Friday, October 30, 2015

Book Review : Ways to Live Forever by Sally Nicholls

No comments
Sam menyukai fakta-fakta. Dia penasaran tentang hantu dan UFO, film horor dan ilmuwan, balon Zeppelin dan kematian. Sam mengidap leukemia. Karena itu, dia ingin tahu fakta-fakta tentang kematian. Sam membutuhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang enggan dijawab orang-orang.

Ways To Live Forever adalah buku harian Sam yang berisi daftar-daftar, cerita-cerita, foto-foto, berbagai pertanyaan dan fakta yang dikumpulkannya selama minggu-minggu terakhir kehidupannya. Pandangannya yang jernih tentang kehidupan dan kematian membuat buku ini menjadi salah satu buku yang paling membangkitkan semangat dalam menghadapi salah satu fakta kehidupan yang tak terelakan.


Identitas Buku
Judul : Ways to Live Forever
Judul Terjemahan : Setelah Aku Pergi
Penulis : Sally Nicholls
Penerjemah : Tanti Lesmana
Tebal : 216 Halaman
Kategori : Fiksi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-3653-8
Soft cover, Cetakan Pertama 1 Maret 2008
Rate : 5/5 Bintang

Review
Sam Oliver McQueen, adalah seorang anak lelaki berusia 11 tahun. Pada saat ia berusia 6 tahun, dokter memvonis Sam mengidap penyakit Leukimia lymphoblastic akut. Karena penyakitnya itu, menyebabkan pula ukuran tubuhnya menjadi tidak normal jika dibandingkan dengan anak lain yang seusianya.

Penyakit temuan John Hughes Bennett pada tahun 1845 ini merupakan penyakit dimana sistem tubuh pengidapnya terlalu banyak produksi lymphoblast, sel-sel darah putih kecil.

Selama ini, Sam telah mengalami kemoterapi sebanyak 2 kali. Setelah terakhir kambuh pada usia 10 tahun, dua setengah bulan kemudian, penyakit Sam kambuh lagi. Maka, Sam mengalami berbagai hal seperti kerontokan rambut akibat kemoterapi, sering mimisan, hidup berkawan dengan Hickman Line, dan membutuhkan serum-serum kuning dan kenyal untuk pembekuan darah.

Sakitnya Sam membawa imbas pada kehidupan dalam rumahnya. Rachel, ibu Sam, memutuskan untuk berhenti bekerja dan merawat Sam. Keseharian Rachel penuh dengan usahanya untuk menepis kesedihan yang ia rasakan karena kondisi Sam. Namun, ia selalu berusaha untuk tampil tegar, ia tidak ingin menunjukkan kesedihannya terutama di depan Sam maupun teman, sahabat dan keluarga besarnya. Rachel punya keyakinan suatu hari Sam akan sembuh total dan semua kembali normal. Ia yakin, Sam akan tumbuh dewasa dan sukses meraih cita-citanya. Meskipun ia tahu,  cita-cita Sam untuk menjadi ilmuwan penyelidik hal-hal seperti UFO dan hantu tidak akan terwujud. Dengan pengobatan, Sam diprediksikan akan hidup setahun lagi. Dengan kondisi Sam yang demikian, ayahnya, Daniel, kadang ia nampak tidak bisa menerima keadaan, sehingga kadang ia membuat keadaan seolah semua baik-baik saja. Ia nampak menganggap bahwa Sam, putra yang amat dia sayangi itu seolah sehat dan baik-baik saja. Meskipun ia juga tahu persis, bagaimana keadaan Sam. Ia sangat sedih. Diam-diam, Ella, adik Sam yang berusia 8 tahun juga merasakan kesedihan dalam keluarganya. Meskipun ia kadang sering rewel dan menunjukkan rasa iri karena menurutnya, kadang perhatian ibunya hanya tertuju pada Sam.

Ketika menginap di rumah sakit selama 6 minggu saat penyakitnya kambuh pertama kali, Sam bertemu dan kemudian bersahabat dengan penderita kanker lain bernama Felix Stranger, 13 tahun. Karena penyakitnya, Felix yang berkepala gundul hidup dengan keraguan akan kebaikan Tuhan.

Setelah liburan Natal, pada tangga 7 Januari, hari pertama Sam dan Felix mulai belajar dengan di rumah dengan seorang pengajar bernama Mrs. Willis. Di hari pertama itu, Mr. Willis, memberikan Sam dan Felix tugas untuk menulis sebuah karangan. Sam merasa senang dengan tugas tersebut, dan kemudian ia memutuskan untuk  menulis sebuah buku dalam bentuk buku harian.

Sebelum mendapat tugas menulis tersebut, Sam suka mengumpulkan cerita dan fakta-fakta yang fantastis, juga daftar pertanyaan tak terjawab, tiga diantaranya adalah :
1. Bagaimana kita tahu kita sudah mati? (halaman 22)
2. Kenapa Tuhan membuat anak-anak jatuh sakit? (halaman 38)
3. Bagaimana kalau sebenarnya ada orang yang belum mati, tapi dikira sudah mati oleh orang-orang lain? Apakah dia akan dikubur hidup-hidup? (halaman 70)

Di tengah-tengah kegiatan yang ia lakukan sehari-hari yakni belajar dengan Mr. Willis, pengobatan, menghabiskan waktu dengan Felix, Sam menulis bukunya. Di dalam bukunya itu, Sam menghimpun 11 daftar berisi hal-hal tentang dirinya, apa yang ingin ia lakukan, hal-hal yang menjadi favoritnya, kiat-kiat hidup abadi, ritual kematian berbagai bangsa, siapa ayahnya, balon Zeppelin, pertanyaan tentang orang mati, dan apa yang ia inginkan setelah meninggal); 8 Pertanyaan Tak Terjawab yang bertalian dengan kematian; pengalaman-pengalaman; informasi yang berhubungan dengan kematian seperti teori 21 gram dari Duncan MacDougall (1907), juga gambar-gambar yang ia kumpulkan maupun ia gambar sendiri, yang semuanya itu kemudian ia buat dengan niat untuk mengisi waktu menghadapi kematiannya. 

Ada percakapan yang menyentuh, yaitu pembahasan dari Sam dan Felix ketika mereka membahas tentang Tuhan dan penyakit pada halaman 50 sampai dengan halaman 52 yang kemudian membawa mereka pada sebuah kesimpulan bahwa : "...justru sakit itu merupakan hadiah, seperti mendapatkan Karcis-Gratis-Masuk-Surga" atau "Tuhan sangat menyayanginya, sehingga ingin membawanya ke surga". 

Hari itu adalah jadwal belajar dengan Mr. Willis dirumah Sam. Mereka sering bergantian tempat belajar, kadang di rumah Felix kadang di rumah Sam seperti pada hari itu. Namun, Felix tidak muncul pada jadwal belajar bahkan hingga jam pelajaran hampir usai. Ternyata, hari itu Felix masuk rumah sakit, ia terkena infeksi, kemudian penyakitnya kambuh dan akhirnya meninggal dunia.

Kepergian Felix membuatnya sangat sedih dan terpukul, kemudian ia mulai bertanya-tanya dan berdebat dengan dirinya sendiri tentang sebuah keadilan.


Dan ketika semua obat yang diberikan pihak rumah sakit sepertinya tidak banyak bermanfaat lagi, Sam memutuskan mempercepat waktu kematiannya.

Mum mengangguk. "Dua bulan," katanya, dan air matanya tumpah. "Demi Tuhan!. "Waktu itu katanya kami punya waktu setahun."

"Aku akan bilang pada-Nya waktunya tidak cukup panjang,"

"Nanti, kalau aku bertemu dengan Dia." 

Setelah sekian banyak uang yang digunakan untuk pengobatan dan perawatan Sam, sungguh getir ketika Rachel tertawa kecil lalu menanggapi perkataan Sam dengan suara gemetar :

"Ya, bilang pada-Nya. Bilang pada-Nya kita ingin uang kita dikembalikan."

