Sunday, April 17, 2016

Book Review : Always the Bride by Jessica Fox

No comments
Tidak Semua Hal Dapat Berjalan Sesuai Keinginan Kita

Namun, Zoe Forster selalu berusaha untuk memiliki hidup sempurna. Jadi, ketika ada seorang cenayang pada pesta lajangnya meramalkan bahwa ia akan menikah dua kali, ia tidak ambil puing. Semua orang tahu bahwa Zoe dan Steve ditakdirkan bersama selamanya.

Tetap saja, pernikahan fantastis maca apa pun harus menghadapi lika-liku di kemudian hari dan, dalam setahun, hal-hal tak terduga terjadi. Hadir pula seorang bintang film superseksi bernama Luke Scottman dalam kehidupan Zoe. Zoe dan Steve pun menemukan masa lalu masing-masing yang tidak seindah dugaan mereka. Tampaknya ramalan sang cenayang akan menjadi kenyataan...


Identitas Buku
Judul : Always the Bride
Judul Terjemahan : Pengantin Baru (Lagi)
Penulis : Jessica Fox
Genre : Chick Lit, Romance
Bahasa : Indonesia
Penerjemah : Alphonsus W.P.T. Nugroho
Dimensi Buku : 20,5x13,5 cm/248 halaman/500 gr
Penerbit : Esensi (Erlangga Group)
ISBN : 978-602-7596-27-6
Pertama kali terbit di Indonesia, 2016

Review
Zoe Forster dan Steve Kent, bagi orang-orang disekelilingnya mereka adalah pasangan yang sempurna. Dan kebahagiaan pasangan tanpa cela ini beserta orang-orang yang menyayangi mereka semakin bertambah, karena pada bulan ini, Juni 2009, tepatnya tujuh hari lagi Zoe dan Steve akan melangsungkan upacara pernikahan.

Bersama dengan adik dan sahabat-sahabat perempuan terdekatnya (Fern, Priya, dan Charlotte (adik perempuan Steve), Zoe menggelar pesta lajang. Malam itu mereka saling bertukar cerita, menikmati hidangan yang dimasak Zoe dan tentu saja bahasan tentang pernikahan tidak luput dari obrolan mereka yang diselingi canda tawa itu. Kemudian datanglah Angela, seorang cenayang yang ternyata diundang secara khusus oleh Libby, adik Zoe, untuk memeriahkan pesta lajang kakak perempuan satu-satunya itu. Libby memang tipe orang yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan dunia gaib dan ramalan. Berbeda dengan Zoe yang justru sama sekali tidak tertarik bahkan ia tidak begitu percaya dengan ramalan. Namun malam itu, ketika mendapat kehormatan untuk diramal terlebih dahulu, Zoe tidak menolaknya dengan alasan ia tidak ingin mengecewakan adik dan para sahabatnya. Ia juga tidak ingin, dengan ia menolak diramal, akan mengubah keasyikan suasana malam itu.

Dengan rasa enggan, Zoe mengikuti perintah Angela ketika ia diminta untuk mengocok kartu Tarot dan membaginya menjadi tiga tumpuk. Setelah mengatur dengan pola yang rumit, dan mengaku atas bantuan Roh Pembimbing, Angela kemudian berkata bahwa ada beban berat yang tengah ditanggung oleh Zoe. Tentu saja, Zoe menjawab bahwa itu memang benar. Berminggu-minggu belakangan ini ia sangat sibuk dengan segala persiapan menjelang pernikahannya. Namun, kemudian Angela membantah bahwa bukan itu yang ia maksud, tapi sesuatu yang selama ini berusaha Zoe tutup-tutupi yakni ketakutan akan kegagalan pernikahannya. Ia takut akan ketidaksangggupannya menjalani pernikahan dan ia juga selalu merasa khawatir bahwa Steve akan mempunyai pemikiran yang menganggap pernikahan bukan sebagai sesuatu yang serius. Ia ketakutan Steve tidak akan setia dengan satu istri, seperti ayahnya (ayah Zoe) yang kini memiliki lima orang istri. Didalam hatinya, Zoe mengakui bahwa semua yang disampaikan oleh Angela itu adalah benar. Namun selama ini pula ia selalu berusaha untuk berpikir positip dan mengenyahkan jauh-jauh pemikiran-pemikiran tersebut. Disaat Zoe menolak untuk mempercayai kebenaran yang dikatakan Angela, disaat itu pula Angela memberitahunya bahwa ia akan menikah dua kali!.

Mendengar itu, Zoe merasa marah dan cukup terguncang. Ia yakin betul bahwa ia dan Steve saling mencintai. Tidak mungkin pernikahannya dengan Steve nanti akan berlangsung singkat, lalu ia menikah lagi untuk kedua kalinya? Dengan siapa? Ia juga yakin, Steve adalah belahan jiwanya. Hanya Steve yang sungguh-sungguh ia cintai. Namun bagaimana seandainya apa yang disampaikan oleh Angela itu benar-benar terjadi nanti. Tanpa ramalanpun, hal itu memang mungkin saja terjadi. Tapi, ia benar-benar tidak ingin berpisah dan kehilangan Steve dari hidupnya.

Hari Valentine 2010. Kurang lebih sembilan bulan sudah usia pernikahan Zoe dan Steve. Dan selama itu pula, semua berjalan dengan sangat baik. Zoe sangat bahagia dan bersyukur tentang hal ini. Ini adalah hari Valentine pertama baginya dan Steve sebagai sepasang suami istri. Namun pagi ini Zoe agak sedikit kecewa, karena saat ia bangun, Steve sudah berangkat kerja. Zoe dan Steve sama-sama bekerja pada program BBC terbaru. Mereka sedang terlibat dalam film adaptasi dari novel Henry James, The Portrait of A Lady. Steve sebagai sutradara dan Zoe adalah sang penulis naskah. Kejutan-kejutan kecil berupa post-it yang ditempel di berbagai sudut rumah sedikit mengurangi kekecewaan Zoe di hari Valentine yang ia harap sebelumnya bisa menjadi pagi yang romantis bersama Steve. Dan kekecewaan Zoe semakin sirna ketika mengetahui post-it - post-it tersebut menunjukkan sebuah pesan bahwa Steve mengajaknya makan siang di sebuah restoran. Zoe sangat senang, ia berharap bisa menghabiskan waktu makan siang berdua dengan sangat menyenangkan. Namun sekali lagi Zoe harus kecewa, karena Steve membatalkan janjinya karena urusan pekerjaan yang harus segera ia tangani.

