nineteen Eighty-Four
Penulis : George Orwell
Genre : Fiksi, Dystopia, Dewasa
Bahasa : Indonesia
Jumlah Halaman : 390
Penerjemah : Landung Simatupang
Penerbit : Bentang (PT Bentang Pustaka)
ISBN : 978-602-291-003-9
Ukuran Buku : 20,5 x 14 cm
Terbit pertama kali di Indonesia : Desember 2003

Review
Cerita diawali dengan penggambaran suasana kehidupan di tahun 1984, dimana pada masa itu, dunia terbagi menjadi 3 negara besar, yaitu Oceania, Eurasia, dan Eastasia. 

Dan kehidupan Winston Smith yang merupakan seorang anggota Partai yang berkuasa di Oceania pada masa itu hanyalah kehidupan yang amatlah jauh dari kebebasan beraktivitas, berkarya, berekspresi dan bahkan kebebasan berpikir. Karena pada masa itu hampir segala sesuatu yang menyangkut aktivitas warga diawasi oleh sebuah alat yang disebut teleskrin, yang ada di setiap kamar dan tempat-tempat umum Selain itu, poster besar ada dimana-mana, poster berupa gambar Bung Besar (Big Brother), dengan tulisan : "Bung Besar Mengawasi Saudara". Bung Besar ini adalah sosok yang dianggap sebagai pimpinan partai.

Tidak cukup setiap gerak warga diawasi, setiap kata yang terucap disadap dan setiap pemikiran dikendalikan, bahkan pernikahan seseorangpun diatur Partai, termasuk naluri seks. Sepasang suami istri diharuskan mampu melahirkan generasi baru demi lahirnya calon-calon generasi yang kemudian akan tunduk dan patuh terhadap setiap aturan Partai di masa mendatang. Jika sepasang suami istri tidak kunjung memiliki anak, maka mereka wajib bercerai.

Intinya, segala sesuatu yang dilakukan warga harus sesuai dengan aturan Partai. Misalnya saja, jika dua tambah dua sama dengan empat, namun seandainya Partai meminta jawaban lima, maka warga harus menjawab bahwa dua tambah dua sama dengan lima.

Jika nampak sedikit saja perasaan tidak suka, tidak terima, tidak tunduk dan patuhnya seseorang terhadap aturan Partai, maka dipastikan seseorang tersebut akan ditangkap oleh Polisi Pikiran sebagai pelaku Kejahatan Pikiran. Polisi pikiran memang bertugas menangkap para penjahat pikiran, dan yang dimaksud dengan kejahatan pikiran adalah segala bentuk tingkah laku dan ungkapan perasaan serta pikiran yang dianggap sebagai pikiran negatif terhadap Bung Besar. Karena semua iitu dianggap sebagai bibit pemberontakan dari warga dan Partai tentu tidak menginginkan hal tersebut. 

Winston Smith, sang tokoh utama dalam buku ini, merupakan salah satu pekerja di Departemen Catatan, yang bertugas melakukan peninjauan terhadap media sesuai perintah Bung Besar. Maksudnya, jika ada berita atau ucapan tokoh-tokoh tertentu di masa lampau yang tidak sesuai dengan kenyataan masa kini, pernyataan itu akan ditarik, direvis, bahkan bisa saja dihapus dan kemudian akan diterbitkan ulang agar tepat sesuai kenyataan. Intinya, Winston bekerja untuk mengubah fakta sejarah. Termasuk usaha pembuatan bahasa baru, Newspeak, sebagai bahasa yang mendukung totalitarianisme partai, dimana bahasa tersebut merupakan perwujudan revisi bahasa lama, Oldspeak dengan menghilangkan kata-kata yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk pemberontakan.

Kebenaran diubah menjadi ketidakbenaran. 
Ketidakbenaran diubah menjadi kebenaran. 
Apa yang kamu ketahui saat ini, belum tentu yang sebenarnya.
Apa yang kamu ketahui saat ini, bisa jadi bukanlah kebenaran yang sebenarnya.

Hidup dalam suasana kehidupan dimana diktatorisme partai menguasai kehidupan rakyatnya, sebagai tipe orang yang tidak begitu saja bisa menerima setiap aturan yang telah ditetapkan Partai, memunculkan semangat pemberontakan dihati Winston. Ia menginginkan kebebasan. Tentu tak hanya kebebasan untuk dirinya sendiri tapi juga kebebasan untuk semua orang. Ia kemudian mencari tahu tentang kondisi masa lalu dimana Partai belum berkuasa. Membaca buku dan menuliskan apa yang ia rasakan dan pikirkan. Perlu diketahui, pada masa itu membeli dan membaca buku bagi warga dan pekerja biasa adalah tindakan terlarang, termasuk juga menulis buku harian. 

Namun pada kenyataannya, Winston tidak pernah berani melakukan pemberontakan itu. Hingga suatu ketika, tanpa pernah diduga sebelumnya, Winston mendapat pernyataan cinta yang unik dari seorang perempuan yang juga merupakan anggota Partai, bernama Julia yang latar belakangnya, cukup membuat Winston tercengang. Winston kemudian terlibat hubungan dengan perempuan itu. 

Dengan Julia, Winston menemukan banyak kecocokan dalam cara berpikir. Winstonpun membayangkan bahwa hubungannya dengan Julia akan menjadi kekuatan untuk bisa terbebas dari kediktatoran Partai.

Semakin senang hati Winston, ketika ia didekati oleh O'Brien yang menurut Winston adalah seorang anggota persaudaraan. Sebuah organisasi bayangan Winston yang merupakan organisasi bawah tanah yang bertujuan untuk memberontak kekuasaan Bung Besar.

Namun, tak pernah disangka Winston sebelumnya, justru hubungannya dengan Julia membawa Winston pada bahaya yang tak pernah ia duga dan ia pikirkan sebelumnya.

Apa yang kemudian terjadi kepada Winston? Apakah Winston berhasil mewujudkna cita-citanya membebaskan segala bentuk kediktatoran Partai demi terwujudnya kehidupan yang lebih baik....?

PERANG IALAH DAMAI. 
KEBEBASAN IALAH PERBUDAKAN. KEBODOHAN IALAH KEKUATAN.

Awal-awal membaca buku ini, jujur saja... membosankan.
Namun semakin banyak halaman yang saya baca, sedikit demi sedikit mulai menikmati jalan ceritanya. Saya menyukai ide dystopia yang dikemas penulis dengan sangat apik. Terutama ide mengenai Newspeak dan Oldspeak, menurut saya, ini sangat briliant.

Seperti yang tertulis pada halaman Pengantar buku ini, :
"... karya yang merupakan semacam impian "futuristik" buram ini, yang terbit pada 1949 dan diberi tajuk yang mengacu pada keadaan kehidupan pada 1984, konon sempat pula diserap sebagai ramalan. - Sekarang semua itu sudah lewat. sementara orang bertanya-tanya, apakah novel ini masik akan mampu bertahan di rak buku?"
Dan jawaban saya adalah ya. Buku ini layak untuk dibaca dan dikoleksi. Terlebih buku ini masuk dalam berbagai kategori buku terbaik, diantaranya : 1001 Books You Must Read Before You Die dan The Top 100 Big Read

Alasan mengapa saya tidak memberi 5/5 bintang untuk buku ini adalah gaya penceritaannya, menurut saya agak bertele-tele.... selain itu adanya ide mengenai seks bebas yang seolah-olah sah untuk dilakukan. Memang benar, bahwa yang bernama Kebebasan itu dibutuhkan, namun... menurut saya, bukan berarti bahwa hubungan seks juga bisa dilakukan secara bebas tanpa adanya ikatan pernikahan.

Meskipun saya yakin, buku 1984 yang saya baca, yang diterbikan oleh Penerbit Bentang ini telah banyak mensensor adegan-adegan vulgarnya. :)

Jadi, 3/5 bintang saja untuk 1984.

Wassalamualaikum... Wr. Wb.