Bagi Sam, kematian adalah tahap selanjutnya dalam kehidupan. Ia percaya jika kematian hanyalah perjalanan kembali ke tempat semula manusia berada sebelum dilahirkan, sesuatu yang tidak menjadi masalah bagi Tuhan, karena kematian seseorang berarti kembali ke surga, tempat Tuhan tinggal. Oleh sebab itu, Sam menginginkan upacara pemakaman yang asyik, begitu katanya. Ia ingin para pelayatnya nanti tidak memakai pakaian hitam, harus ada cerita-cerita lucu tentang dirinya. Para pelayatnya boleh sedih, tapi tidak boleh terlalu sedih, karena ia sendiri juga tahu bahwa tidak mungkin tidak akan ada kesedihan ketika seseorang yang disayangi meninggalkan kita. Menurutnya, kesedihan hanya akan menghalangi ingatan kita kepada orang yang kita sayangi. 

Nah, apakah kemudian Sam dapat melakukan semua hal yang ingin ia lakukan seperti yang ia catat dalam Daftar No. 3?


Atau mungkinkah Sam juga bisa mewujudkan salah satu cara hidup selamanya seperti yang ia catat dalam Daftar No. 5?


Sebuah angket Rencana Kematian paling ilmiah dalam sejarah versi Felix yang telah disusun Sam kemudian akan memastikan nasib Sam. Penasaran dengan akhir kisah Sam pada buku ini? Silahkan baca bukunya yaa...

******************

Dari segi bahasa, sekalipun ini adalah edisi terjemahan, tetapi tidak terdapat bahasa atau kata-kata yang sulit dipahami. Dan dengan teknik penulisan yang tidak biasa, yang pada beberapa tempat bergaya scrapbook dan pemilihan model penulisan yang disesuaikan dengan usia Sam McQueen (pada bagian catatan pribadi Sam), plot dan narasi yang jelas menjadikan buku ini sebagai sebuah bacaan yang mudah diikuti dan enak untuk dibaca. Tidak hanya itu, melalui kepolosan tokoh Sam dan juga Felix, Sally merangkai kalimat-kalimat yang pada beberapa bagian terkesan dewasa, cerdas dan menyentuh yang terkadang terasa begitu mengiris hati lalu pada beberapa bagian terselip juga nuansa humor yang kemudian menjadikan buku ini juga sebagai sebuah bacaan yang kuat dan hidup.

Dari segi tampilan, menurut saya, desain jilid novel ini sederhana namun memiliki daya tarik yang begitu kuat, hehe...

Dari segi isi, novel ini benar-benar sangat menarik. Novel ini mengajarkan ketabahan dan memberikan motivasi untuk semua orang yang masih hidup, agar terus berusaha untuk menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Jangan sampai Sam yang mengidap penyakit tak terobati saja bisa menjalani hidupnya dengan tabah dan tetap ceria, sedangkan kita yang masih sehat selalu mengeluh tentang tak adilnya hidup. Dan ternyata, di tangan Sally, menjemput kematian, dari perspektif anak-anak, bisa berbeda dan mungkin lebih mudah diterima.

Awalnya, dengan label sebagai novel yang ditujukan untuk orang dewasa, menurut saya rasanya kurang cocok. Dimana novel ini bercerita tentang Sam (11 tahun), mengidap penyakit leukemia dan mencoba untuk menjalani kehidupan normal seperti anak-anak sehat lainnya. Tidak terdapat tindakan kekerasan ataupun kata-kata tak pantas dan hal-hal yang dapat menyebabkan sebuah novel dikatakan novel dewasa. Novel ini lebih cocok berlabelkan untuk semua umur. Namun kemudian, setelah membacanya hingga selesai, saya menemukan beberapa bagian, dimana Sam dengan pemikiran-pemikiran langka yang tidak biasa dilakukan oleh anak-anak pada umumnya, terlihat bisa memandang kehidupan dengan cara yang lebih dewasa dibanding anak-anak seusianya. Selebihnya, saya tidak menemukan kekurangan lainnya dari novel ini.

Terakhir, melalui sebuah pemaknaan kehidupan lewat kematian dari sudut pandang sang tokoh utama, (Sam, 11 tahun) yang luar biasa tanpa pernah berniat memvonis apa yang ia alami sebagai kesalahan Tuhan, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh siapapun yang ingin mendapatkan insipirasi dan mendalami makna dari kesempatan hidup yang sebenarnya.

"Percuma punya macam-macam keinginan kalau kau tidak tidak mencoba mewujudkannya. Setidaknya yang gampang-gampang saja."
(Ways to Live Forever - Sally Nicholls, halaman 67)

Book Review : Petualangan Alice: Alice di Negeri Ajaib & Alice Menembus Cermin by Lewis Carroll

No comments
Kisah klasik petualangan Alice di Negeri Ajaib dan dilanjutkan dengan buku kedua, Alice Menembus Cermin.
Kisah ini termasuk kisah fantasi klasik yang begitu terkenal ke seluruh dunia. Alice di Negeri Ajaib bercerita tentang anak perempuan yang tersesat di dunia ajaib yang dipenuhi banyak mahluk aneh melalui sebuah lubang kelinci.

Charles Lutwidge Dodgson atau lebih dikenal dengan nama samarannya: Lewis Carroll, selain sebagai penulis sebenarnya dikenal juga pada zamannya sebagai dosen matematika di Universitas Oxford. Karya monumentalnya sebagai pengarang adalah kisah klasik anak-anak Alice’s Adventures in Wonderland, Through the Looking Glass, serta puisi Hunting of the Shark and Jabberwocky.

Cerita Petualangan Alice di Negeri Ajaib dibuat spontan olehnya ketika menemani anak-anak keluarga Henry Liddell, Dekan Gereja Kristus Oxford, berperahu ria di sungai Thames dalam perjalanan piknik menuju Godstow. Atas permintaan Alice Liddell, Lewis Carroll menuliskan dongengnya tentang Alice dalam sebuah buku yang pada awalnya berjudul Alice’s Adventures Under Ground. Judul ini kemudian berubah lagi menjadi Alice Among the Fairies, lalu Alice’s Golden Hour, dan terakhir Alice’s Adventures in Wonderland yang kita kenal hingga kini


Identitas Buku
Judul :
Petualangan Alice: Alice di Negeri Ajaib & Alice Menembus Cermin
Judul Asli :
Alice's Adventures: Alice in the Wonderland & Throughthe Looking Glass
Penulis : Lewis Carroll
Penerjemah : Agustina Reni Eta Sitepoe
Ukuran Buku : 288 Halaman/13,5 x 20 cm
Kategori : Klasik, Fiksi, Fantasi
Penerbit : Elex Media Komputindo (Soft cover, 21 April 2010)
ISBN : 978-979-27-7323-1
Rate : 5/5 Bintang

Review
Sesuai dengan judulnya, buku Petualangan Alice terbitan dari PT Elex Media Komputindo ini memuat dua cerita sekaligus, yakni Alice di Negeri Ajaib dan Alice Menembus Cermin.


Alice di Negeri Ajaib
Petualangan Alice di negeri ajaib ini dimulai ketika seekor kelinci putih yang berjas panjang dengan mata merah muda berlari di dekatnya ketika ia sedang duduk di tepi sungai bersama kakak perempuannya. Karena rasa penasaran, Alice pun mengejar kelinci itu hingga ia turut masuk ke dalam sebuah lubang besar.