Mengetahui bahwa urusan yang harus suaminya tangani itu adalah pencarian pemeran utama pria dan wanita untuk film yang sedang mereka garap, karena pemain utama sebelumnya mengundurkan diri, Zoe segera memaklumi dan sangat memahami situasi suaminya saat itu. Tidak butuh waktu lama, tim mereka segera mendapat pemain baru untuk film mereka. Bahkan sekaligus untuk pemeran utama pria dan wanitanya. Seluruh tim menyambut kedatangan Luke Scottman, bintang film Hollywood yang tengah naik daun itu di lokasi syuting untuk pertama kalinya dengan sangat antusias. Namun ada kecanggungan dan kegugupan yang menerpa Zoe saat Luke menghampiri dan menyapanya. Sebenarnya Zoe dan Luke sudah saling mengenal sebelumnya. Luke adalah teman semasa kuliahnya sekaligus mantan pacar sahabatnya, Fern. Semua orang berharap situasi krisis kembali normal dan produksi film berlangsung dengan lancar. Terlebih ketika Trinity Duval menyetujui kontrak dan ia mulai melakukan syuting sebagai pemeran utama wanita dalam film tersebut. Hari-hari di lokasi syuting nyaris sempurna.

Namun tidak bagi Zoe, ia sedang kalut dan tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada Steve setelah malam itu. Malam saat ia, Fern dan Luke berencana berkumpul dirumahnya untuk mengobrol dan mengenang masa-masa kuliah mereka karena mereka sudah sangat lama tidak berjumpa. Saat itu, Fern tidak bisa hadir, jadilah hanya ia dan Luke mengobrol dirumahnya dan malam itu Steve tidak bisa pulang karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan, dan Luke terpaksa menginap dirumah mereka karena saat itu sedang terjadi badai salju. Obrolan mereka malam itu terasa cukup canggung namun kemudian terasa menyenangkan bagi Luke, ada semacam rasa rindu yang terobati. Begitu pula bagi Zoe. Dan hal yang tidak Zoe inginkan pun terjadi, Luke mulai mengungkit-ungkit masa lalu mereka berdua. Seolah memahami apa yang Zoe pikirkan, Zoe meminta izin untuk beristirahat karena besok pagi ia harus syuting dengan keadaan segar. Setelah mengantar Luke ke kamar tamu, Zoe masuk kekamarnya dan tidur. Saat pagi, betapa terkejutnya Zoe, ketika melihat banyaknya paparazi di halaman rumahnya dan memaksa mewawancarai dirinya dan bertanya tentang hubunganya dengan bintang Hollywood, Luke Scottman yang tadi pagi tertangkap kamera keluar dari rumahnya.

Berita gosip di majalah dan surat kabar pun segera beredar luas dengan headline dugaan perselingkuhan istri seorang sutradara ternama dengan bintang film Hollywood.

Disaat Zoe sangat gugup ketika berusaha untuk menjelaskan semua kepada suaminya, Steve menanggapinya dengan senyum dan kecupan hangat. Ia berkata Zoe tidak perlu memikirkan hal itu lagi, ia akan lebih percaya kepada istrinya dibandingkan berita-berita gosip diluaran sana. Ia juga berkata ia tahu bagaimana persahabatan antara istrinya, Fern dan juga Luke. Mendapat tanggapan bijak dan dewasa dari suaminya Zoe sangat lega dan merasa sangat beruntung memiliki suami yang sangat baik seperti Steve. Namun masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya, yang betapa ingin segera ia ceritakan kepada suaminya itu tapi ia tidak tahu harus memulainya dari mana. Ia tidak ingin mengecewakan Steve. 

Ditengah kegelisahan Zoe, dan setelah meredanya gosip hubungan gelapnya dengan Luke, Luke justru semakin gencar mendekati Zoe dan berusaha untuk selalu mengungkit hubungan mereka di masa lalu. Dan pada saat itu pula, kembali beredar berita heboh dan kali ini tentang putusnya hubungan pasangan bintang Hollywood, Trinity Duval dengan seorang penyanyi Bobby Robert. Betapa kagetnya Zoe, saat mengetahui bahwa putusnya hubungan mereka karena sebelumnya beredar gosip perselingkuhan Trinity dengan seorang pria misterius, yang Zoe kenali betul bahwa si pria misterius yang memakai topi baseball itu adalah Steve!. Disaat-saat itu pula, Rufus, sang produser dalam tim produksi film mereka yang juga sahabat Steve, mengungkap beberapa fakta masa lalu Steve kepada Zoe. Satu dari fakta-fakta itu, Zoe mengaku sudah mengetahuinya langsung dari Steve bahkan sebelum mereka menikah.

Berkat kepercayaan yang mereka pupuk satu sama lain, setelah Steve menjelaskan bahwa hubungannya dengan Trinity hanya sebatas pekerjaan, begitu juga saat malam ia tertangkap kamera paparazi ketika keluar dari hotel yang ditinggali Trinity, ada urusan yang memang harus mereka selesaikan. Tanpa bertanya lebih jauh urusan apa, Zoe mempercayai apa yang dikatakan Steve. Begitu juga hubungan Trinity dengan Bobby Robert, hubungan mereka membaik, bahkan mereka akan segera melaksanakan pernikahan. Ketika hari pernikahan itu tiba, Zoe dan Steve yang juga hadir disana kaget dengan datangnya seseorang yang memberitahukan bahwa pernikahan Trinity dengan Bobby tidak bisa dilaksanakan. Dan pembatalan pernikahan tersebut penyebabnya berkaitan erat dengan, lagi-lagi... Steve!.

Dan sejak saat itu, hubungan Steve dan Zoe, merenggang.

Mengapa Steve menjadi penyebab batalnya pernikahan Trinity dengan Bobby Robert? 

Sebagai sepasang suami istri, mampukah Zoe memperbaiki hubungannya dengan Steve? 

Namun jika hubungan mereka terus merenggang dan akhirnya mereka berpisah, akankah Zoe menerima cinta Luke yang selama ini terus mendekati dan secara terus terang mengungkapkan perasaannya? 

Lalu sebenarnya hubungan seperti apa yang terjadi antara Luke dan Zoe di masa lalu, sehingga ketika mengingat hal tersebut, membuat Zoe merasa sangat bersalah?

Akankah ramalan dari cenayang di pesta lajangnya dulu benar-benar terbukti, bahwa ia akan menikah dua kali selama hidupnya?

Penasaran dengan jawaban dari pertanyan-pertanyaan diatas? So, what are you waiting for? Go get it. Now!!