Wednesday, March 11, 2015

Book Review : Prada and Prejudice by Mandy Hubbard

10 comments
Assalamualaikum...

Sebagai seseorang yang sangat menggemari buku-buku karya Jane Austen, dan setelah mengetahui ada banyak buku-buku parodi dari karya-karya Jane Austen dan buku-buku Austen-inspired, saya merasa tertarik juga untuk membaca buku-buku tersebut. Salah satunya adalah Prada and Prejudice yang merupakan satu dari sekian banyak kisah yang ditulis oleh seorang penulis bernama Mandy Hubbard, karena terinspirasi oleh kisah karya Jane Austen, Pride and Prejudice.

Sinopsis 
Sepasang sepatu bagus akan membawamu ke tempat yang tak pernah kaupikirkan sebelumnya!

Callie percaya bahwa sepasang sepatu Prada akan menjadi kuncinya untuk menaklukkan London. Hanya dengan sepatu itu, keadaan akan berbalik. Dia akan menjadi populer dan teman-temannya akan mengaguminya. Dan siapa bilang mengubah keadaan tidak semudah membalikkan telapak tangan? Callie sudah membuktikannya. Gara-gara tersandung saat memakai sepatu barunya, dia terlempar ke tahun 1815!

Untunglah ada Emily, yang menerimanya dengan penuh keramahan. Tetapi, dia juga harus menghadapi Alex, sang Duke muda yang tampan namun pongah dan menyebalkan. Di tengah kekalutannya di dunia yang sama sekali asing baginya, Callie harus menyelamatkan Emily dari perjodohan paksa, juga melawan Alex yang sepertinya sangat membencinya.

Mampukah Callie melakukan tugasnya? Akankah dia berhasil kembali ke abad ini? Pakai sepatumu yang paling bagus dan ikutlah bertualang bersama Callie ke tempat yang tidak pernah kaupikirkan sebelumnya!

Identitas Buku
Judul : Prada and Prejudice
Penulis : Mandy Hubbard
Genre : Fiksi
Bahasa : Indonesia
Jumlah Halaman : 306
Penerjemah : Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit : Atria
ISBN : 978-979-1411-95-0
Ukuran Buku : 20,5 x 13 cm
Terbit pertama kali di Indonesia : Juli 2010

Review
Dalam buku ini, cerita diawali dengan perjalanan studi tour Callie Montgomery ke London. Sebagai seorang siswi yang tidak populer di sekolahnya, sesampainya di London Callie merasa sedih dan kesepian. Karena sebelum studi tour dimulai hampir semua siswa-siswi yang mengikuti studi tour tersebut, berjalan-jalan menikmati indahnya kota London. Namun, tidak ada yang mengajaknya untuk ikut serta bersenang-senang. Akibatnya, gadis malang berusia 16 tahun ini hanya duduk-duduk saja di kafe hotel. Dalam situasi seperti itu, Callie sangat menyesalkan kepindahan sekolah satu-satunya sahabat yang dulu selalu menemaninya. Terpikirkan oleh Callie untuk mencoba bergabung saja dengan kelompok populer A-List. Dan menurut pemikiran Callie, untuk bisa diterima anak-anak kelompok A-List, ia membutuhkan barang-barang bermerk. Salah satunya adalah sepatu. Sepasang sepatu bermerk Prada.

Callie memutuskan untuk beranjak dari kafe dan mencari toko yang menjual sepatu merk Prada. Ketika Callie sampai di sebuah toko dan menemukan sepatu yang ia inginkan, tanpa berpikir panjang Callie membayarnya dengan menggunakan Credit Card yang diberikan ibunya sebelum ia pergi ke London.

Merasa sangat senang bisa mendapatkan sepatu yang ia inginkan, Callie langsung memakainya dan keluar dari toko tersebut. Benar saja, seperti yang ia pikirkan sebelumnya, bahwa sesungguhnya memakai sepatu berhak tinggi tidaklah nyaman. Ketika Callie terus berusaha membiasakan berjalan menggunakan sepatu barunya, tiba-tiba ia tersandung, jatuh dan kepalanya menghantam trotoar. Callie pun tak sadarkan diri.

Saat Callie tersadar, ia merasa kaget dan sedikit ketakutan. Karena kini, ia berada di suatu tempat yang ia yakini tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Suatu tempat dengan keadaan deretan pepohonan dimana-mana, dan kini ia tengah berada diatas tanah yang agak becek. Keheranannya bertambah ketika terdengar suara yang semakin lama semakin terdengar jelas. Suara tersebut berasal dari roda-roda kereta kuda yang kini melewatinya. Tak hanya sampai disitu, Callie melihat orang-orang berlalu lalang dengan pakaian yang menurutnya adalah pakaian yang telah kuno. Namun, Callie tidak mempedulikan keadaan disekitarnya itu. Ia berusaha bangkit, berjalan untuk sesegera mungkin beranjak dari tempat itu dan mencari pusat kota London, tempat seharusnya dia berada. Karena Callie sangat yakin, bahwa sebelum pingsan dirinya masih berjalan-jalan di sekitar pusat kota London dengan deretan gedung-gedung tinggi dan area pertokoan modern yang ramai.

Malam pun hampir tiba, Callie merasa semakin khawatir karena ia kini yakin bahwa dirinya kini tengah tersesat. Setelah banyak berpapasan dengan orang-orang dan setelah memperhatikan keadaan dan bangunan-bangunan ditempat yang menurutnya aneh itu, sedikit demi sedikit Callie menerima kenyataan bahwa kini ia sudah tidak lagi berada di London pada abad 21. Menurut informasi yang ia dapat, saat ini ia berada di tahun 1815.

Ditengah rasa sedih, takut dan khawatir, Callie menemukan sebuah kastil. Ketika mendekati rumah tersebut hendak meminta izin untuk menginap, Callie justru disambut hangat dan ramah oleh seorang gadis bangsawan yang mengaku sangat bahagia dengan kedatangannya. Gadis ramah dan baik hati itupun segera mengajak Callie masuk ke rumah. Callie bingung, karena Emily terus-terusan menyebutnya sebagai Rebecca. Yaph, Emily mengira bahwa Callie adalah sahabatnya yang bernama Rebecca yang berasal dari Amerika. Sahabat yang sebelumnya belum pernah bertatap muka dengannya. 

Kemudian tak hanya Emily yang menyambut dan menganggapnya sebagai Rebecca, namun juga Victoria, bibi dari Emily dan Alex, sang Duke muda yang merupakan sepupu Emily dan sekaligus pemilik kastil tersebut.

Callie yang semakin kebingungan, khawatir dan tidak tahu pula bagaimana harus menjalani hidup selama ia belum bisa kembali ke masanya, kemudian berniat untuk mengaku berpura-pura sebagai Rebecca, sahabat Emily dari Amerika.

Ditengah rasa kalutnya harus hidup di tahun 1815 dengan segala peraturannya dan etiket yang menurutnya sangat mengekangnya, termasuk kewajiban untuk mengenakan korset bagi seorang perempuan demi kesempurnaan penampilan. Sungguh, itu hal yang amat tidak ia sukai. Tidak hanya sampai disitu, Callie dituntut Emily untuk bisa menyelamatkannya dari perjodohan yang tak pernah Emily inginkan.

Getar-getar cinta kepada Alex pun mulai tumbuh di hati Callie. Namun, Alex hanya selalu menampakan sikap dinginnya dan entah mengapa Callie merasa, bahwa Alex justru membencinya.

Berhasilkah usaha Callie untuk mencegah perjodohan Emily dengan laki-laki tua yang tidak dicintai Emily?
Bagaimana dengan Alex, sang Duke muda tampan, apakah benar ia membenci Callie seperti yang Callie yakini? ataukah hanya praduga (Prejudice) Callie saja bahwa Alex tidak pernah menyukainya?
Dan berhasilkah Callie kembali ke abad 21?