Setelah terjatuh jauh turun ke bawah, ia menyadari bahwa kini ia tengah berada dibawah lubang besar tadi, kini tepatnya ia berada disebuah ruangan dengan banyak pintu yang terkunci. Di dalam ruangan itu, di atas meja, ia melihat sebuah kunci untuk pintu yang sangat kecil dan sebuah botol minuman berlabel “Minum Aku”. Alice meminumnya dan tubuhnya mengecil seketika, sementara kunci untuk pintu kecil itu masih berada dia atas meja yang tinggi. Tak lama, ia menemukan kue dengan label “Makan Aku”, Alice memakannya dan tubuhnya pun membesar hingga melebihi ukuran normal tubuhnya sebelumnya dan membentur langit-langit ruangan. Segera setelahnya ia mengambil kunci dan menuju pintu, namun karena ukuran tubuhnya, ia hanya bisa berbaring miring sambil terus menangis hingga air matanya membentuk kolam air mata.

Kemudian, Alice bertemu dengan sekelompok hewan yang bermusyawarah mengadakan sayembara untuk mengeringkan tubuh mereka setelah terjatuh di kolam air mata Alice. Ia juga bertemu seekor ulat bulu yang duduk di atas jamur sambil menghisap hookah. Ulat bulu itu menanyakan jati diri Alice dan memberikan beberapa petuah padanya.

Alice melanjutkan perjalanannya dan masuk ke dalam sebuah rumah. Di rumah itu, ia bertemu pelayan berkepala ikan, sang putri dengan bayi berbentuk bintang laut, juga kucing Chessire yang selalu menyeringai. Alice juga menghadiri upacara minum teh yang aneh dengan Pembuat Topi, Terwelu Maret, serta Tikus Muscardinus. Walau meja perjamuan sangat luas, namun ketiga peserta jamuan berdesak-desakan di satu sudut meja. Usai upacara minum teh tersebut, Alice masuk ke dalam pintu yang membawanya menuju lapangan kriket. Disana ia mendapati para tukang kebun berbentuk persegi dan pipih (lonjong) dengan tangan dan kaki di kedua sudutnya sedang mengecat mawar putih menjadi merah. Karena menentang perintah Ratu, ia mendapat tantangan untuk bertanding kriket, bolanya adalah para landak, pemukulnya adalah burung flamingo, dan para prajurit harus melengkungkan diri masing-masing dan berdiri di atas kaki dan tangan mereka sehingga membentuk busur. Sepanjang permainan, Ratu selalu berkata “Penggal kepalanya!”, sehingga Alice merasa tidak nyaman. Setelah beradu pendapat, Ratu pun menghentikan permainan dan menyuruh seekor Gryphon membawa Alice bertemu kura-kura tiruan.

Di akhir kisah, Alice dituduh mencuri kue tarcis Sang Ratu. Lalu, bagaimanakah kisah Alice selanjutnya selama berada di negeri ajaib tersebut?

Alice Menembus Cermin
Kali ini Alice berpetualang di Negeri Cermin. Negeri yang aneh dan membingungkan. Di Negeri Cermin, Alice bertemu dengan Raja dan Ratu Merah, juga Raja dan Ratu Putih. Alice membaca buku catatan sang Raja Putih dan menemukan sebuah puisi yang sulit dimengerti, dimana kata-kata itu terbalik, maksudnya, kata-kata tersebut bisa dibaca jika diarahkan ke sebuah cermin. Namun,setelah bisa membacanyapun, Alice tidak dapat memahami semua kata-kata asing yang tertulis di buku tersebut.

Kemudian, Alice berkeliling dan melihat-lihat di dunia barunya itu. Di taman, Alice bertemu dengan bunga-bunga yang bisa bicara. Bahkan mereka menganggap Alice adalah sejenis bunga. Bunga yang aneh tentunya. Ketika melihat Ratu Merah, dia bergegas untuk menemuinya. Karena sedang berada di Negeri Cermin, yang dilakukan Alice bukanlah berlari mendekati Ratu Merah, melainkan berlari menjauhinya. Itulah cara untuk sampai di tempat Ratu Merah. Kemudian, Ratu merah menunjukkan jalan untuk kembali ke istana. Alice harus melalui delapan petak sebelum sampai ke istana. Dalam perjalanannya inilah dia mengalami kebingungan demi kebingungan. Untuk menaiki kereta menuju petak keempat, Alice diminta menyerahkan tiket yang tidak dimilikinya. Di petak keempat dia bertemu Tweedledee dan Tweedledum. Sebelumnya dia berbincang dengan seekor serangga yang besar dan melihat serangga-serangga aneh lainnya di hutan, seperti Kuda goyang terbang yang makanannya adalah getah pohon dan serbuk kayu, Capung Merenyah yang makanannya Bubur Bulgur (sejenis makanan Inggris kuno) dan pai daging cincang, serta Kupu-kupu Roti yang makanannya teh encer dengan campuran krim di dalamnya. Dipetak selanjutnya, Alice bertemu dengan Humpty Dumpty, lalu ksatria yang selalu jatuh dari kudanya, dan akhirnya tibalah ia di istana.

Sesampainya di istana, masih banyak lagi percakapan membingungkan antara Alice dan penduduk Negeri Cermin. Penasaran lagi dengan kisah Alice selanjutnya selama di negeri cermin ini? Silahkan baca bukunya ya...

*****************

Demikianlah sekilas cerita Petualangan Alice, yang ditulis oleh Lewis Caroll pada tahun 1865, edisi terjemahan bahasa Indonesia terbitan dari PT Elex Media Komputindo, yang dibagi menjadi 2 bagian dan 24 bab utama, dimana tiap bab-nya berkaitan satu sama lain, tetapi dengan tema-tema utama pada masing-masing babnya. Dimana setiap halamannya akan membawa pembaca menemukan dunia lain yang mungkin merupakan khayalan saat kecil atau hanya sebagai bacaan di waktu senggang untuk menghilangkan kepenatan.

Dan ini adalah untuk kedua kalinya saya membaca buku ini, dan tetap ajaa,di beberapa bagian bikin dahi berkerut, karena adanya kata-kata yang (mungkin hanya ada dalam edisi terjemahan, tidak dalam bahasa aslinya) sulit untuk dipahami. Namun demikian, dari sosok Alice, selain menghibur dan membangkitkan imajinasi anak-anak yang tak terbatas, sosok Alice yang jujur, polos, dan berani patut menjadi teladan bagi anak-anak seumurannya. Alice juga tak pernah menunjukkan sikap jijik pada setiap karakter aneh yang ditemuinya. Secara implisit, Lewis mengajak para pembacanya untuk tidak menilai seseorang dari tampilan luar semata, bersikap terbuka terhadap perbedaan, serta menjunjung tinggi sopan santun.

Secara keseluruhan kisah Alice yang menawan ini sangat layak dibaca oleh semua kalangan. Meskipun pada cerita ini ada bagian-bagian yang, memang absurd dan sulit untuk dipahami, bahkan mungkin hanya dapat dipahami oleh orang dewasa. Terlebih, faktanya melalui kisah Petualangan Alice ini, dari informasi yang saya baca, Lewis Carrol banyak mengangkat isu-isu politik pada masa itu yang kemudian ia tuliskan dalam bentuk komedi satir. Dimana bagi yang tidak paham kondisi politik masa itu hanya akan menganggapnya sebagai komedi biasa saja.

Saturday, October 24, 2015

Tinggal di Sebuah Pulau Terpencil dan Paket Buku dari Gramedia

No comments
Haai semua :)

Beberapa hari yang lalu, saat lagi asyik blogwalking, baca sini, baca sana... terdamparlah saya di Bookie Looker. Sesuai tagline-nya, Bookie Looker is a book blog by Stefanie Sugia. Ternyata, saat itu mba Stefanie lagi jadi host untuk sebuah book blog tour. Lebih tepatnya, blog tour sebuah buku terbaru karya K. Fischer yang berjudul Berlabuh di Lindøya plus giveaway dengan hadiah yaaaaang sangat menggiurkan dan bikin penasaran.