Kelebihan dan Kekurangan
Ada lima pelajaran yang saya dapatkan setelah membaca buku ini :
1. Akad nikah bukanlah sekedar kata-kata formalitas yang terucap dari mulut laki-laki untuk mensahkan hubungan suami istri, melainkan adalah sebuah perjanjian suci yang ikatannya amat kokoh dan kuat, karena bukan hanya berjanji dihadapan penghulu, wali dan saksi saja, tetapi melibatkan perjanjian dihadapan Tuhan.

2. Sebagai seorang yang belum menikah, buku ini mengajarkan saya betapa pentingnya menjaga komunikasi yang jujur dan terbuka dengan pasangan saya kelak.

3. Pernikahan bukan sekedar menyatukan dua insan dalam sebuah pelaminan, karena pada dasarnya, pernikahan berarti menjalani hari-hari dalam kebersamaan, untuk saling melindungi, saling memberikan rasa aman, saling mempercayai, saling mencurahkan perasaan, saling menunaikan kewajiban, saling memaafkan kesalahan, bahkan untuk saling menutupi aib, tidak saling menyimpan dendam dan kemarahan, tidak mengungkit–ungkit kelemahan, kekurangan, dan kesalahan pasangannya.

4. Hidup ini kadang memang terasa berat untuk dijalani, tapi percayalah bahwa akan ada jalan keluar untuk setiap permasalahan dan kesulitan yang kita hadapi.

5. Kalau sudah jodoh gak akan kemana :)

6. Pahamilah, bersikap perfeksionis itu baik, tapi kadang apa yang menurut kita baik dan sempurna itu, belum tentu demikian bagi orang lain.

Berbicara buku ini secara fisik, buku yang berjudul asli Always the Bride (Hen Night Prophecies) ini, saya suka banget, dengan nuansa putih dan efek lukisan bunga mawar, desain gambar perempuan memakai gaun pengantinnya sangat pas sekali dengan isi dan jalan ceritanya. Sayang, seandainya ukuran font-nya satu tingkat lebih besar pasti akan lebih enak untuk dibaca. Satu lagi yang saya sayangkan, buku ini tidak dilengkapi dengan pembatas buku, yang akan sangat bermanfaat sekali bagi pembacanya.

Sedangkan dari segi cerita, ide ceritanya bisa dibilang tidak sederhana karena melibatkan lebih dari 4 tokoh, yang saling berkaitan satu sama lain. Tapi tidak terlalu rumit juga, masih asyik untuk diikuti. Agak lambat dan membosankan di bab-bab awal. Tapi semakin banyak halaman yang terlewati, saya menyukainya. Apalagi setelah mencapai pertengahan, ketika mulai banyak kejutan yang disajikan. Dan pada bagian akhirnya, saya suka! Malah yang awalnya mau men-cap buku ini sebagai bacaan yang membosankan, jadi ketagihan...ahh kok udahan aja sih ceritanya :(

Ada beberapa bagian yang rasanya (entah mungkin ini hanya menurut saya saja) kurang enak untuk di baca, seperti banyak penggunaan kata sial dan penerjemahan istilah-istilah, (salah satunya, "...mengerucutkan bibir seperti pantat burung...", eh burung atau bebek ya...hehe, aku juga lupa ini dihalaman berapa, gak sempat ditulis), disini aku tidak menyalahkan penerjemahnya, karena mungkin saja sudah ditentukan untuk menerjemahkan dengan tetap memberikan "cita rasa" aslinya, tapi mungkin sebenarnya bisa lebih disesuaikan dengan pembaca kita. Begitu juga untuk istilah atau kata-kata dalam bahasa Italia, kutipan-kutipan yang diambil dari buku/novel tertentu, nama-nama jenis makanan dan majalah lokal yang disebutkan diberi penjelasan dalam bentuk catatan kaki. Itu pasti akan sangat membantu pembaca untuk lebih memahami apa yang sedang dibaca dan juga akan menambah pengetahuan pembaca juga. Oke, mungkin di buku aslinya memang tidak ada catatan kakinya. Tapi mungkin perlu diingat, ketika ada pembaca yang wawasannya tidak terlalu luas, rasanya catatan kaki itu penting banget, hehe... :)

Sedangkan dari segi watak dan tokoh, cerita yang bersetting di London tahun 2009-2010 ini, saya tidak akan membahas semua tokohnya tapi hanya dua tokoh utamanya saja, Zoe Forster dan Steve Kent. Sama Zoe, saya ada suka sama tidak sukanya. Saya tidak suka dengan sifat masa mudanya yang labil, seolah tidak mampu menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Bisa dimaklumi sih sebetulnya, namanya juga masih muda. Tapi hal itu terbawa sampai ia dewasa bahkan saat ia berstatus sudah menikah. Ia masih mudah goyah ketika mendapat ajakan lelaki dari masa lalunya untuk bersama. Tapi saya suka sama sifatnya yang perfeksionis itu lho, hahaha... pada bagian ini saya serasa lagi baca tentang diri saya sendiri, yang selalu menginginkan segala sesuatunya tertata dengan baik, rapi, sempurna dan orang-orang disekeliling saya merasa bahagia. Sedangkan Steve, saya suka banget sama tokoh ini. Kejujuran, keterbukaan, kebaikan hatinya itu lho dan cara dia mencintai serta memperlakukan Zoe sebagai istrinya. Sangat patut dicontoh bagi para suami diseluruh dunia.

Ada beberapa kesalahan pengetikan yang saya temui pada buku ini :
- halaman 60 : sedernaha ---> seharusnya : sederhana
- halaman 235 : berjaan ---> seharusnya : berjalan

Kutipan-Kutipan Favorit
1. "Kepercayaan adalah sesuatu yang harus kau miliki dalam pernikahan,..." (halaman 107)

2. "Kesempurnaan bukanlah segalanya" (halaman 152)

3. "Orang membuat kesalahan karena itu adalah bagian alami dari seorang manusia. Semua orang berhak mendapat pengampunan" (halaman 171)

4. "Namun, apakah gairah cukup menjadi dasar sebuah pernikahan? Bagaimana dengan cinta?" (halaman 212)

5. "Terkadang jauh lebih mudah tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin tidak menegangkan, tetapi jauh lebih mudah" (halaman 240)

Rate : 3/5

Recommended buat kamu yang sedang ingin membaca cerita dengan kejutan-kejutan yang tidak terduga sebelumnya :)

Buku ini saya dapatkan sebagai salah satu pemenang Free Gift for Blogger dari Penerbit Esensi. Terima kasih yaa... Terima kasih juga atas kepercayaan untuk mereview  buku ini, dan semoga bisa bermanfaat.