Kelebihan, Kekurangan dan Rating untuk Prada and Prejudice
Dengan latar tempat dan kehidupan bangsawan Inggris pada tahun 1800an, cerita dan penokohan yang menarik, alur yang tak terduga dan unsur humor yang cukup kental (terlebih memang saya juga penyuka buku-buku bergenre komedi) dan terjemahan yang enak dibaca, saya sangat menyukai buku ini.

Dan dengan desain cover yang cantik, yang setelah saya bandingkan dengan cover-cover edisi lainnya di beberapa negara, menurut saya desain cover terbitan dari Penerbit Atria ini, desainnya memang lebih oke. 


Bagi saya, cerita dari buku ini mengingatkan kembali, bahwa mengeluh bukanlah suatu penyelesaian. Berusaha dan bekerja keraslah untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Kekayaan, gelar, dan popularitas bukanlah segalanya. Dan jangan lupa untuk selalu berpikir positif dan percaya diri.

Meski dibuat kecewa dengan ending yang menggantung, sekali lagi, saya sangat menyukai buku ini. Terakhir, saya persembahkan 4/5 bintang untuk Prada and Prejudice.

Wassalamualaikum... Wr. Wb.

4 Gerhana di Tahun 2015

10 comments
Assalamualaikum...

Pada tahun 2015 ini akan terjadi 4 gerhana, yaitu 2 (dua) kali gerhana Matahari dan 2 kali gerhana Bulan.

Dari situs Stasiun Meteorologi Perak, informasi selengkapnya :

1. Gerhana Matahari Total
Gerhana Matahari Total terjadi pada tanggal 20 Maret 2015. Gerhana tersebut tidak dapat dilihat dari wilayah Indonesia. 

Gerhana dapat dilihat di Asia Barat bagian Utara, Eropa, Afrika Utara dan Samudra Atlantik bagian Timur Laut. Proses global fase Gerhana Matahari Total adalah sebagai berikut :


2. Gerhana Bulan Total
Gerhana Bulan Total terjadi pada tanggal 4 April 2015. Gerhana tersebut dapat dilihat dari wilayah Indonesia. 

Gerhana dapat dilihat di Amerika, Samudra Pasifik, Australia, Asia kecuali Asia Barat, dan sebagian kecil Afrika Timur. Proses global fase Gerhana Bulan Total adalah sebagai berikut :
  • Gerhana mulai (P1)  : 08 59.6 UT atau 15.59.6 WIB.
  • Gerhana Sebagian mulai (U1) : 10 15.4 UT atau 17 15.4 WIB
  • Gerhana Total mulai (U2)  : 11 54.1 UT atau 18.54.1 WIB.
  • Puncak Gerhana  : 12 00.2 UT atau 19.00.2 WIB.
  • Gerhana Total berakhir (U3)  : 12 06.3 UT atau 19 06.3 WIB.
  • Gerhana Sebagian berakhir (U4)  : 13 45.1 UT atau 20 45.1 WIB.
  • Gerhana berakhir (P4)  : 15 00.8 UT atau 22 00.8 WIB.

3. Gerhana Matahari Sebagian
Gerhana Matahari Sebagian terjadi pada tanggal 13 September 2015. Gerhana tersebut tidak dapat dilihat dari wilayah Indonesia. 

Gerhana dapat dilihat di Antartika, Perbatasan Samudra Atlantik dan Hindia, dan Afrika bagian Selatan. Proses global fase Gerhana Matahari Sebagian adalah sebagai berikut :


4. Gerhana Bulan Total
Gerhana Bulan Total terjadi pada tanggal 28 September 2015. Gerhana tersebut tidak dapat dilihat dari wilayah Indonesia. 

Gerhana dapat dilihat di Asia bagian Barat, Samudra Hindia bagian Barat, Afrika, Eropa, Samudra Atlantik, Amerika dan Samudra Pasifik bagian Timur. Proses global fase Gerhana Bulan Total adalah sebagai berikut :
  • Gerhana mulai (P1)  : 00 10.3 UT atau 07.10.3 WIB.
  • Gerhana Sebagian mulai (U1)  : 01 06.8 UT atau 08 06.8 WIB.
  • Gerhana Total mulai (U2)  : 02 10.7 UT atau 09 10.7 WIB.
  • Puncak Gerhana  : 02 47.1 UT atau 09 47.1 WIB.
  • Gerhana Total berakhir (U3)  :03 23.5 UT atau 10 23.5 WIB.
  • Gerhana Sebagian berakhir (U4)  : 04 27.4 UT atau 11 27.4 WIB.
  • Gerhana berakhir (P4)  : 05 24.0 UT atau 12 24.0 WIB.
Nah, dari 4 peristiwa gerhana yang telah dipeerhitungkan akan terjadi pada tahun 2015, dari wilayah Indonesia, kita hanya akan dapat menyaksikan 1 peristiwa gerhana saja, yaitu gerhana Bulan total yang akan terjadi pada 4 April 2015.

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum... Wr. Wb. 

Tuesday, March 3, 2015

Book Review : Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra by Prof. Dr. Ahmad Tafsir

3 comments
Assalamualaikum...

Banyak orang yang menganggap filsafat itu sukar. Buku-bukunya pun sukar dibaca, dan lebih sukar lagi untuk dimengerti. Apalagi jika mereka membacanya karena “diwajibkan”. Misalnya karena filsafat merupakan mata kuliah wajib, bukan karena berminat.

Benarkah buku-buku (teks) filsafat sukar dimengerti? Banyak benarnya, memang terutama karena bahasanya biasanya berfilsafat juga, yaitu berbelit-belit. Mungkin pengarangnya merasa tidak “afdol” jika bahasanya gamblang, kalimat-kalimat sederhana, tidak beranak kalimat dan “bercucu” kalimat. Takut dianggap tidak ilmiah?

Dalam hal itu, jelas buku ini berbeda. Ternyata masalah yang dianggap rumit itu bisa “dibongkar” dengan bahasa yang mudah dipahami, dengan kalimat-kalimat yang pendek-banyak yang jumlah katanya kurang dari sepuluh!


Jadi, cocok benar jika buku ini ditujukan kepada pemula. Artinya, kepada mereka yang baru belajar filsafat. Juga cocok bagi siapa saja yang ingin tahu filsafat secara umum.

Buku ini berisi pertarungan antara “golongan akal” dan “golongan (suara) hati”. Tentu saja dilengkapi dengan tokoh-tokohnya sejak orang yang dianggap sebagai filosof pertama. Juga latar belakang yang mendasari filsafat mereka. Ketika golongan akal menang, manusia kacau. Ketika golongan (suara) hati menang, manusia bingung. Jadi, harus bagaimana?

Penulis buku ini, Prof. Dr. Ahmad Tafsir, dosen filsafat di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan beberapa perguruan tinggi swasta, turut menyumbangkan komentarnya. Hal itu memudahkan lagi pemahaman buku ini.

Identitas Buku
Judul
Filsafat Umum – Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra
(Edisi Revisi - Cetakan ke-13, tahun 20014)
PenulisProf.Dr.Ahmad Tafsir
Bahasa : Indonesia
Editor : Tjun Surjaman
Desainer Sampul : Haryanto
Penerbit : PT Remaja Rosdakarya
Diterbitkan Pertama Kali : 1990
ISBN : 979-514-054-X
Jumlah Halaman : viii + 276

Buku setebal 276 halaman ini terdiri dari 8 bab, yang masing-masing materi pada setiap bab nya akan saya ringkas berikut ini.

Bab I 
Pendahuluan
Sistem yang diajukan dalam buku ini ialah : manusia ideal ialah manusia yang utuh, yaitu manusia yang menggunakan indera akal, dan hatinya secara seimbang, manusia yang jalan hidupnya ditentukan oleh pertimbangan indera, akal dan hatinya secara seimbang, sekaligus dan menyeluruh. Antara indera, akal dan hati tidaklah terdapat persengketaan ; mereka masing-masing mempunyai daerah, paradigma, metode, ukuran sendiri-sendiri ; mereka saling melengkapi.