Ya dong, disana saat itu disebutkan kalau hadiahnya itu adalah sebuah paket buku dari Gramedia!!! Waaa.... mauu!! *_*

Dan ya, gimana gak bikin penasaran, cuma disebutkan "Paket Buku dari Gramedia", it's mean... bisa jadi, hadiahnya itu gak cuma satu buku aja dong... Wihh... makin mupeng deh. Terus... terus... ahh siapa tahu aja paket misteri tersebut berisi atau salah satu isinya adalah buku terbitan Gramedia yang ada di wishlist saya.

Tantangan giveaway-nya menurut aku bisa dibilang gampang-gampang susah. Selain harus memenuhi beberapa persyaratan yang tidak sulit, pesertanya harus menjawab pertanyaan berikut :

"Apa pendapatmu tentang tinggal di sebuah pulau terpencil 
seperti Lindøya?"

Wah.. ini gampang, hihihi... karena selama ini, malahan dari kecil, saya pernah berangan-angan memiliki pulau sendiri, huahaha... dan sesekali tinggal disana selama beberapa waktu. Pasti menyenangkan dan bikin tenang. Dalam bayangan aku, pulau tersebut, meski letaknya terpencil tetapi keadaannya asri dan bersih.

Maka, pertanyaan tersebut saya jawab sesuai dengan apa yang ada dalam bayangan saya selama ini yang mana, tinggal disebuah pulau terpencil, buat saya gak masalah...selama di pulau terpencil itu tersedia :

1. Kain atau bahan dan peralatan membuat kain untuk keperluan pakaian. Ini jika memang ceritanya, saya sudah tidak bisa kembali ke kehidupan normal saya saat ini, gak bisa shopping pakaian lagi, hehe...

2. Tanaman makanan pokok, sayuran dan buah-buahan yang segar dan menyehatkan yang terus tumbuh subur, sebagai persediaan bahan makanan 

3. Tempat tinggal sederhana, bersih dan layak untuk ditinggali

4. Perpustakaan yang besar dengan koleksi buku-buku yang lengkap

5. Sekalipun membutuhkan waktu perjalanan yang jauh, ada akses untuk sesekali mengunjungi orang-orang yang aku sayang yang berada di luar pulau terpencil tersebut. Ini, jika di pulau terpencil itu aku harus hidup sendiri tanpa orang-orang yang aku sayang, :)

Hmm... ya, agak-agak absurd bin maruk sih ya... Pengen punya pulau sendiri terus tinggal sendiri juga, hehehe... Dan sebetulnya, agak ngeri juga sih membayangkannya. Karena pastinya, hidup dan tinggal bersama dengan orang-orang yang kita sayang dan menyayangi kita itu adalah sebuah nikmat tak tergantikan :)

Oh iya, diatas saya tulis tantangannya ini gampang-gampang susah. Gampang buat jawab pertanyaannya tapi, waktu itu juga sempat pesimis untuk mendapatkan paket buku tersebut. Karena saat itu saja sudah ada 20-an komentar yang masuk :(

Ah tapi, ya sudahlah... Hingga beberapa hari kemudian saya mendapat sebuah notifikasi dari akun Twitter saya. Wahh... seneng banget, karena ternyata notifikasi itu dari mba Stefanie yang memberi tahu bahwa saya adalah pemenang giveaway di blognya dan berhak atas paket buku dari Gramedia. Yang cukup mengaggetkan, saya adalah satu-satunya pemenang dari keseluruhan 37 orang yang ikutan, hwehehehe.... ^_^

Dua hari yang lalu, si Paket Buku dari Gramedia tersebut tiba di rumah. Dan inilah isinyaaa....


Ada dua buku karya K. Fischer, Blue Vino dan tentu saja, Berlabuh di Lindøya. Dua buku yang memang ada di wishlist saya. Hyeayy!!! Dan bonus satu buku dengan desain cover yang manis, karya Hanna Natasha.

Novel Berlabuh di Lindøya ini adalah buku kelima belas karya Ir. Kusumastuti Fischer atau K. Fischer. Wow, produktif juga ya mbak K ini *two thumb up*

Mbak K, sudah menulis sejak kecil. Puisinya diterbitkan majalah Kawanku ketika ia masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Sebagai sarjana teknik mesin, ia mendapat kesempatan untuk bekerja dan tinggal di Austria. Di sana ia meneruskan berkarya sebagai penulis. Lebih dari seratus artikel (dapat dilihat disinidi berbagai majalah di berbagai negara, belasan buku (dapat dilihat disinidalam berbagai tema dan proyek hasta karya bagi anak dan dewasa sudah ia terbitkan.

Jadi, acara pamer cerita-cerita saya di sore hari ini cukup sekian, hehe... Bye Bye ^_^

Sunday, October 18, 2015

Book Review : Jodo Pakokolot by Memed Sastrahadiprawira

No comments
Lalakon Radén Suria Sungkawa sareng Endén Ratna Wulan anu didongéngkeun ku Méméd Sas­tra­hadiprawira (1897-1932) dina Jodo Pako­kolot téh. Lalakon panglipur, minangka raéhan tina Il Decameron, salah sahiji karya utama Abad Per­tengahan, yasana Giovanni Boccaccio anu ka­wentar. Ku tiasa Méméd nyundakeunana, mindah­keun kasang ti Éropah ka lembur urang, nepi ka karasana merenah, luyu jeung acining batin ba­laréa Sunda.


Identitas Buku
Judul : Jodo Pakokolot
Penulis : Memed Sastrahadiprawira
Bahasa : Sunda
Tebal : 60 Halaman
Kategori : Fiksi, Roman Sunda, Sastra Sunda
Penerbit : PT Kiblat Buku Utama, Cetakan ke-3, Desember 2007
Diterbitkan Pertama Kali Tahun 1932 oleh Balai Pustaka
Rate : 3/5 Bintang

Review
Bercerita tentang Enden Ratna Wulan dan Raden Suria Sungkawa yang begitu saling mencintai. Namun, niat keduanya untuk segera hidup berumah tangga belum bisa terlaksana, dikarenakan Raden Suria yang juga putra seorang bangsawan itu, belum memiliki pekerjaan.

Selama ini pula, Enden Ratna Wulan tidak berani untuk memberitahu kedua orangtuanya tentang hubungannya dengan Raden Suria Sungkawa. Sedangkan Juragan Rangga Banjaransari, ayah dari Enden Ratna Wulan mulai merasa khawatir karena sepengetahuannya, belum ada seorang lelakipun yang berhasil menarik perhatian putrinya tersebut.

Enden Ratna Wulan digambarkan sebagai sesosok perempuan muda yang sempurna. Selain putri dari seorang bangsawan dan berpendidikan, ia memiliki paras sangat cantik, dikenal baik hati dan cerdas. Ia sangat mahir bahasa Belanda, padahal sangat jarang pada kala itu ada gadis seusianya yang bisa dengan sangat lancar berbicara dalam bahasa Belanda. Maka, tidak heran jika selama tinggal di Karang Kalangenan, tempat tinggalnya kini, Juragan Rangga Banjaransari telah banyak kedatangan para bangsawan dan orang-orang berpangkat tinggi lainnya yang hendak meminang putrinya tersebut. Namun, sang ayah merasa dari sekian yang datang itu, menurutnya masih belum ada yang benar-benar pantas untuk menjadi suami dari anak gadisnya itu. Adapun yang menurutnya pantas, Enden Ratna Wulan selalu saja menolaknya. 

Sampailah pada suatu waktu, ada seorang bangsawan muda berpangkat tinggi yang datang dan melamar Enden Ratna Wulan untuk menjadi istrinya. Dan kali ini, Juragan Rangga, merasa telah benar-benar menemukan lelaki yang menurutnya sangat pantas untuk menjadi suami putrinya. Ia sangat bahagia dengan kedatangan bangsawan muda tersebut karena ia yakin kegelisahannya akan segera berakhir. Kebahagiaan Juragan Rangga semakin bertambah ketika diberitahukan tentang pinangan dan sosok lelaki yang meminangnya itu, sang putri tidak menolak. Ia langsung menerimanya dan kemudian  menikah dengan dengan bangsawan berpangkat tinggi tersebut. Ia seolah begitu terpikat dengan bangsawan muda itu. Dengan sekejap, ia telah lupa kepada kekasih yang begitu mencintainya, Raden Suria.