Wednesday, April 13, 2016

Book Review : Endlessly (Paranormalcy #3) by Kiersten White

No comments
VAMPIRE
Aku Tidak Berasal Dari Dunia Ini

WEREWOLF
Aku Tidak Dapat Memasuki Dunia Itu

FAERIE
Aku Akan Membawamu Kembali Ke Keabadian Duniaku

SHAPESHIFTER
Sudah Waktunya Aku Memilih Dunia Untukku

Ditengah kesibukannya menjadi panitia penyelenggara Pesta Musim Dingin di sekolah, Evie dikejutkan oleh kehadiran orang IPCA – bukan Raquel - yang memaksanya untuk kembali. Dan sekumpulan makhluk paranormal yang memintanya untuk menolong mereka sebelum ramalan mengerikan terjadi.

Ketika Ratu Kegelapan menculik Lend, Evie tidak punya pilihan selain terjun ke dalam pertarungan antarkerajaan faerie. Pertarungan yang akan menyelamatkan atau mengakhiri semua yang ia sayangi.


Identitas Buku
Judul : Endlessly (Paranormalcy #2)
Penulis : Kierstein White
Genre : Fantasy, YA, Romance
Bahasa : Indonesia
Penerjemah : Nadya Andwiani
Tebal Buku : 448 Halaman 
Penerbit : Laluna and Friends
ISBN : 978-602-70410-1-1
Cetakan Pertama, Januari 2015

Review
Evie, kini menolak disebut sebagai The Empty One. Alasannya, tentu saja karena kini bukan hanya dia seorang yang memiliki kemampuan tersebut. Apalagi setelah pengalaman terakhir yang cukup mengerikan bagi Evie, yaitu ketika ia terjebak dalam alam faerie akibat ulah Jack, dan mendapatkan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh kaum faerie menyangkut kelangsungan hidup makhluk supranatural lainnya, termasuk manusia fana. Saat ini, Evie lebih memilih menjalani kehidupan selayaknya manusia normal. Mengisi waktu luang bersama Lend, yang kini menjadi kekasihnya. Evie juga telah meminta izin kepada Raquel dan mengurus ijin keluar dari IPCA, untuk selamanya.

Setelah Evie menjalani rutinitas kehidupan yang cukup tenang, ia merasakan keanehan yang tak mampu dijelaskan berkaitan dengan makhluk-makhluk supranatural di lingkungan tempat tinggalnya.

Apakah itu?
Belum sempat Evie membongkar misteri dibalik keanehan perilaku beberapa kenalannya, ia dikejutkan dengan peristiwa-peristiwa yang luar biasa, sebagai pertanda adanya perubahan besar-besaran di dunia manusia dan juga dunia supranatural. Dimulai dari menghilangnya Raquel dan posisinya digantikan sosok wanita lain yang mengerikan. Dengan atas nama IPCA, ia  karena ia berniat memanfaatkan Evie atas kemampuan yang ia miliki.

Ternyata memang benar, ada sebuah rencana besar menyangkut nasib para makhluk supranatural di dunia. IPCA yang seharusnya melindungi mereka, kini justru berbalik menyerang dan menahan mereka yang selama ini dalam perlindungan.

Mengetahui hal tersebut, Evie tidak bersedia ikut serta dalam kegiatan tersebut. Ia berusaha menemukan Raquel yang tidak diketahui keberadaannya. Ketika itu pula, ditengah pencariannya terhadap Raquel, ia menemukan rencana rahasia yang melibatkan konspirasi antara Kaum Faerie, manusia fana dan makhluk-makhluk supranatural lainnya dan mereka semua sepakat bahwa hanya Evie yang sanggup menangani segala permasalahan dan kekacauan yang tengah terjadi itu, yang juga mengancam kelangsungan hidup semua pihak di masa depan.

Evie, sang The Empty One,  satu-satunyalah yang bisa membuka dan menutup portal waktu untuk memindahkan kaum faerie dan makhluk supranatural ke asalnya. Namun sayangnya hal ini juga berarti membahayakan jiwanya sendiri. Selain itu, karena Lend juga salah satu makhluk setengah supranatural, maka tentu saja Evie juga ketakutan membayangkan kehidupan tanpa ada Lend di sisinya.

Pilihan mana yang kemudian akan Evie pilih?

Penasaran? Silahkan baca bukunya ya... lebih asik lagi kalau dibaca mulai dari buku pertama dan keduanya.

Rate : (3/5)

Setelah selesai membaca seri ini, yang terdiri dari 3 buku, menurut saya... ceritanya biasa-biasa aja, eh tapi sekali lagi, ini cuma menurut saya aja lho, hehehe... Jadi di sepanjang cerita, bahkan dari buku satu sampai ke buku yang ketiganya ini, menurut aku gak ada ketegangan yg bikin gimanaaa gitu. Si tokoh utama yang seperti tertulis direview, bekerja di semacam organisasi penertib makhluk-makhluk paranormal. Ini unik sih, terlebih karakter dan gambaran tentang fairy, werewolf, vampire, shape-shifter, troll dan mermaid, dan yang lainnya itu diceritakan sama sekali berbeda dari legenda/dongeng yang biasanya. Secara keseluruhan, cukup menghibur. Recommended buat para pecinta cerita dengan makhluk-makhluk paranormal didalamnya.

Book Review : Supernaturally (Paranormalcy #2) by Kiersten White

No comments
VAMPIRES
Aku Mengira Aku Tahu Cara Melindungimu

WEREWOLF
Aku Mengira Aku Tahu Duniaku

FAERIES
Tetapi Dunia Mulai Bergeser. Hal-Hal Mulai Berubah

SHAPESHIFTER
Dan Sejujurnya, Aku Tidak Tahu Apapun

Evie akhirnya memiliki kehidupan normal yang selalu ia dambakan.
Namun menjadi normal terasa... membosankan.
Merasa perlu jeda dari kebosanannya, Evie pun memenuhi permintaan Raquel untuk kembali bekerja pada IPCA.

Tetapi saat satu misi berbahaya mengarah kemisi lainnya, Evie mulai bertanya-tanya apakah dia membuat keputusan yang tepat. Dan ketika masa lalunya terungkap, Evie menyadari bahwa akan ada pertempuran antara istana peri yang dapat membawa seluruh dunia supernatural ke dalam kekacauan.