Bab II 
Pengantar Kepada Filsafat
Keadaan dunia yang begini ini ada yang mewarnainya. Kekuatan yang mewarnai itu yang pertama adalah Agama dan yang kedua adalah Filsafat.

Pengertian Agama
Dari sekian banyak definisi, definisi agama dapat dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama adalah definisi yang menekankan rasa iman atau segi kepercayaan, yang ke dua menekankan agama sebagai peraturan tentang cara hidup. Kombinasi kedua-duanya mungkin merupakan definisi yang lebih memadai tentang agama. Agama ialah sistem kepercayaan dan praktik yang sesuai dengan kepercayaan tersebut. Dapat jugaberarti sebagai peraturan tentang tata cara hidup, lahir-batin.

Pengertian Filsafat
Poedjawijatna  (1974:1) menyatakan bahwa kata filsafat berasal dari kata arab yang berhubungan erat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memng dari kata Yunani. Kata Yunaninya ialah philosophia. Dalam bahasa Yunani, kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata philo dan sophia. Philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu, sedangkan sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam.

Poedjawijatna (1974:11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusahamencari sebab sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. 

Hasbullah Bakrie (1971:11) mengatakan bahwa filsafat adalah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli dan bagi Aristoteles, filsafat adalah pengetahuan yang tergabung di dalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika. Sedangkan bagi Al farabi filsafat adalah pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya.

Hal-Hal Mendorong Timbulnya Filsafat
Beerling (1966:8) mengatakan bahwa orang Yunani yang mula-mula sekali berfilsafat dibarat mengatakan bahwa filsafat timbul karena ketakjuban. Ketakjuban menyaksikan keindahan dan kerahasiaan alam semesta ini lantas menimbulkan keinginan mengetahuinya. 

Plato mengatakan bahwa filsafat itu dimulai dari ketakjuban. Sikap heran atau takjub itu akan lahir dalam bentuk bertanya.Pertanyaan itu memerlukan jawaban. Bila pemikir menemukan jawaban, jawaban itu dipertanyakan lagi karena ia selalu sangsi pada kebenaran yang ditemukannya. 

Patrick (Mulder, 1966:44-5) mengatakan, manakala keheranan menajadi serius dan penyelidikan menjadi sistematis, mereka menjadi filosof. 

Sartre (Beerling,1966:8) mengatakan bahwa kesadaran pada manusia ialah bertanya yang sebenar-benarnya. Pada bertanya itulah manusia berada dalam kesadarannya yang sebenar-benarnya.

Macam-macam Pengetahuan Manusia
Pengetahuan ialah segala sesuatu yang diketahui. Ada 3 jenis pengetahuan, yaitu :
  1. Pengetahuan sains.
    Pengetahuan sains harus berdasarkan logika. Pengetahuan sains ialah pengetahuan yang logis dan didukung oleh bukti yang empiris. Namun, pada dasarnya pengetahuan sains tetaplah suatu pengetahuan yang berdasarkan bukti nyata.
  2. Pengetahuan filsafat.
    Kebenarannya hanya dipertanggungjawabkan secara logis, tidak secara empiris. Paradigmanya logis, metodenya pikir.
  3. Pengetahuan yang ketiga merupakan bagian yang tidak dapat lagi dijangkau dengan menggunakan akal logis. Apalagi dengan indera empiris. Bagian ini masih mungkin diketahui dengan menggunakan rasa. 
    Bergson mengatakan rasa itu intuisi. Kant mengatakan rasa itu moral. Orang-orang  sufi dalam Islam menyebutnya dzauq, qalb, kadang-kadang dlamir. Pengetahuan jenis ini memang aneh. Paradigmanya disebut paradigma mistis, metodenya disebut metode latihan. Pengetahuan ini disebut dengan pengetahuan mistik, yaitu sejenis pengetahuan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, tidak juga secara logis. Orang-orang syi’ah menyebutnya dengan nama pengetahuan ‘irfan dari kata inilah istilah ma’rifah itu diambil.
Faedah Mempelajari Filsafat
Sekurang-kurangnya ada 4 faedah (manfaat) mempelajari filsafat, yaitu :
  1. Agar terlatih menjadi serius, mampu memahami filsafat, 
  2. Agar mungkin menjadi filosof, dan 
  3. Agar menjadi warga negara yang baik.Orang yang mempelajari filsafat, apalagi telah mampu berpikir serius, akan mudah menjadi warga negara yang baik. Karena rahasia negara terletak pada filsafat negara itu. Filsafat negara ditaksonomi ke dalam undang-undang negara.Undang-undang itulah yang mengatur warga negara. Memahami isi filsafat negara dapat dilakukan dengan mudah oleh orang yang telah biasa belajar filsafat.
Cara Mempelajari Filsafat
Ada 3 metode mempelajari filsafat, yaitu menggunakan metode :
  1. Sistematis.
    Pelajar menghadapi karya filsafat. Mula-mula pelajar menghadapi teori pengetahuan yang terdiri atas beberapa cabang filsafat. Setelah itu mempelajari teori hakikat yang merupakan cabang lain. Kemudian mempelajari teori nilai atau filsafat nilai. Pembagian besar ini dibagi lebih khusus dalam sistematika filsafat. Ketika mempelajari setiap cabang atau sub cabanng itu, aliran-aliran akan terbahas. Dengan belajar filsafat melalui metode ini perhatian kita akan terpusat pada isi filsafat, bukan pada tokoh ataupun periode.
  2. Historis
    Mempelajari filsafat dengan mengikuti sejarahnya, jadi sejarah pemikiran. Ini dapat dilakukan dengan membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam sejarah. Misalnya dimulai dengan membicarakan filsafat Thales, membicarakan riwayat hidupnya, pokok ajarannya, baik dalam teori pengetahuan, teori hakikat, dan teori nilai.
  3. Kritis
    Metode ini biasanya digunakan oleh mereka yang mempelajari filsafat tingkat intensif. Pelajar harus sedikit banyak mengetahui pengetahuan tentang filsafat, langkah pertama ialah memahami isi ajaran, kemudian mengajukan kritiknya. Kritik itu mungkin dalam bentuk menentang, dapat berupa dukungan tentang filsafat yang tengah dipelajari. Orang mungkin mengkritikya dengan pendapat sendiri maupun dengan pendapat filosof lain. Jadi, jelas pengetahuan ala kadarnya, ketika memulai belajar filsafat/pelajaran metode ini amatlah.
Objek Penelitian Filsafat
Objek yang dipikirkan oleh filosof ialah segala yang ada dan mungkin ada. Objek yang diselidiki filsafat ini disebut objek materia. Objek materia ini banyak yang sama dengan objek materia sains. 

Pertama, sains menyelidiki objek materia yang empiris, filsafat menyelidiki objek itu juga tetapi bukan bagian yang empiris, melainkan bagian yang abstraknya. 

Kedua, ada objek materia filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti Tuhan, hari akhir, yakni objek materi yang selama-lamanya tidak empiris. 

Selain objek materia ada pula objek formaya itu sifat penyelidikan. Objek forma ialah penyelidikan yang mendalam. Artinya, ingin tahunya filsafat adalah ingin tahu bagian dalamnya. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek yag tidak empiris.