Tentu saja, mendengar bahwa kekasih hati yang sangat ia cintai itu telah menikah dengan lelaki lain, Raden Suria Sungkawa merasa sangat marah dan sakit hati. Tanpa berpikir panjang, ia mendatangi seorang dukun yang, Raden Suria dengar, keahlian dukun tersebut sangat manjur dalam hal memikat seseorang untuk tunduk dan hanya tergila-gila mencintai orang yang dibantu oleh dukun tersebut. Betapa senang saat sang dukun dengan nampak sangat meyakinkan itu menyanggupi permintaannya agar Enden Ratna Wulan mau meninggalkan suaminya dan kembali kepada dirinya. Adapun salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh Raden Suria demi terkabul niatnya itu adalah menyerahkan kepada sang dukun sesuatu berupa barang yang selamanya selalu dipakai oleh Enden Ratna Wulan. Merasa kebingungan dengan apa yang harus ia ambil dari yang selalu dipakai Enden Ratna Wulan, sang dukun kemudian menyarankan agar Raden Sura mengambil sobrah milik Enden Ratna Wulan. Sobrah adalah rambut yang berbentuk panjang sebagai penyambung rambut waktu membuat sanggul. Lagi-lagi, tanpa berpikir panjang, Raden Suria langsung melaksanakan apa yang disarankan oleh dukun nya itu. Bahkan ia nekad mengambilnya sendiri karena jika menyuruh orang lain, ia khawatir niatnya itu akan diketahui oleh orang lain. Terutama, ia juga khawatir, niatnya ini akan merusak nama baik diri dan keluarga besarnya.

Malam itu, sekitar pukul 9, Raden Suria sudah berada dalam lingkungan keraton Karang Kalangenan. Raden Sura yakin, sobrah itu ada di kamar Enden Ratna Wulan, kamar pengantin. Ia begitu ingin segera masuk kedalam keraton, mengambil sobrah dan kemudian segera pergi dari tempat itu. Namun, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sambil memperhatikan keadaan dan lalu lalang orang-orang di keraton, karena pesta pernikahan baru saja usai, ia hanya bisa berdiri di dekat pohon yang tidak jauh dari pintu masuk keraton. Tengah malam pun tiba, Raden Suria masih belum melakukan apapun. Dan di waktu yang sama, tiba-tiba ia melihat Enden Ratna Wulan dan lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya itu tengah berjalan sambil bergandengan mesra. Mereka duduk, di teras keraton, tertawa-tawa dan bermesraan sambil menikmati pemandangan bulan malam itu.

Dibawah sinar bulan yang sama, Raden Suria merasa seluruh tubuhnya lemas, ia jatuh ambruk tak kuat menahan rasa sakit hati nya yang kini ia rasa semakin hancur. Namun seolah ada yang membantunya untuk bangkit, ia berdiri dan kemudian berjalan mengendap-endap memasuki keraton, bahkan ia berhasil melewati para penjaga yang tengah tertidur pulas dan memasuki kamar pengantin. Ia berhasil mengambil sobrah milik Enden Ratna Wulan.

Saking senang bisa mendapatkan apa yang ia cari. Raden Suria, hanya berdiri mematung memegangi sobrah itu. Ia tersenyum. Ia merasa sangat yakin, sobrah itu akan membantunya untuk membuat Enden Ratna Wulan kepada dirinya. Hingga ia dikagetkan oleh suara teriakan seorang perempuan yang sudah sangat ia kenal yang kemudian disusul teriakan seorang lelaki. Kaget, malu dan takut, begitulah yang dirasakan Raden Suria ketika ia melihat Enden Ratna Wulan dan suaminya tengah berdiri kaget di ambang pintu kamar. Yang ada dipikiran Raden Suria saat itu, adalah cepat-cepat pergi dari sana sebelum para penjaga bangun dan menangkap dirinya. Ia menubruk suami Enden Ratna Wulan hingga terjungkal dan tak sadarkan diri. Enden Ratna Wulan semakin berteriak-teriak histeris, ia mengenali betul, sosok yang baru saja berada di dalam kamarnya. Ia juga kemudian berteriak memanggil penjaga untuk memberikan pertolongan kepada suaminya.

Mendengar teriakan sang putri, para penjaga dengan sigapnya mengepung lingkungan keraton, sehingga Raden Suria tertangkap dan dipukuli para penjaga keraton dan kemudian mendapat hukum kurungan untuk selama beberapa waktu.

Selama menjalani masa hukuman itu, Raden Suria selalu dihinggapi rasa malu yang begitu besar serta rasa bersalah kepada keluarga besarnya. Ketika hukuman berakhir, ia segera menemui saudara-saudara kandungnya yang ternyata begitu merasa sangat dipermalukan oleh dirinya. Ia diusir oleh saudara-saudaranya. Dengan rasa malu dan bersalah yang ia rasakan, ia memberanikan meminta sebagian harta yang diwariskan orangtua mereka untuk bekal kehidupannya. Ia berjanji setelah itu tidak akan pernah lagi menemui saudara-saudaranya. Setelah mendapatkan apa yang dia minta kepada saudara-saudaranya, Raden Suria pergi menuju sebuah pedesaan yang berada didekat hutan dan gunung.

Sembilan tahun telah berlalu. Raden Sura yang telah memutuskan untuk hidup di pedesaan itu juga telah lama memutuskan untuk mengubah namanya menjadi Sura, serta penampilannya agar sesuai dengan penduduk disana. Karena bagaimanapun, ia adalah seorang bangsawan yang memang terkadang ada saja yang masih mengenalinya. Namun, lama kelamaan, sosok Raden Suria seolah menghilang sedikit-demi sedikit berganti rupa dan nama menjadi pak Sura, seseorang yang gemar memelihara burung. Dari sekian banyak burung yang ia miliki, ada satu yang menjadi burung kesayangannya, yakni burung Titiran. Burung yang ia jadikan sebagai burung pemikat ini juga sekaligus menjadi mata pencahariannya. Karena berkat burung Titiran pemikat ini, ia sering mendapatkan banyak burung bagus lainnya dari hutan, yang kemudian kadang ia rawat sendiri, atau kadang ia menjualnya.

Sementara itu, dalam kurun waktu yang sama, Enden Ratna Wulan telah memiliki seorang putra yang berusia 9 tahun. Suaminya telah meninggal sejak putranya masih berusia 4 tahuan. Sepeninggal suaminya, Enden Ratna Wulan sering menhabiskan waktu untuk sekedar berjalan-jalan ke sebuah pedesaan yang asri. Dimana pedesaan itu digambarkan sebagai sebuah tempat yang masih sangat asri, ada sawah yang terhampar hijau di sejauh mata memandang, air pegunungan yang bersih mengalir dengan sangat deras. Serta udara yang begitu menyegarkan. Hingga kemudian, bersama dengan putranya, ia memutuskan untuk menetap di desa itu. Di desa yang ternyata adalah desa yang sama yang ditinggali oleh Raden Suria.