Identitas Buku
Judul : Supernaturally (Paranormalcy #2)
Penulis : Kierstein White
Genre : Fantasy, YA, Romance
Bahasa : Indonesia
Penerjemah : Nadya Andwiani
Tebal Buku : 404 Halaman 
Penerbit : Laluna and Friends
ISBN 13 : 978-602-97197-8-9
Cetakan Pertama, November 2013

Review
Evelyn alias Evie yang sewaktu masih bekerja untuk IPCA ( The International Paranormal Containment Agency) masuk dalam golongan makhluk supranatural yang tidak terdefinisikan alias tidak ada manusia atau makhluk supranatural yang memiliki kemampuan seperti dirinya. Namun, itu dulu sebelum akhirnya ia bertemu dengan Vivian yang ternyata memiliki kemampuan yang serupa, yaitu bisa "menghisap" hawa murni dari  sosok makhluk supranatural. Hanya saja, selain bisa Vivian bisa "menghisap" hawa murni tersebut, ia juga "melahap" habis energi dan jiwa makhluk lain, sedangkan Evie, tidak pernah melakukan hal tersebut. Ia berpikir, dengan melakukan itu ia sama saja dengan menyakiti makhluk lain.

Maka, demi menjaga keamanaan dan kelangsungan makhluk hidup lainnya, baik para makhluk supranatural maupun normal, maka Evie mau tidak mau harus "melenyapkan" Vivian dengan cara "melahap" energi serta jiwanya. Kemudian
langkah berikutnya, keluar dari IPCA dan hidup di dunia luar bersama Lend. Ayah Lend, David adalah mantan IPCA yang memutuskan keluar dan membentuk kelompok tersendiri, membantu kaum supranatural yang memilih jalan kehidupan bebas tanpa aturan yang terlalu mengikat. Sehingga, Evie tahu mengapa Lend bisa tampak begitu "unik" dan "indah", karena ibunya Cresseda adalah nymph. Kini, sebagai salah satu anak asuh David, Evie menjalani kehidupan sebagai pelajar SMU normal, suatu kehidupan yang selama ini impi-impikan.

Namun, ternyata kehidupan dunia nyata tidak sepenuhnya menarik sebagaimana yang ia pikirkan sebelumnya. Baginya,sekolah ternyata sangat-sangat menjemukan, pelajarannya membosankan, guru-gurunya mengerikan, dengan perkecualian loker pribadi yang tetap menjadi favoritnya. Dan untungnya, ada Carlee sahabat barunya, (Carlee asli manusia biasa yang selalu berpenampilan keren dan menarik), maka sekolah masih bisa tertahankan. Bahkan, Arianna, vampir teman berbagi kamarnya nyaris bisa dikatakan baik hati, terlepas dari tampilan gothic dan suasana hatinya yang selalu kelam, mampu memberikan penghiburan, karena Lend yang makin jarang ia jumpai, semenjak ia sibuk dengan urusan kampusnya

Raquel kemudian mendadak muncul, meminta bantuannya untuk menanggulangi masalah yang terjadi di IPCA. Disusul dengan makhluk-makhluk supranatural yang tak pernah diketahui atau dikenali, yang sering ia temui disekelilingnya. Entah itu dijalanan, di sekolah bahkan di area tempat tinggal dan tempat kerjanya.

Demi kelancaran banyak hal yang harus ia lalui sehari-harinya Raquel menugaskan remaja hiperaktif bernama Jack, manusia biasa yang memiliki kemampuan unik, mampu menelusuri jalur faerie yang bagai labirin mengerikan bagi kaum lainnya. Sayangnya Jack rupanya memiliki aneka ide untuk bersenang-senang tanpa memperhatikan batasan waktu atau lokasi. Termasuk menyusup masuk dalam kamar Evie, muncul di tengah kamar ganti wanita saat jam olah raga, atau membawaku berjalan-jalan ke tempat-tempat terlarang, termasuk ke Alam Faerie, hingga memicu amarah Lend ketika memergoki
Evie bersama-sama dengan Jack.

Di saat nyaris semua impian-impian Evie terwujud, justru disaat-saat itulah Evie merasa kehidupannya semakin sulit dan berantakan. Mampukah Evie melewati segala kenyataan berat yang harus ia jalani?, terutama ketika rahasia kelam yang selama ini membuatnya penasaran, mulai terungkap secara perlahan.

Rate : (3/5)

Book Review : Paranormalcy (Paranormalcy #1) by Kiersten White

No comments
VAMPIRE
Aku Melihat Sesuatu Yang Tidak Dapat Kau Lihat

WEREWOLF
Aku Mengetahui Apa Yang Memburumu

FAERI
Akulah Pelindungmu

SHAPESHIFTER
Namun Kini, Aku Pun Tak Dapat Melindungimu

Evie selalu menganggap dirinya remaja normal, meskipun ia bekerja untuk Paranormal Containment Agency. Mantan pacarnya adalah faery, dan ia satu-satunya orang yang bisa melihat melalui Glamour paranormal.


Identitas Buku
Judul : Paranormalcy (Paranormalcy #2)
Penulis : Kierstein White
Genre : Fantasy, YA, Romance
Bahasa : Indonesia
Penerjemah : Silvero
Tebal Buku : 410 Halaman 
Penerbit : Laluna and Friends
ISBN 13 : 978-602-97197-2-7
Cetakan Pertama, Mei 2013

Review
Evelyn, yang akrab dipanggil Evie ini sepanjang hidupnya tidak pernah mengenal dan mengetahui kedua orang tuanya. Dimana mereka, masih hidupkah atau tidak, Evie tidak mengetahuinya. Yang ia tahu hanyalah IPCA (The International Paranormal Containment Agency ; Badan Pengendalian Paranormal Internasional) yang telah menjadi tempat tinggal dan tempat ia tumbuh selama ini, sejak ia berusia 8 tahun. Saat itu pula, Evie diketahui memiliki kemampuan khusus yang sangat unik. Ia mampu "melihat" wujud asli makhluk non manusia dibalik "glamour"/"samaran" yang menyelubungi
sebagian besar makhluk-makhluk tersebut.

Sejak usia 8 tahun itu pula, Evie direkrut menjadi salah satu agen handal yang bertugas melacak dan menangkap makhluk-makluk yang melanggar ketentuan IPCA, demi keamanan dan kelangsungan hidup (baik makhluk paranormal maupun makhluk normal) bersama di dunia.