Sistematika Filsafat
Perlu diulang lagi bahwa dalam garis besar filsafat mempunyai 3 cabang besar, yaitu teori pengetahuan, teori hakikat dan teori nilai.
  1. Teori pengetahuan pada dasarnya membicarakan tentang cara memperoleh pengetahuan (epistomologi).
  2. Teori hakikat membahas semua objek, dan hasilnya ialah pengetahuan filsafat (ontologi).
  3. Teori nilai, membicarakan guna pengetahuan tadi (aksiologi) 
Epistimologi
Epistimologi membicarakan pengetahuan dan cara memperoleh pengetahuan. Disebut juga sebagai filsafat pengetahuan. Istilah ini pertama kali muncul dan digunakan oleh J.F.Ferrier pada tahun 1854 (Runes, 1971:94). Pengetahuan diperoleh manusia dengan berbagai cara dan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran yang mebicarakan tentang ini.
  • Empirisme
    Berasal dari kata Yunani empeirikos yang berasal dari empeiria yang artinya pengalaman. Menurut aliran ini, manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya.
  • Rasionalisme
    Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh  dan diukur dengan akal. Manusia menurut aliran ini memperoleh pengetahuan melaui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini ialah Rene Descartes(1596-1650). Akan tetapi sesungguhnya paham seperti ini sudah ada jauh sebelum itu. Orang-orang Yunani kuno telah meyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang benar, lebih-lebih pada aristoteles.
  • Positivisme
    Tokoh aliran ini ialah August Compte (1798-1857). Ia penganut empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera dapat dikoreksi lewat eksperimen. Pada dasarnya positivisme bukan aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerjasama. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memerlukan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positivisme itu sama dengan empirisme plus rasionalisme.
  • Intuisionisme Henri Bergson(1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah. Jadi pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelek atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu. Jadi dalam hal seperti itu manusia tidak mengetahui keseluruhan. Tidak juga dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Akal hanya mampu memahami bagian-bagian dari objek. Kemudian bagian-bagian itu digabungkan oleh akal.
Ontologi
Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai menghadapi objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara dalam sampai pada hakikatnya. Itulah sebabnya teori ini dinamakan teori hakikat. Ada pula yang menamainya ontologi. Hakikat merupakan kenyataan yang sebenarnya. Kosmologi membicarakan hakikat asal, hakikat turunan, hakikat berada, juga hakikat tujuan kosmos.
  • Matrealisme
    Menurut aliran ini, hakikat benda adalah materi, benda itu sendiri. Rohani, jiwa, spirit, dan sebagainya mucul dari benda. Rohani dan kawan-kawannya tidak akan ada seandainya tidak ada benda.
  • Idealisme
    Aliran ini berpendapat sebaliknya. Hakikat benda adalah rohani, spirit, atau sejenisnya.Alasannya:
    a. Nilai roh lebih tinggi dari pada badan
    b. Manusia lebih dapat memahai dirinya dari pada dunia luar dirinya
    c. Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang; benda tidak ada, yang ada itu energi saja (Oswald)
  • DualismeYang merupakan hakikat pada benda itu ada dua , yakni materi dan imaterial, benda dan roh, jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari roh, dan roh bukan muncul dari benda. Pemikiran orang idealis menyatakan bahwa hakikat adalah roh. Paham ini akan berujung padaTuhan, surga, dan neraka.
    a. Theodichea membicarakan Tuhan dari segi pikiran. Apa tuhan itu ada, apa buktinya, apa sifatnya, dll.
    b. Teisme merupakan paham yang menyatakan bahwa tuhan itu ada.
    c. Monoteisme mengajarkan bahwa tuhan itu esa.
    d. Trinitisme mengajarkan bahwa tuhan itu satu tapi beroknum tiga.
    e. Politeisme adalah paham yang mengajarkan bahwa tuhan itu banyak.
    f. Panteisme mengajarkan bahwa antara alam dan tuhan tidak ada jarak.
    g. Panenteisme mengajarkan bahwa tuhan adalah kesadaran jagat raya.
    h. Ateisme merupakan isme yang mengajarkan bahwa tuhan itu tidak ada.
    i. Agnostisisme merupakan paham ketuhanan yang terletak antara teisme dan ateisme.
Logika merupakan cabang filsafat yang dikembangkan oleh Aristoteles. Logika membicarakan norma-norma berpikir benar agar diperoleh dan terbentuk pengetahuan yang benar. Ada dua macam logika yaitu logika formal dan logika material.

Logika formal merupakan logika yang memberikan norma berpikir benar dari segi bentuk berpikir. Logika formal adalah logika bentuk. Logikanya ialah agar diperoleh pengetahuan yang benar, maka bentuk berpikirnya pun harus benar. Benar atau salah isinya, dibicarakan oleh logika material.

Dalam logika,dikenal perbedaan antara kesimpulan yang tepat dan kesimpulan yang benar. Kesimpulan yang tepat diperoleh bila bentuk berpikirnya benar. Kesimpulan yang benar berasal dari penyelidikan terhadap isi kesimpulan itu.
- Contoh bentuknya benar (tepat) dan isinya benar:
Setiap manusiaakan mati. Muhammad adalah manusia. Jadi, Muhammad akan mati.

- Contoh bentuknya tepat tapi isinya tidak benar:
Manusia adalah sejenis hewan. Kuda adalah salah satu jenis hewan, jadi kuda sama dengan manusia.

Suatu kesimpulan dikatakan benar bila isi kesimpulan itu sesuai dengan objeknya. Sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Untuk mengetahui kesesuaian itulah tugas logika material. Dalam garis besarnya, logika formal membicarakan masalah pengertian, putusan dan penuturan.

Pengertian merupakan gambaran di dalam jiwa tentang objek yang telah diabtraksikan. Cara membentuk pengertian ialah dengan membuat gambaran dalam jiwa kita tentang objek itu dengan membuang seluruh ciri aksidensinya. Bila kita buang ciri aksidensinya maka yang tersisa ialah ciri esensinya. Ciri esensi merupakan ciri yang menunjukkan bahwa ia adalah ia, dan merupakan ciri yang tidak boleh tidak adapada objek. Ciri aksidensi adalah ciri pelengkap , sifat yang melekat pada esensi objek.

Selanjutnya tugas logika adalah membentuk pengertian itu menjadi definisi. Definisi ialah penyebutan ciri esensi suatu objek. Bakry dan Mehra menjelaskan jika definisi ialah pengertian yang lengkap tentang suatu istilah yang mencakup semua unsur yang menjadi ciri utama istilah itu. Ada 4 syarat definisi:
1. Ciri esensi yang disebut tidak boleh berlebihan dan tidak boleh kurang
2. Tidak memakai kata yang berulang-ulang
3. Tidak memakai perkataan yang terlalu umum
4. Tidak memakai kata negatif

Tahap-tahap dalam logika disebut memutuskan dan hasilnya disebut putusan. Kegiatan memutuskan harus mempertimbangkan hal berikut:
1. Menguasai struktur kalimat
2. Menyadari mana esensi dan aksidensi
3. Mengetahui mana esensi dan mana aksidensi yang telah menjadi aksidensi untuk objek yang lebih khusus.
4. Memahami pola putusan

Penuturan ialah putusan baru yang dibentuk dari putusan-putusan yang telah ada. Kegiatan putusan baru tersebut disebut menuturkan. Jadi urutannya ialah pengertian,putusan, putusan baru.

Etika merupakan teori tentang nilai baik dan buruk. Sedangkan estetika merupakan nilai keindahan.

Aksiologi
Filsafat sebagai kumpulan teori filsafat digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Filsafat sebagai philosophie of life merupakan suatu kondisi ketika filsafat dijadikan sebagai pandangan hidup. Yang amat penting ialah, filsafat sebagai methodology dalam memecahkan masalah. Sesuai dengan sifat filsafat, ia memecahkan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian masalah secara mendalam maksudnya menyelesaikan masalah dengan mencari penyebabnya sebagai langkah awal. Universal artinya melihat masalah dalam hubungan seluas-luasnya.

Khulasah
Pengantar kepada filsafat yang ringkas ini bermaksud menjelaskan apa filsafat itu, apa objek yang ditelitinya, bagaimana cara penelitiannya, dan apa saja sistematikanya. Lalu diperkenalkan juga isme-isme dalam filsafat.