Tanpa mengetahui siapa sebenarnya bangsawan wanita yang baru pindah ke desa itu, Raden Suria hanya merasa senang setiap kali putra bangsawan itu datang ke rumah nya yang sangat sederhana. Tanpa sungkan, anak lelaki itu selalu bermain di rumah Raden Suria. Hingga suatu hari, anak lelaki itu meminta burung pemikat Raden Suria. Karena burung itu bukan sekedar burung pemikat namun juga sebagai alat pencahariannya, dengan lembut, Raden Sura menolak memberikan burungnya. Semenjak itu, anak lelaki tersebut tidak pernah lagi main kerumahnya, tanpa diketahui Raden suria, ternyata anak itu sakit keras, berawal dari keinginannya yang tak terpenuhi tentang burung yang sangat dinnginkannya. Mengetahui cerita anak lelakinya yang menginginkan burung pemikat Pak Sura, demikian Raden Suria dikenal di desa itu. Enden Ratna Wulan mendatangi rumah pak Sura, berharap ia akan memberikan burung pemikatnya untuk anaknya.

Raden Suria, alias Pak Sura yang berpenampilan tak terurus itu sangat kaget ketika hari itu kedatangan seseorang yang saat itu juga membuat perasaannya sangat campur aduk. Namun, tentu saja, Enden Ratna Wulan tidak tahu siapa sebenarnya Pak Sura.

Setelah berusaha untuk menutupi kegugupannya, dan berkalikali meminta maaf tentang keadaan rumahnya, Pak Sura mempersilahkan Enden Ratna Wulan untuk masuk dan langsung saja, dengan ramah, Enden Ratna Wulan mengajak berkenalan dan mengobrol tentang lingkungan desa tersebut yang telah membuatnya jatuh hati hingga akhirnya memutuskan untuk tinggal disana. Namun, ia masih belum mengutarakan niat yang sebenarnya. Karena ketika ia bermaksud untuk mulai bicara tentang burung yang dimaksud, Pak Sura meminta izin untuk menyiapkan makan siang. Meskipun sudah menolaknya, dengan dalih merasa sangat terhormat kedatangan tamu bangsawan, tetap ingin menyiapkan makan siang alakadarnya.

Karena hanya tersedia,nasi, sambal dan lalapan, seperti biasa, tanpa berpikir panjang, Pak Sura alias Raden Suria ini memotong burung pemikat kesayangannya dan kemudian memasaknya untuk dijadikan lauk.

Usai makan, barulah Enden Ratna Wulan mulai bercerita tentang niatnya mengunjungi pak Sura. Mendengar tentang apa yang disampaikan Enden Ratna Wulan, tentang sakit putranya karena menginginkan burung pemikat yang dimilikinya ia sangat menyesal, karena burung tersebut kini sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan Enden Ratna Wulan yang sangat kaget dan sedih ketika mengetahui bahwa burung yang sangat diinginkan oleh putranya itu, baru saja ia santap. Enden Ratna Wulan, merasa sangat bersalah. Ia merasa bersalah terutama kepada putranya. Ia tidak bisa memberikan apa yang putranya inginkan. Ia juga merasa bersalah, karena burung pemikat sebagai alat pencaharian pak Sura kini juga telah tiada.

Rasa bersalah Enden Ratna Wulan semakin bertambah, ketika akhirnya, putranya juga meninggal dunia.

Sepeninggal, putranya, sekalipun sudah dibujuk dengan berbagai cara oleh Juragan Rangga, Enden Ratna Wulan tetap tidak ingin kembali ke keraton Karang Kalangenan. Ungkapnya, ia ingin tinggal disana agar bisa sering mengunjungi makam putranya.

Semenjak itu, Enden Ratna Wulan dan Pak Sura kadang sering menghabiskan waktu bersama bercerita tentang banyak hal. Terutama, Enden Ratna Wulan lah yang paling sering bercerita bahkan tentang masa mudanya, termasuk kisah pilu asmaranya dengan seorang bangsawan bernama Raden Suria Sungkawa. Enden Ratna Wulan, bahwa apa-apa yang menimpa dirinya selama ini adalah karma karena ia telah menyia-nyiakan orang yang begitu mencintainya. Bahkan secara tidak langsung, ia telah membuat Raden Suria menjadi orang terhina, mengalami hukuman dan kini menghilang tidak diketahui keberadaannya. Satu keinginannya kini, Enden Ratna Wulan begitu ingin bertemu dan meminta maaf kepada Raden Suria. Pak Sura tertegun, ia tidak pernah menyangka, ternyata, begitulah yang dirasakan oleh Enden Ratna Wulan. Selama ini, Pak Sura menanggap Enden Ratna telah benar-benar melupakannya sejak ia menerima pinangan itu. Ia juga tidak pernah menyangka ada penyesalan yang begitu dalam di hati Enden Ratna Wulan.

Akankah Pak Sura mengakui bahwa dirinya yang sebenarnya adalah Raden Suria Sungkawa? Ataukah ia tetap menutupi jati dirinya sebagai bentuk balas dendam agar Enden Ratna terus merasa bersalah?

==================

Dari segi cerita saya sangat merekomendasikan buku ini kepada siapapun yang menyukai bacaan bertema percintaan yang juga sarat akan pesan-pesan kehidupan. Tapi mungkin kalau untuk dibaca hanya direkomendasikan buat yang mengerti bahasa Sunda, karena teks nya menggunakan bahasa Sunda. Pesan-pesan seperti apa? Dari review cerita yang saya tulis diatas, rasanya sudah ada beberapa pesan kehidupan yang bisa dipetik. Dan saya tidak ingin bercerita lebih banyak mengenai plot cerita pada buku ini, biar pembaca bisa bisa menggali dan kemudian merenungi, hal-hal yang bisa dijadikan pelajaran.

Setelah selesai membaca buku karya dari Raden Memed Sastrahadiprawira (1897-1932), yang berkisah tentang Raden Suria dan Enden Ratna Wulan ini juga mengingatkan tentang kisahnya Federigo dan Monna Giovanna di The Decameron karya Giovani Boccacio. Ternyata hal itu juga yang disayangkan oleh Ajip Rosidi, yang jadi pengantar di buku ini, (dan tulisan pengantar ini terlewat tidak saya baca, padahal di awal buku >_<) jika memang "Jodo Pakokolot" ini sebuah cerita yang merupakan inspired dari salah satu cerita pendek yang tertulis di The Decameron, sayang sekali, Raden Memed ini tidak mencantumkan informasi tersebut, padahal pasti sudah banyak juga yang membaca karya Boccacio, selain itu, Raden Memed juga sastrawan ternama dan dan cerita ini pun jadi salah satu termasyhur di kalangan sastrawan Sunda.

Namun terlepas dari itu, saya cukup salut dengan kemampuan Raden Memed yang, seperti yang tertulis di blurb buku ini, dengan kemahirannya ia bertutur Raden Méméd bisa "memindahkan" sebuah cerita yang asalnya berlatar belakang Eropa ke latar belakang Sunda yang begitu kental.

Book Review : Timeline by Michael Chrichton

No comments
Mesin Waktu teknologi paling mutakhir di ambang abad ke-21. Proyek rahasia ITC, sebuah perusahaan penelitian New Mexico, yang ingin membuat gebrakan di awal dekade ini.

Beberapa mahasiswa pasca sarjana terpaksa terlibat dalam proyek ini ketika profesor mereka terseret masuk ke dalam mesin waktu itu dan terdampar di Prancis zaman abad ke-14. Pada masa itu sedang terjadi perang pribadi antara Sir Oliver, seorang ksatria Inggris keturunan bangsawan, dengan Arnaut de Cervole, rahib pembelot yang dijuluki Imamn Tertinggi. Membebaskan sang profesor berarti ikut terjun ke kancah peperangan itu, dan ke dalam kehidupan keras abad ke-14 yang penuh dengan berbagai intrik. Dan para mahasiswa muda itu baru menyadari betapa bermanfaatnya apa-apa yang telah mereka pelajari selama ini untuk bertahan hidup di masa itu.