Suatu hari, muncul penyusup aneh di dalam markas IPCA, yang saat itu tertangkap sedang berusaha mencuri data dan informasi rahasia. Makhluk tersebut berwujud sangat "indah" dimata Evie. Kemudian, diketahui makhluk itu bernama bernama Lend, seorang pemuda berpenampilan menarik yang kemudian memberikan informasi pengetahuan baru bagi Evie, tentang kehidupan di luar IPCA, bahwa IPCA yang selama ini dikenal sebagai penjaga stabilitas dan keamanan, justru memusnahkan hampir sebagian besar makhluk supranatural, terutama mereka yang tidak bersedia tunduk pada aturan dan kendali IPCA. Perlahan, pemahaman dan kepercayaan Evie mulai goyah terhadap IPCA.

Meskipun begitu, Evie berkeyakinan ia tidak mau percaya begitu saja kepada Lend, maka ia pun berusaha untuk mencari informasi tambahan, untuk memperjelas fakta-fakta yang menurutnya sangat menarik sekaligus mengerikan itu. Disaat-saat itu pula, muncul serangkaian peristiwa aneh yang terjadi bukan saja pada IPCA melainkan pada makhluk-makhluk supranatural. Mulai dari gangguan oleh kaum faerie (terutama sesosok yang dikenal dengan nama Reth), peri yang selalu berusaha memikat dan mempengaruhi Evie untuk mengikutinya ke alam faerie, hingga serangan terhadap kaum werewolf penjaga keamanan IPCA dan serbuan kaum vampir.

Mendapati kekacauan yang terjadi, Raquel, pimpinan IPCA yang selama ini dikenal sebagai sosok yang serba tahu, tentang apa, bagaimana tindakan yang harus diambil ketika ada kekeliruan dalam sistem mereka, kini ia tampaknya nyaris putus asa.

Diam-diam Evie berteman dengan tahanan terlarang, si penyusup, Lend ; makhluk supranatural yang ternyata mampu berubah wujud menyerupai siapa saja. Selain itu, Evie juga tengah merencanakan sesuatu untuk membebaskan dirinya untuk keluar dari IPCA. Dengan bantuan Lend dan Tasey, senjata taser berwarna pink, Evie tak mampu menghadang lawan yang akhirnya berhasil "menanamkan" sesuatu ke dalam tubuhnya. Dan kini, Evie bukan hanya Evie, 
gadis remaja yang suka sekali menonton Easton Heights, sebuah tayangan opera sabun yang terkenal, serta mengidamkan kehidupan normal sebagai seorang pelajar, dan terkadang berperan sebagai pelacak makhluk supranatural yang membandel bagi IPCA, karena muncul makhluk lain bernama Vivian, yang ternyata memiliki kemampuan serupa dengan dirinya : The Empty One, dan kini ia justru mulai memburu Evie.

Lalu makhluk apakah Evie sebenarnya? Makhluk paranormalkah atau makhluk normal yang yang memiliki kelebihan khusus? Dan mengapa pula Reth terus mengejar Evie?

Rate : (3/5)


Penghargaan yang diraih oleh buku ini :
A Whitney Award Winner
A YALSA Teen Top Ten Winner
A Utah Book Award Winner

Friday, April 1, 2016

Book Review : Honeymoon for Sophie by Retha

1 comment
Sophie :
Sebentar lagi aku akan menikah dengan Maxi, pria paling tampan dan romantis yang pernah hadir dalam hidupku. Hidupku akan sempurna bersamanya. Aku akan menjadi Nyonya Maxi. Impian indah yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan...

Mona :
Aku nggak punya keinginan yang muluk-muluk, kok!
Aku cuma mau ada seorang pria yang datang melamarku dan membuat semua orang berhenti bertanya kepadaku, "Kapan Nikah?"
Oke, sebenarnya masih ada satu lagi keinginanku, yaitu mendapatkan bos yang bukan titisan Godzilla.
Simpel, kan?!



Identitas Buku
Judul : Honeymoon for Sophie
Penulis : Retha
Genre : Romance, Chicklit
Penyunting : Maharani Auditya
Ilustrasi : Amalia Pratifasari
Bahasa : Indonesia
Tebal/Ukuran Buku : 264 Halaman/19x13 CM 
Penerbit : Bhuana Sastra 
ISBN 13 : 978-602-394-116-2
Cetakan Pertama, 2016

Review
Mona (29 tahun), dibuat kaget oleh permintaan Sophie (23 tahun), adik satu-satunya yang meminta untuk segera dinikahkan dengan Maxi, kekasih yang dipacarinya selama 6 bulan terakhir ini. Tentu saja, orang tua mereka juga sangat kaget mendengar permintaan Sophie, yang saat ini karier pekerjaannya sedang cemerlang itu.

Menurut mereka, Sophie masih muda dan waktu 6 bulan masa pacaran mereka itu juga masih terlalu dini bagi Sophie dan Maxi untuk memutuskan menikah. Terlebih lagi, pertemuan keluarga Sophie dengan Maxi selama ini, bisa dihitung dengan jari.

Buat keluarga Sophie, sejauh ini Maxi adalah pria yang belum jelas bibit, bebet dan bobotnya. Ayahnya, babeh Samson, sang pemilik 20 rumah petak kontrakan yang tersebar di daerah Cisauk dan Serpong itu memang tipe orang yang mudah panik, sehingga begitu mendengar permintaan putri bungsunya itu, beberapa kali dengan blak-blakannya bertanya apakah Sophie dalam keadaan hamil, sehingga secara mendadak minta untuk dinikahkan dengan pacarnya itu. Dengan tegas Sophie, menjawab ia tidak hamil. Ia hanya ingin segera menjadi istri Maxi, pria yang menurutnya paling tampan, baik hati, perhatian dan sangat romantis itu. Ia yakin, Maxi bisa menjadi suami yang baik untuknya. Namun, kakak dan kedua orang tuanya masih tetap tidak yakin dengan Maxi yang berprofesi sebagai seorang chef di hotel berbintang itu.

Sebenarnya, bukan hanya masalah pacaran yang singkat dan bibit, bebet serta bobot Maxi, ada hal lain yang membuat gundah dan ragu perasaan ayah dan ibunya, yaitu Mona. Hingga kini, Mona, anak sulungnya tersebut belum memiliki calon suami. Mereka tidak ingin dulu menikahkan anak bungsunya sementara anak sulungnya masih sendiri. Meskipun sebenarnya, Mona sendiri merasa tidak masalah jika adiknya harus menikah terlebih dahulu. Berkat kebesaran hati Mona, akhirnya ayah dan ibu mereka menyetujui permintaan Sophie untuk menikah dengan Maxi.