Bab III 
Akal dan Hati Pada Zaman Yunani Kuno
Ciri-ciri umum filsafat Yunani adalah rasionalisme. Rasionalisme mencapai puncaknya padaorang-orang sofis. Untuk melihat rasionalisme sofis perlu dipahami lebih dulu latar belakangnya. Latar belakang itu terletak pada pemikiran filsafat yang ada sebelumnya, yaitu pemikiran-pemikiran Tahles, Anaximander, Heraclitus, Permanidus, Zeno, Protagoras, Gorgias, Socrates, Plato dan Aristoteles

Thales
Digelari bapak filsafat karena ialah orang yang pertama kali berfilsafat. Gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang mendasar yang jarang diperhatikan orang jaman sekarang. “Apa sebenarnya bahan alam semesta ini?”. Terlepas dari apapun jawabannya, pertanyaan ini saja sudah bisa mengangkatnya menjadi filosof pertama. Ia sendiri menganggap air sebagai bahan alam semesta karena air sangat diperlukan dalam kehidupan. Dan menurut pendapatnya, bumi ini terapung di atasair. Bahkan jawabannya sendiri tidak lebih berbobot dibandingkan pertanyaannya.Pertanyaannya pun ia jawab menggunakan akal, bukan menggunakan agama atau kepercayaan lainnya. Di sini akal mulai digunakan, lepas dari keyakinan.

Anaximander
Ia mencoba menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal dan ada dengan sendirinya. Anaximenes mengatakan itu udara. Udara merupakan sumber segala kehidupan, begitulah alasannya.

Heraclitus
Paham relativisme semakin mempunyai dasar setelah Heraclitus menyatakan “kamu tidak dapat terjun ke sungai dua kali karena air sungai itu selalu mengalir”. Menurutnya, alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah. Sesuatu yang dingin menjadi panas, dan yang panas menjadi dingin. Implikasi pernyataan ini amat hebat. Pernyataaan itu mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah,tidak tetap. Hari ini 2+2 =4 besok  bisa saja bukan empat. Pandangan ini merupakan warna dasar filsafat sofisme.

Paramanides
Paramanides yang lahir kira-kira tahun 450 SM dikatakan sebagai logikawan pertama dalam sejarah filsafat. Bahkan disebut filosof pertama dalam pengertian modern. 

Ia bertanya: “apa standar kebenaran dan apa ukuran realitas?” bagaimana hal itu dapat dipahami?” 

Ia menjawab:
Ukurannya ialah logika yang konsisten. Perhatikan contoh berikut:
Ada 3 cara berpikir tentang tuhan. (1) ada,  (2) tidak ada, (3) ada dan tidak ada. Yang benar ialah (1) tidak mungkin meyakini yang tidak ada (2) sebagai ada karena yang tidak ada pastilah tidak ada. Yang (3) pun tidak mungkin karena tidak mungkin tuhan itu ada sekaligus tiak ada. Jadi benar tidaknya suatu pendapat diukur dengan logika. Ukuran kebenaran adalah akal manusia, ukuran kebenaran adalah manusia. 

Protagoras
Ia menyatakan bahwa manusia adalah ikuran kebenaran. Ia menyatakan bahwa kebenaran itu bersifat pribadi, akibatnya tidak ada ukuran yang absolut dalam etika,metafisika, maupun agama. Bahkan menurutnya teori-teori matematika juga tidak mempunyai kebenaran yang absolut.

Gorgias
Georgias datang ke Athena 427 SM dari Leontini. Ada tiga proporsi yang diajukan Gorgias. Yang pertama adalah tidak ada yang ada. Maksudnya realitas itu sebenarnya tidak ada. Kedua, bila sesuatu itu ada,ia tidak akan dapat diketahui. Ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber ilusi. Akal menurutnya tidak mampu meyakinkan kita tentang bahan alam semeta ini karena kita telah dikungkung oleh dilema subjektif. Kita berpikir sesuai dengan kemauan, ide kita yang kita terapkan pada fenomena. Proporsi yang ketiga adalah sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.

Socrates
Ia memulai filsafatnya dengan bertolak dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ada kebijakan objektif yang tidak bergantung kepada saya atau kepada kita hari ini. Untuk membuktikan adanya kebenaran yang objektif,  Socrates melakukan metode-metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dilakukan dengan percakapan-percakapan. Ia kemudian menganalisis pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat tentang salah dan tidak salah misalnya. Sering kali percakapan itu berakhir dengan kebingungan, tapi tak jarang dialog itu menghasilkan definisi yang berguna.Metode yang digunakan Socrates biasa disebut dengan dialektika. Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisinya, Socrates bisa membuktikan kepada orang sofis bahwa pengetahuan yang umum itu ada, yaitu definisi itu.

Plato
Menurut Plato, kebenaran umum itu bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif, tapi pengertian umum itu sudah ada “di sana” di alam idea.

Aristoteles
Bila orang-orang sofis banyak yang menganggap manusia tidak akan mampu memperoleh kebenaran, maka Aristoteles menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran. 

Salah satu teori metafisika Aristoteles  yang penting ialah pendapatnya yang mengatakan bahwa form dan matter itu bersatu.  Matter memberikan substansi sesuatu, form memberikan pembungkusnya. Setiap objek terdiri atas form dan matter. Namun ada substansi yang murni form tanpa adanya matter yaitu Tuhan. 

Aristoteles percaya adanya Tuhan. Bukti adanya Tuhan adalah Tuhan sebagai penyebab gerak. Tuhanmenurut aristoteles berhubungan dengan dirinya sendiri. Ia tidak berhubungan (memperdulikan) alam ini. Ia bukan pesona, ia tidak memperhatikan doa dan keinginan manusia. Dalam mencintai Tuhan, kita tidak usah berharap Tuhan mencintai kita. ia adalah kesempurnaan tertinggi dan kita mencontoh ke sana untuk perbuatan dan pikiran-pikiran kita.

Bab IV 
Akal dan Hati Pada Abad Pertengahan
Plotinus (204-270)
Ajaran Plotinus atau Ployinisme erat kaitannya dengan ajaran Plato, yakni menganut realitas idea. Sistem metafisika Plotinus ditandai oleh konsep transendens. Menurut pendapatnya, di dalam pikiran terdapat tiga realitas, yakni the one, the mind, dan the soul.

The one (Yang Esa) adalah Tuhan dalam pandangan Philo, yaitu suatu realitas yang tidak mungkin dapat dipahami melalui metode sains dan logika. Ia berada di luar eksistensi, di luar segala nilai. 

The mind merupakan gambaran dari Yang Esa dadi dalamnya mengandung idea-idea Plato. Idea-idea itu merupakan bentuk asliobjek-objek.

The soul, teori ini adalah realitas ketiga dalam filsafat Plotinus. Sebagai arsitek semua fenomena yang ada di alamini, soul itu mengandung satu jiwa dan banyak dunia kecil. Jiwa dunia dapat dilihat dalam dua aspek, ia adalah energi di belakang dunia, dan pada waktu yang sama ia adalah bentuk-bentuk alam semesta. 

Jiwa manusia juga mempunyai dua aspek, yang pertama intelek yang tunduk pada reinkarnasi, dan yang kedua adalah irasional.

Augustinus (354-430)
Alih-alih akal dan pemikiran kritis diambilnya keimanan, alih-alih manusia dan kemampuannya diambil kedaulatanTuhan. Intelektualisme tidak penting dalam sistemnya, yang penting ialah cinta kepada Tuhan (Mayer, 357).

Setiap pengertian tentang kemungkinan pasti mengandung kesungguhan. Bila orang menganggap bahwa suatu doktrin adalah sebuah kemingkinan, ia harus menganggap bahwa di dalam doktrin itu ada kebenaran. Bila orang ragu bahwa dia hidup, tentu ia benar-benar hidup.

Ia berpendapat bahwa tugas manusia adalah memahamii gejala kenyataan yang selalu berubah. Mengenai penciptan jiwa, penempatannya di dalam badan bukan hasil atau akibat kejatuhannya, melainkan memang kewajaraan atau naturnya jiwa itu bertempat dalam badan jasmani. Jiwa tidak ada tanpa badan, akan tetapi jiwa tidak bergantung pada badan. Jiwa lebih tinggi daripada badan, lebih hakikat daripada badan.