Identitas Buku
Judul : Timeline
Judul Terjemahan : Mesin Waktu
Penulis : Michael Crichton
Penerjemah : B. Sendra Tanuwidjaya
Tebal : 672 Halaman
Kategori : Fiksi Ilmiah, Thriller, Sejarah, Fiksi Sejarah, Petualangan, Time Travel
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Januari 2000
ISBN : 9796556596
Rate : 5/5 Bintang

Review
Sebagai seorang ahli fisika yang briliant, Doniger (38 tahun), yang bernama lengkap Robert Doniger ini juga seorang yang kaya raya. Ia adalah pendiri sebuah perusahaan teknologi informasi terbesar di dunia yang memproduksi dan menjual perangkat keras dan perangkat lunak komputer. Selain Doniger, ada dua orang lainnya di ITC, nama perusahaan tersebut, yang secara bersama-sama, mereka menemukan sebuah mesin. Kedua orang itu adalah John Gordon, yang meruapakan wakil presiden ITC, yang sebelumnya berprofesi sebagai manajer proyek angkatan udara, dan Diane Kramer seorang pengacara handal yang juga sekretaris Doniger.

Mesin hasil temuan tiga tokoh penting di ITC itu, menjadi sesuatu yang kemudian menjadikan 5 orang terlibat dalam sebuah kerjasama dan petualangan yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya akan bisa terwujud secara nyata.

Kelima orang itu adalah Profesor di bidang sejarah, Edward Johnston, sejarawan spesialis teknik, Chris Hughes, seorang ahli fisika bernama David Stern, arsiterk Kate Erickson dan Marek, seorang sejarawan yang tergila-gila dengan kehidupan Perancis di masa lalu. Ia yakin bahwa kehidupan masa lalu tidak kalah dengan kehidupan modern sekarang ini. Apa yang selama ini mereka pelajari di kampus dan menjadi proyek penelitian saat terkait mesin yang diciptakan oleh Doniger dan dua rekannya itu menjadi penentu kemampuan mereka untuk bisa bertahan dalam petualangan yang menegangkan ini.

Hingga pada suatu hari, saat beberapa sejarawan sedang melakukan penelitian terhadap kompleks La Roque, sebuah situs sejarah yang terletak di kawasan Dordogne, sebuah departement di Prancis yang mendapatkan namanya dari sungai yang mengalir di wilayah ini, Elsie, seorang ahli pustaka yang tengah ikut terlibat dalam penelitian tersebut menemukan sebuah dokumen dari tumpukan dokumen lama yang baru saja mereka temukan di reruntuhan Biara Santemere. Dokumen tersebut mereka kenali sebagai tulisan tangan dari Profesor mereka, Profesor Edward Johnston., yang seharusnya sedang berada di ITC untuk menyelediki sebuah kasus. Dokumen yang menurut mereka aneh itu berisi dua kata : "Tolong Aku". Tidak hanya itu yang membuat mereka kaget, karena meskipun sudah diuji dengan berbagai cara, dokumen tetap menunjukkan bahwa itu ditulis pada tahun 1361 M, ratusan tahun yang lalu.

Di tengah kondisi mereka yang terkaget-kaget itu, Marek mendapat telepon dari ITC untuk membawa 4 orang anggota tim yang paling mengenal Dordogne untuk segera datang ke ITC untuk menyelamatkan hidup Profesor Edward Johnston.

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Profesor Edward Johnston? Berhasilkah ia diselamatkan? Apa pula kaitan Profesor Johnston dengan dokumen tua yang berasal dari tahun 1361 Masehi tersebut?

==================

Ini adalah kali pertama saya membaca buku dari karya penulis asal Amerika, Michael Crichton (23 Oktober 1942 - 4 November 2008). Sebuah novel yang syarat akan bahasan ilmiah, terutama fisika dan kimia. Pada beberapa halaman awal, dan dialog-dialog para tokohnya, banyak tertulis kutipan-kutipan pernyataan dari para ahli fisika kuantum, karena memang, teori fisika kuantum ini menjadi ide utama dalam cerita ini. Tapi jangan khawatir, karena istilah-istilah fisika dan kimia yang berkaitan dengan isi cerita tersebut sebagian besar dijelaskan dalam bentuk catatan kaki. Begitu pula, dengan arti/terjemahan dari percakapan-percakapan dialog para tokoh yang kadang menggunakan bahasa Latin.

Saya sangat menyukai buku ini, bukan hanya dari isi ceritanya saja tapi juga dari cara penulis menjelaskan tentang canggihnya teknologi yang diciptakan oleh perusahaan ITC tersebut. Selain itu, setting waktu dan tempat di abad ke-14 digambarkan dengan detail sehingga kadang saya merasa ikut serta berpetualang di dalamnya, hehehe...


Saya merekomendasikan buku ini bagi kamu yang menyukai bacaan dengan "bumbu" fiksi ilmiah, perjalanan menembus waktu, teknologi, thriller, sejarah, aksi dan petualangan bahkan juga perang yang menegangkan, yang kesemuanya itu "diracik" Chricton dalam sebuah buku berjudul Timeline ini. Bahkan dari informasi yang saya baca di situs pribadinya (www.michaelcrichton.com), Crichton sampai menghabiskan waktu 1 tahun untuk penelitian sebelum akhirnya ia menulis buku ini. Untuk edisi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini, terjemahannya juga bagus, hanya ada sedikit kata-kata yang mengalami kesalahan pengetikan tapi itu tidak terlalu mengganggu saat membacanya.

Daaan, setelah selesai membaca Timeline ini, saya jadi penasaran banget dengan buku-buku karya Crichton lainnya yakni The Andromeda Strain (1969), Congo (1980), Sphere (1987), Jurrasic Park (1990), Airfame (1991), Diclosure (1993),  The Lost World (Jurassic Park, #2 (1995)), Prey (2002), dan State of Fear (2004). Sayangnya tidak lagi karya-karya terbaru dari penulis kelahiran  Chicago, Illinois, Amerika, 66 tahun lalu ini, karena ia sudah meninggal dunia pada tahun 2008 di  Los Angeles, California, Amerika, akibat penyakit kanker tenggorokan yang dideritanya.

"Tujuan sejarah adalah menjelaskan masa kini, untuk mengatakan mengapa dunia disekitar kita begini adanya"
(Timeline - Michael Crichton)

Thursday, October 15, 2015

Puncak Hujan Meteor Orionids, 21 Oktober 2015

1 comment
Meteor adalah benda langit yang masuk ke dalam wilayah atmosfer bumi yang mengakibatkan terjadinya gesekan permukaan meteor dengan udara dalam kecepatan tinggi. Akibat adanya gesekan yang yang cepat tersebut menimbulkan pijaran api dan cahaya yang dari kejauhan kita melihatnya seperti bintang jatuh. Yang membuatnya bercahaya adalah karena partikel ini memiliki kecepatan tinggi, sekitar 35-70 km per detik. Gesekan dengan atmosfer membuat suhu partikel meningkat dan akhirnya seperti bercahaya. Meteor terjadi setiap saat di langit, entah sendiri-sendiri atau sporadik bersama-sama membentuk sebuah hujan meteor.

Setiap tahunnya, terjadi beberapa kali hujan meteor di langit. Biasanya puncak dari meteor yang berjatuhan adalah menjelang pagi saat matahari terbit. Pada bulan Oktober misalnya, terjadi dua peristiwa hujan meteor. Kedua hujan meteor tersebut adalah hujan meteor Draconids yang berasal dari sisa-sisa debu komet Giacobini-Zinner yang biasanya terjadi pada minggu ke-2 bulan Oktober. Selain Hujan meteor Draconids, juga ada hujan meteor Orionids yang berasal dari gugusan debu sisa komet Halley. Radiant meteor-meteor ini berasal dari konstelasi Orion, biasanya terjadi pada sejak mulai minggu pertama Oktober hingga awal November.

Pada tahun 2015, hujan meteor Orionids berlangsung sejak tanggal 2 Oktober sampai dengan 7 November 2015 dan akan mencapai puncak aktifitasnya pada tanggal 21 Oktober 2015.