Setelah itu, keadaan hampir kembali normal ketika tiba-tiba saja, ibunya mengajak Mona berbicara dan kemudian mewanti-wanti dirinya agar setelah Sophie menikah nanti, Mona juga harus segera menikah. Menurut ibunya, tidak akan ada lagi pria yang akan mau menikahinya di umurnya yang semakin tua. Sungguh, menurut Mona apa yang disampaikan ibunya itu adalah sebuah teori yang sangat aneh dan tidak jelas. Tapi, tetap saja akhirnya ia juga jadi terus memikirkan kapankah jodohnya datang?.

Di tempat kerjanya, Mona memiliki atasan yang menurutnya sangatlah menyebalkan, tidak ramah, sering marah yang hanya selalu menyuruh ia dan karyawan lainnya untuk bekerja dengan sempurna, seolah tidak pernah memikirkan keadaan para karyawannya. Saking kesal dengan perlakuan Adrian, nama atasannya, saat bekerja lembur, Mona sering memberi lebih banyak makan ikan-ikan di akuarium yang ada di ruangan Adrian, kadang juga ia menuang soda ke dalamnya. Tidak hanya itu, ia juga sering menyiram tanaman-tanaman dikantor dengan minuman asam. Namun, sebuah keajaiban terjadi, sore saat Mona hendak pulang, tiba-tiba saja Adrian menghampiri Mona, tersenyum dan menawarkan tumpangan untuk pulang. Dengan kaget, Mona menolaknya secara halus  dengan mengaku ada janji bertemu dengan seorang teman. Mona dibuat lebih kaget saat melihat Adrian tetap tersenyum dan berlalu pergi. Keesokan harinya, Mona dibuat lebih kaget lagi dengan perlakuan Adrian terhadapnya. Ia memintanya untuk mencuci seluruh piring dan gelas di kantor, dengan alasan, ia ingin mendapat pendapat Mona tentang sabun cuci piring yang baru baru diluncurkan perusahaan. Selama mencuci piring, Adrian menunggui Mona sambil terus menatap dan sesekali tersenyum kepadanya. Asli deh, di bagian ini aku jadi termenung membayangkan adegannya, hahahaa... kocak-kocak romantis.

Sementara itu, ditengah persiapan jelang pernikahan Sophie, keluarga kedatangan keluarga Maxi. Ditengah pembicaraan serius keluarga, Mona sempat berpikir dan semakin ragu dengan Maxi. Bagaimana tidak, dari penampilan, Maxi itu berkulit putih dan blasteran, sementara kedua orang tuanya berkulit sawo matang dan wajah khas Melayu. Mona sempat curiga ada yang tidak beres, namun ia cepat-cepat mengusir pikiran itu. Ia hanya ingin adiknya bahagia, syukur keluarga Maxi bisa menyempatkan mengunjungi keluarganya untuk membicarakan pernikahan Sophie dan Maxi, karena menurut mereka, selama ini mereka tinggal di luar negeri dan sangat sibuk. Hwalaah... ckckk...

Sophie yang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pernikahannya, termasuk dengan diet, perawatan wajah dan tubuh demi terlihat cantik dan pangling di hari pernikahannya nanti merasa ada sedikit perubahan dari sikap Maxi. Namun ia mencoba untuk memakluminya, menganggap bahwa sikap Maxi dipengaruhi oleh perasaan stres dan gugup menjelang pernikahan mereka, seperti yang juga ia rasakan saat ini.

Lain lagi dengan Mona, ia merasa semakin aneh dengan perlakuan Adrian yang semakin hari, semakin manis terhadapnya. Mona pun mulai merasakan perasaan yang sebelumnya tidak pernah ia duga akan ia rasakan terhadap Adrian. Namun, Mona juga dibuat khawatir dan bertanya-tanya, karena beberapa hari belakangan ini, Adrian tidak muncul di kantor. Sampai akhirnya, dari Adrian, Mona mengetahui bahwa dua hari itu, Adrian menunggui temannya yang sakit. Teman? Pastilah teman yang sangat berati sehingga Adrian sampai rela tidak masuk kantor untuk menungguinya, begitu yang Mona pikir. Namun kemudian, Mona tidak begitu memikirkan hal itu.

Saat ini Mona hanya sedang merasa senang dan sudah terbiasa dengan sikap baik dan manis Adrian yang kadang juga membuatnya risih dan malu saat teman-teman di kantor memperhatikan mereka. Bahkan Mona sama sekali, tidak menyangka saat Adrian mengetahui sering melakukan wedding crasher, (datang ke pernikahan sebagai tamu yang tak diundang, untuk numpang makan atau mencari kenalan) bersama Kethrine, sahabatnya, Adrian tertawa dan kemudian meminta lain kali Mona mengajaknya juga. Iyess... Mona dan Adrian semakin dekaat. Tapi sayang, disaat-saat itu, muncullah Mesty ditengah-tengah mereka. Mesty adalah mantan istri Adrian!. Apa?!!. Iya... dan Mesty pulalah yang Adrian sebut sebagai seorang teman yang ia tunggui saat sakit di rumah sakit saat itu. Didepan matanya sendiri, Mona melihat Mesty selalu bersikap manja terhadap Adrian, dan Adrian pun tetap bersikap baik dan ramah. Grgrgrrrhh.... dasar lelaki... -__-

Namun, disaat Mona merasakan keraguan, Adrian justru menyatakan cintanya kepada Mona.

Hari pernikahan Sophie dan Maxi akhirnya tiba, disaat semuanya sudah siap hanya tinggal menunggu kedatangan mempelai pria beserta keluarganya, Mona memberitahu Sophie, yang sudah sangat cantik berbalut gaun pengantin, bahwa handphone Sophie yang dititipkan kepadanya terus berbunyi. Sambil berusaha menghilangkan kegugupannya, Sophie mengecek pesan-pesan yang masuk dan ia sedikit kaget ketika ada nama Maxi juga mengirim pesan singkat kepadanya. Pesan dari Maxi itu menyatakan bahwa ia tidak bisa menikah dengan Sophie. Secepatnya ia membalas pesan tersebut, bahwa ia juga tidak bisa menikah dengan Maxi. Sophie tertawa dan kemudian menyimpan kembali ponselnya, karena ia hanya mengira Maxi mengerjainya untuk mengurangi kegugupan mereka. Sayangnya, waktu terus berlalu dan mempelai pria tidak kunjung datang, sampai kemudian, salah satu sahabat Sophie membaca kicauan Maxi di akun twitternya. Melalui twitnya, Maxi mengumumkan bahwa pernikahannya batal dilaksanakan. Mengetahui itu, Sophie sangat sedih dan kemudian tidak sadarkan diri. Sophie yang malang, ia diputuskan secara sepihak oleh Maxi, tepat dihari pernikahan yang telah mereka rencanakan bersama.