Anselmus(1033-1109)
Ia mendahulukan iman daripada akal. Ia mengatakan bahwa wahyu harus diterima lebih dulu sebelum kita mulai berpikir. Dalam membuktikan adanya Tuhan, Anselmus menjelaskan lebih dulu bahwa semua konsep adalah relatif. Karena di dalam makhluk kesempurnaan itu bervariasi, maka kesempurnaan universal haruslah ada. Menurut pendapatnya, makhluk terbatas ini tidaklah menciptakan diriny sendiri, mereka memerlukan pencipta, itu adalah Tuhan. Lebih jauh, semua makhluk memiliki sejumlah kebaikan, itu menunjukkan adanya kebaikan maha tinggi yang di sana semua makhluk berpartisipasi.

Teori pengetahuan Anselmus menyatakan bahwa pengetahuan dimulai dari penginderaan,lalu terbentuklah pengetahuan akliah, terakhir adalah menangkap kebesaran Tuhan melalui jalur mistik, kebaikan tertinggi bagi manusia ialah perenungan tentang kebesaran Tuhan.

Thomas Aquinas (1225-1274)
Pandangannya tentang pengetahuan dipengaruhi oleh keyakinannya bahwa Tuhan adalah awal dan akhir segala kebijakan. Secara singkat alam semesta ini dalam pandangan Aquinas dibagi kedalam lima kelas, yakni realitas anorganis, realitas animal, realitas manusia,realitas malaikat, dan realitas Tuhan.

Aquinas berpendapat bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dari tiada, sekaligus, jadi berlawanan dengan teori Darwin. Dalam mencipta itu Tuhan tidak dipengaruhi oleh apapun, karena itu ia tidak memerlukan penciptaan secara evolusi. Menurut Aquinas, alam ini tidak kekal. Sekalipun demikian, menurut pendapatnya akal tidak dapat membuktikan apakah alam ini kekal ataukah tidak kekal.

Bab V 
Akal dan Hati Pada Zaman Modern
Banyak orang yang jengkel oleh dominasi gereja. Rene Decrates jelas bertujuan untuk melepaskan filsafat dari kekangan gereja, terlihat dari argumen Cogito yang terkenal. Setelah itu, banyak bermunculan filsof-filsof yang lain. Akal yang dikekang selama kira-kira 1500tahun itu sekarang berpesta pora merayakan kebebasannya. Akal menang lagi. Akan tetapi, silanya, sofisme Yunani terulang lagi. Sofisme modern, cirinya kebenaran itu relatif. Alasan adanya sofisme, yaitu pertama sesungguhnya tidak ada perbedaan yang esensial antara sofisme dan skeptisisme sekurang-kurangnya dalam akibat pemikiran itu. Kedua, agar lebih mudah mengikuti alur sistem yang dikemukakan dalam tulisan in, terutama sejak Thales hingga Capra.

Sofisme pertama ialah suasana pemikiran yang dihadapi oleh Socrates. Tokoh-tokoh utamanya ialah Parmanides dan Gorgias. Sofisme kedua atau sofisme modern ialah suasana pemikiran yang dihadapi oleh Kant.

Renaissance
Merupakan istilah Prancis. Dalam bahasa latin, re-nasvi berarti lahir kembali (rebirth). Istilah ini biasanya digunakan oleh sejarahwan untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia, sepanjang abad 15  dan 16. Mula-mula istilah ini digunakan oleh sejarahwan terkenal, Michelet, dan dikembangkan oleh J. Burckhardi (1860) untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia,sebagai periode yang dilawankan dengan periode pertengahan. Ciri utama dari renaissance ialah humanisme, individualisme, lepas dari agama(tidak mau diatur oleh agam), empirisme dan rasionalisme.

Rasionalisme
Pada bagian ini dibicarakakn pemikiran pokok Descartes, Spinoza, dan Leibnis. Merupakan tokoh besar dalam filsafat rasionalisme. Rasionalisme ialah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal adalah alat terpenting dalam memproleh dan mengetes pengetahuan. Jika empiris memengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris,maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Alat dalam berpikir itu ialah kaidah-kaidah logis (logika).

Rasionalisme ada dua macam, yaitu rasionalisme dalam bidang agama dan rasionalisme dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama rasionalisme adalah lawan autoritas, dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan empirisme. Rasionalisme dalam bidang agama biasanya digunakan unuk mengkritik ajaran agama, sedangkan dalam bidang filsafat berguna sebagai teori pengetahuan.

Idealisme objektif
Idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam ketergantungannya pada jiwadan spirit. Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Plato sring disebut sebagai seorang idealis sekalipun ideanya tidak khusus (spesifik) mental, tetapi lebih merupakan objek universal.

Idealisme Theist
Pascal.
Ada dua cara memperoleh pengetahuan menurut Pascal, pertama dengan menggunakan akal, da yang kedua dengan menggunakan hati.

Immanuel Kant
Sejarah filsafat adalah sejarah pertarungan akal dan hati (iman) dalam berebut dominasi mengendalikan jalan hidup manusia. Menurut Kant, semua planet sudah atau akan dihuni, dan planet-planet yang jauh dari matahari akan mempunyai masa berkembang lebih panjang, barangkali dihuni oleh spesies yang lebih cerdas dibandingkan dengan penghuni kita ini. 

Penemuan Kant yang penting ialah bahwa dunia luar itu kita ketahui hanya dengan sensasi, dan jiwa bukan sekadar tabula rasa,jiwa itu alat yang positif, memilih dan merekonstruksi hasil sensasi yang masuk.

Empirisisme
Empirisisme adalah suatu dktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal.

Pragmatisme
Pragmatisme merupakan realitas sebagaimana yang kita ketahui. Sebenarnya istilah pragmatise lebih banya kberarti sebagai metode untuk memperjelas suatu konsep ketimbang sebagai suatu doktrin kefilsafatan.

Eksistensialisme
Filsafat selalu lahir dari suatu krisis yang berarti penentuan. Filsafat ialah perjalanan satu krisis ke krisislain.  Ini berarti bahwa manusia yang berfilsafat meninjau kembali dirinya. Sifat materialisme merupakan pendorong lahirnya eksistensialisme.  Yang dimaksud dengan eksistensi  ialah cara orang berada di dunia.

Bab VI 
Akal dan Hati di Jalur Timur
Di jalur timur, yaitu di dunia Islam.  Mengenai sifat dominasi, akal di timur dihargai, tetapi tidak sampai mendominasi jalan hidup sehingga menyebabkan orang Islam meninggalkan agama, lalu mengambil materialisme danateisme. Filsafat Yunani banyak mempengaruhi perkembangan filsafat dan sains dalam Islam. Filsafat dan sains Yuanani mulai berkembang sejak  kurang lebih tahun 600 SM. Islam lahir padatahun 600-an. Filsafat dalam islam berkembang secara intensif  sejak tahun 800-an.

Masuknya filsafat dan sains Yunani kedalam Islam lebih banyak melalui Irak dibandingkan dengan melalui daerah-daerah lain. Di sanalah timbulnya gerakan penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab, atas dorongan khalifah Al-Manshur, kemudian khalifah Harun Al-Rasyid, dilanjutkan oleh puteranya, khalifah Al-Makmun. Bait Al-Hikmah didrikannya. Selain sebagai pusat penerjemahan, masjid juga menjadi pusat pengembangan filsafat dan sains yang ditinggalkan oleh Yunani tadi. Selain buku-buku Yunani, buku-buku Parsi dan India juga diterjemahkan ke dalam bahasa arab.