Puncak Hujan meteor Orionids, 21 Oktober 2015
Hujan meteor Orionids tergolong kedalam hujan meteor mayor dimana intensitas meteor yang tampak dilangit cukup banyak. Intensitas hujan meteor Orionids mencapai sebanyak 15 sampai 25 meteor/jam.

Melihat kondisi Bulan yang sedang berada pada fase Bulan cembung (Waxing Gibbous) maka dalam separuh malam dapat diprediksikan langit akan cukup terang dan meteor-meteor redup dari hujan meteor Orionids dapat teramati dengan baik.

Jadi, tertarik untuk mengabadikan, mengamati atau hanya sekedar menyaksikan hujan meteor Orionids? Boleh banget, bisa mulai dilakukan sejak pukul 21.00 WIB, pada tanggal 20 Oktober hingga pagi tanggal 21 Oktober 2015. Meteor-meteor Orionids akan terlihat melesat dari arah rasi Orion (yang disebut juga dengan nama rasi Waluku) yang berada tepat di atas pada waktu dini hari. Maka waktu terbaik untuk menyaksikan hujan meteor ini adalah antara pukul 01:00 sampai dengan 04:00 WIB, saat posisi rasi Orion masih tinggi.


Puncak hujan meteor Orionids ini dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Asalkan saja, cuaca cerah saat pengamatan dan eskipun cahaya bulan tidak akan mengganggu pengamatan, tetap hindari polusi cahaya lampu untuk pengamatan terbaik.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan peristiwa hujan meteor ataupun pada saat puncak aktifitasnya seperti ini. Karena dengan ukuran hanya sebesar debu atau kerikil, meteor Orionids bakal lenyap sepenuhnya akibat sublimasi brutal saat menembus atmosfer di ketinggian 70 s/d 90 km dari permukaan laut.

Menjelang matahari terbit pada tanggal 21 Oktober, selain bisa melihat hujan meteor, pengamat juga akan menyaksikan penampakan 3 planet diarah langit sebelah timur yakni Venus, Mars, dan Jupiter.

Semoga bermanfaat. Semoga langitmu cerah.


Jika keadaan tidak memungkinkan, Hujan Meteor ‪‎Orionids ini juga‬ bisa disaksikan secara live streaming dimulai pukul 7:00 WIB 22 Oktober 2015 di :




Sumber dan Referensi :

Rice Crust Pizza

1 comment
This is it....

Ini pizza. Eh iya bukan, ini nasi. Mirip pizza? Tapi ini bukan pizza. Ini nasi. Iyaa, nasi yang dimasak dan hasilnya seperti pizza kaaan? Hehehe.... *maksa*



Jadi, tadi siang itu nonton acara yang membahas tentang pizza. Hwahh... Jadi pengen. Tapi, berhubung disekitaran rumah gak ada yang jual Pizza, cuma adanya yang jual bakwan -_- 
Dan bahan-bahan buat bikin pizza nya pun gak ada, cuma ada saus botolannya aja dan sedikit oregano. Makaa, terpikirkanlah untuk berkreasi dengan nasi. Tapi... Apa lagi? Tadi itu bingung, gimana cara membuatnya ya...??? Hehee

Googling dikit, ternyata ada juga yg berbagi resep membuat semacam pizza tapi dari nasi!!! Keren. Langsung praktek deh. Sayangnya di resep itu pakai telur. Aku gak makan telur. Ahaa...aku punya ide! Jadilah resepnya seperti ini:

Bahan :
> 1/2 mangkuk nasi
> 2 sdm maizena, cairkan. Tapi bikin kental aja jgn terlalu cair. Akan lebih baik menggunakan telur...tapi berhubung aku gak makan telur, gak pakai telur deh
> Garam, merica dan oregano secukupnya
> Margarin
> Saus sambal
> Saus pizza
> Keju untuk toping, bisa juga tambahkan bakso atau daging cincang atau apa aja deh yang kamu suka yang biasanya jadi topping pizza favorit kamu

Cara membuat :
1. Campur nasi dengan cairan maizena kental (atau telur, jika menggunakan telur) garam, merica dan oregano.
2. Panaskan teflon. Setelah panas, gunakan api kecil. Lalu olesi rata permukaan teflon dengan margarin.
3. Tuang nasi ke teflon, ratakan dan tutup supaya matangnya merata. Kalau teflonnya persegi? Ya bikin aja nasinya jadi lingkaran gitu, kan biar mirip pizza. Hahaa....
4. Setelah setengah matang, olesi nasi dengan saus sambal, lalu saus pizza. Olesinya rata aja, biar cepet kering. Taburi keju parut dan topping lainnya sesuai selera.
5. Biarkan sampai nasi matang dan sausnya mengering. Tetap dengan api kecil yaa...

Setelah matang, angkat dan... Pizza nasi siap dihidangkan. Nom... Nom... Nom... Selamat mencoba.

Apa? Oh di foto, pinggiran nasinya gosong?
Ahh, enak kok, jadi ada sensasi kriuk-kriuknya gituu, hehehe... Nah, karena kriuk-kriuk kerak atau crust-nya itulah, makanya makanan ini aku kasih nama Rice Crust Pizza ^_^

Thursday, October 8, 2015

Saya dan Bookmark

2 comments
Markah buku (Bahasa Inggris: bookmark) atau pembatas buku adalah suatu markah yang diberikan untuk menandai lokasi pada suatu karya cetak.

Iniii, beberapa bookmark koleksi saya.
Ada yang merupakan bawaan bukunya sendiri, ada yang bonus dari toko tempat saya membeli buku, ada rajutan, origami, kain flanel, dari benang wol, print-an karikatur sendiri, hihii... ya laah, narsis itu pentiing!!. Terus, ada yang hanya guntingan dari gambar-gambar yang menurut saya lucu atau saya suka. Seperti bookmark bergambar Usagi diatas, ini saya temukan dari majalah, saya gunting dan laminating. Tadaa, jadi deh bookmark dengan gambar tokohkartun kesayangan :)

Daaan... as a proud bookworm, buat saya bookmark atau pembatas buku itu penting banget. Kenapa? karena sangat membantu saya untuk mengingat dan menandai halaman ketika harus berhenti pada halaman tertentu saat membaca buku, tanpa harus merusak buku tersebut dengan melipat halaman dan membalikannya dalam keadaan terbuka. Eh tapi, omong-omong tentang melipat halaman buku, pada keadaan tertentu sebenarnya saya sering melakukan hal itu. Tapi melipatnya pun gak yang sembarangan, cukup sedikit saja di bagian ujung kertasnya. Ini sangat membantu, saat di kemudian hari saya membutuhkan kutipan atau informasi yang tertulis pada suatu halaman dalam sebuah buku.

Balik lagi ke bookmark, buat saya, membaca buku tanpa bookmark ituuu... ibarat tidak mendapat kabar dari seseorang yang berarti buat saya. #tsaah.... Bikin resah dan gelisah. Iya, resah dan gelisah bagaimana nanti harus menandai halaman tertentu ketika harus berhenti membaca sebelum sampai pada halaman terakhirnya. ^_^

Pada umumnya ya, jenis pembatas buku yang sering digunakan itu biasanya berupa secarik kertas atau seuntai tali. Nah, mungkin kamu bosan dengan pembatas buku yang biasa-biasa saja? Berikut ada beberapa ide bookmark yang pernah saya buat,


Semoga bermanfaat yaa... Atau bahkan mungkin, dari bookmark-bookmark yang saya buat itu, justru memunculkan ide-ide kreatif lainnya dari kamu untuk membuat bookmark-bookmark yang lebih cantik, lucu, unik bahkan mungkin mewah, sangat mewah? Misalnya menggunakan lembaran emas yang di beri taburan bubuk berlian, mungkin? hehehe... selamat berkreasi, semoga dengan bookmark yang gak biasa, bisa bikin kamu lebih semangat lagi baca bukunya :)