Bab VII 
Keseimbangan Indera, Akal dan Hati
Kemantapan hidup hanya ditentukan oleh dua hal, yaitu kaidah sains dan filsafat di satu pihak dan akidah agama dipihak lain. Kedua-duanya telah diragukan pada masa sofisme. Tentu saja kehidupan menjadi kacau karena sistem nilai telah kacau. Pada abad pertengahan, terutama sejak tahun 200-an, akal kalah total dan iman menang mutlak. Keadaan ini seharusnya telah dapat diperhitungkan sebelum terjadi. Dapat dipahami mengapa baik Socrates maupun Kant mati-matian menghentikan relativisme kebenaran. Pendapat yang mengatakan bahwa kebenaran itu relatif (termasuk agama) adalah pendapat yang sangat berbahaya. Konsekuensi pandangan ini ialah kekacauan (chaos). Karena sains itu relatif, maka tidak akan ada kebenaran yang dapat dipegang (dipercaya) bersama. Salah satu akibatnya ialah tidak akan ada sesuatu yang menjadi tali pengikat dalam hubungan-hubungan sosial.

Untuk membuktikan kerelatifan filsafat, cukup dilihat andalan kebenaran filsafat. Andalan kebenaran filsafat ialah kelogisan argumennya. Bila Kant ingin menegakkan sains dengan meletakkan dasar-dasarnya pada kebenaran yang bersifat a priori, sedangkan a priori itu berada di dalam daerah filsafat, jadi bersifat relatif, maka pelacakan kebenaran sains akan berakhir pada jalan buntu. Yang ditemukan pada akhirnya ialah sains yang relatif juga. 

Manusia membawa sejak lahir (innate) kata hati(suara hati) yan bersifat imperatif. Suara hati itu ialah suara yang selallu mengajak menjadi orang  yang baik. Puncak kebaikan itu adalah Tuhan. Menurut Al-Syaibani, manusia mempunyai tiga kekuatan atau potensi yang sama pentingnya, laksana sebuah segitiga yang sisi-sisinya sama panjang. Potensi yang dimaksud ialah jasmani, akal, dan roh. 

Kemajuan kebahagiaan, dan kesempurnaan kepribadian manusia banyak bergantung pada keselarasan ketiga potensi itu. Islam, menurut Al-Syaibani, tidak hanya mengakui adanya ketiga potensi tersebut, tetapi juga meneguhkannya dan memantapkan wujudnya. Manusia bukan hanya jasmani, bukan hanya akal dan bukan hanya roh. Manusia adalah kesatuan semua itu yang saling melengkapi kesempurnaan manusia.

Islam tidak dapat menerima materialisme yang mengajarkan benda terpisah dari roh, atau sebaliknya spiritualisme yang mengajarkan roh sama sekali terpisah dari benda. Islam tidak membenarkan akal berkuasa merajalela sehingga menjadikan pengetahuan yang diperoleh akal menjadi tidak terkendali. 

Islam berpendapat bahwa manusia hanya mungkin maju bila terjadi perkembangan yang harmonis antara jasmani, akal, dan roh. Sebenarnya di dalam hidup ini indera, akal, dan hati harus diperhatikan sekurang-kurangnya sama besar kalau tidak dapat  dikatakan hati lebih dipentingkan untuk diperhatikan. 

Bila ingin sempurna, manusia harus didominasi secara seimbang oleh indera, akal, dan rasa. Potensi itu masing-masing harus mendapat latihan secara serentak dan seimbang. Bila salah satu  telah mendominasi lebih dari yang lain, maka kehidupan mulai terancam, sejarah telah memperlihatkan hal itu. 

Manusia yang baik ialah manusia yang jasmani, akal, dan kalbunya berkembang secra seimbang di dalam tuntunan ajaran Tuhan Yang Maha Pintar.

Bab VIII
Akal dan Hati pada Zaman Pascamodern
Kritik filsafat pascamodern terhadap filsafat modern terungkap dalam istilah dekonstruksi seperti yang digunakanpara tokoh filsafat pascamodern. Yang didekonstruksi tentu saja rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat. 

Beberapa tokoh dalam filsfat pascamodern yaitu Arkoun, Derrida, Foucault, Wittgenstein.

Mengapa filsafat rasionalisme perlu didekonstruksi?
Karena ia merupakan filsafat yang keliru dan juga keliru cara menggunakannya. Gara-gara rasionalisme dan kekeliruan dalam menggunakan rasionalisme itulah budaya barat hancur. Bila hubungan natara hati dan akal manusia telah diputusan maka manusia akan memperoleh kenyataan bahwa pertanyan tentang rumusan hidup ideal tidak pernah akan terjawab. Memilih sains dan teknologi sebagai satu-satunya gantungan hidup, atau meletakkan sains dan teknologi sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam kehidupan, berarti kita telah menyerahkan kehidupan manusia kepda alat yang dibuatnya sendiri. Paham posivistik memang akan bermuara pada sikap sekularistik seperti itu.

Tiga dasa warsa terakhir menjelang berakhirnya abad ke 20, terjadi perkembangan bau yang mulai menyadari bahwa manusiaa selama ini telah salah dalam menjalani kehidupannya. Manusia mulai merindukan dimensi spiritual yang telah hilang dari kehidupannya. Di dunia ilmu muncul pandangan yang menggugat paradigma positivistik. Tokoh seperti Khuntelah mengisyaratkan adanya upaya pendobrakan tatkala ia mengatakan bahwa kebenaran ilmu bukanlah suatu kebenaran sui generis (objektif). Dengan mengatakan itu, berarti Kuhn telah menyerang jantungnya positivisme yang menjadikan rasionalisme sebagai andalan satu-satunya.

Haedar Nashir, dalam Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern (1990) mengungkapkan segi menarik pada krisis manusia modern. Bagaimana pendewasaan rasio manusia telah menjerumuskan manusia pada sekularisasi kesadaran dan menciptakan ketidakberartian hidup. Penyakit mental justru menjadi penyakit zaman seperti keserakahan, saling menghancurkan, sekularisasi kebudayaan, dan ada juga pencarian makna hidup. Tetapi akhirnya untuk mencapai tujuan hidup manusia modern justru melakukan kekerasan. Kekerasan itu amat mungkin berkembang karena adanya pandangan bahwaa ukuran keberhasilan seseorang adalah sejauh mana ia mampu mengumpulkan materi dan simbol-simbol lahiriah yang bersifat formal.

Syafi’i Ma’arif dalam kata pengantar buku Haedar Nashir itu menyatakan bahwa modernisme telah gagal karena telah mengabaikan nillai-nilai spiritual transendental sebagai fondasi kehidupan. Akibatnya, dunia modern tidak memiliki pijakan yang kokoh dal membangun peradaban. Dari analisis filsafat dan sejarah kebudayaan kita mengetahui bahwa budaya barat disusun dengan menggunakan hanya satu paradigma, yaitu paradigmasains. Paradigma ini disusun berdasarkan warisan Descartesdan Newton.

Proseskehancuran budaya barat yang dijelaskan Capra yakni sebagai berikut:
1. Rasionalisme
2. Cartesian dan Newtonian
3. Paradigma Sains yang Tunggal
4. Budaya Barat
5. Kehancuran (kacau, penuh kontradiksi)

Dibutuhkan tiga paradigma (masing-masing untuk budaya sains, seni, dan etika) untuk merekayasa kembali budaya dunia, ketiga paradigma itu diturunkan dari Islam.

Filsafat pascamodern tidak puas terhadap rasionalisme, karena itu rasionalisme harus didekonstruksi, dan harus direkonstruksi filsafat baru.


~ ~ ~ ~ ~

Bisa selesai membaca buku ini, buat saya adalah sebuah pencapaian. Karena seringnya saya hanya membaca novel-novel bergenre fiksi, fiksi ilmiah dan sastra klasik. Dan ternyata saya sangat menyukai buku ini, menambah wawasan dan jadi semakin tertarik untuk membaca dan mempelajari buku-buku filsafat lebih banyak lagi.

Terakhir, 5/5 bintang untuk buku ini :)

Wassalamualaikum... Wr. Wb.