Mona dan kedua orangtuanya terus berusaha menghibur Sophie. Dan lagi, Sophie mengumumkan sebuah permintaan izin kepada keluarganya. Kali ini ia berkeinginan untuk melanjutkan kuliah ke Afrika. Bahahaa... memang, begitulah dia, saat memiliki masalah berat ia selalu berkeinginan untuk berangkat ke benua Afrika. Berhasil dibujuk untuk tidak kuliah jauh-jauh ke Afrika, Sophie akhirnya hanya meminta izin untuk berlibur saja ke Bali. Padahal sesungguhnya, ia berangkat ke Bali tidak benar-benar berniat untuk liburan, tetapi, ia berniat untuk mencari Maxi yang menurut informasi yang ia dapat, Maxi kini bekerja di salah satu hotel mewah di Bali. Sophie ingin, agar Maxi membayar tagihan kartu kreditnya yang hampir mencapai Rp. 30 juta, yang selama ini dipakai oleh Maxi berbelanja kebutuhan pribadinya selama mereka berpacaran. Sedangkan Sophie saat ini tidak mampu membayar itu semua, saat ini pula ia sudah tidak memiliki penghasilan sendiri, karena beberapa minggu menjelang pernikahan, Maxi sempat berkata, setelah menikah, ia ingin Sophie tidak lagi bekerja, ia hanya ingin Sophie menjadi seorang ibu rumah tangga.  

Demi mengurangi biaya liburan Sophie di Bali, Mona menyarankan sekaligus mengharuskan Sophie agar selama di Bali ia tidak menyewa penginapan tapi tinggal saja dirumah temannya semasa kuliah, Bara. Sesampainya di Bali, Sophie bertemu dengan Bara, sesosok laki-laki yang menurutnya sangat angkuh, acuh, sombong, tidak pernah tersenyum dan selalu bersikap sini kepadanya. Sungguh, menurut Sophie, tidak ada baik-baiknya dari diri Bara. Bara adalah seorang laki-laki yang sangat aneh dan menyebalkan.

Bagaimanakah kelanjutan kisah kakak beradik, Mona dan Sophie ini?

Ini adalah gambaran dari sosok Mona dan Sophie.
Iya betul, buku ini dilengkapi ilustrasi, ini menjadi point plus yang membuat buku ini menjadi menarik saat dibaca sekaligus membantu pembaca membayangkan sosok tokoh-tokohnya. Meskipun tidak seluruh tokoh-tokoh dalam cerita ini diilustrasikan.
Akankah Mona menerima cinta Adrian? Bagaimana dengan Mesty yang selama ini justru masih terlihat dekat dengan Adrian?
Dan di Bali, apakah Sophie berhasil menemukan Maxi untuk memaksanya membayar utang kartu kreditnya? Berhasil pulakah Sophie mendapat jawaban tentang mengapa Maxi dengan begitu saja memutuskan hubungan tepat dihari pernikahan mereka? Atau justru, malah di Bali itulah Sophie akan menemukan sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya yang kemudian akan mengubah hidupnya?

Penasaran? Silahkan baca bukunya yaa... :))

Kekurangan dan Kelebihan
Setelah membaca buku ini sampai dengan selesai, beberapa saat saya terdiam dan berpikir. Ini bacaannya ringan, asik, beralur cepat dan sekalipun bertema kehidupan sehari-hari yang kemudian bisa dengan mudah ditebak kemana arah ceritanya, tapi tidak membosankan. Sayangnya saya tidak menemukan korelasi antara judul dengan isi ceritanya. Alias gak nyambung. Kenapa? Karena tokoh Sophie dalam cerita ini tidak/belum pernah melakukan, berencana atau direncanakan honeymoon, bahkan sampai cerita berakhir, Sophie justru masih belum menikah. Memang ada bagian saat Sophie bercerita tentang pernikahan impiannya bahwa setelah menikah, ia ingin bisa berbulan madu ke Paris, tapi itu juga tidak terlalu menjadi ambisinya. Kalau, iya kalau... sekali lagi... kalau, hehehe... buku ini cetak ulang dan ada perubahan judul, dan saya boleh kasih saran, mungkin judul : "I Hate You Then I Love You", itu rasanya akan lebih tepat dan nyambung dengan isi ceritanya. Hehehe... Eh tapi itu kan judul lagunya Celine Dion ya? Iya itu salah satu judul lagu favorit saya. Atau mungkin : "Cinta akan datang tepat pada waktunya". Atau... atau apa ya, terserah penulisnya aja kali ya, kok saya maksa banget, hehehe...

Dari segi tampilan, untuk desain jilidnya, jujur saya kurang suka. Terlalu ramai dengan banyaknya aksen stiker-stiker tersebut. Padahal sebenarnya dengan mengambil tema warna hitam dan putih itu sudah bagus, berpotensi menjadi cover yang manis, sederhana dan elegan. Lalu tiba-tiba ada muncul pula bunga mawar merah besar di pojok kiri bawah itu, jadinya terlihat enggak banget... :(
Untuk desain bagian dalam bukunya, aksen titik-titik pada kertasnya itu cukup mengganggu bagi saya.

  

Pada awal-awal memang terasa unik, terasa ada variasi jika dibandingkan dengan kertas polos biasa, tapi semakin banyak halaman yang dibaca, itu tadi... saya kok ya jadi pusing liat desain titik-titik itu, dan pas mengarahkan pandangan setelah menatap halaman demi halaman bukunya, saya juga jadi melihat ada banyak titik-titik di pandangan saya untuk beberapa saat. Entah itu istilah optiknya apa ya, saya lupa...dan mungkin saya terlalu lebay dengan menuliskan tentang ini, tapi begitulah kenyataannya.

Ada beberapa typo yang saya temukan :
1. "Untung aku langsung lari dan mencegat taksi yang baru menuruni penumpang di depan mobil." (halaman 44)
Berdasarkan konteks kalimat tersebut, penggunaan kata yang tepat adalah "menurunkan". Dari KBBI :
---> Menuruni (kata kerja) : turun ke
Contoh : menuruni lembah
---> Menurunkan (kata kerja) : membawa (menjadikan, dalam hal ini : penumpang/muatan) turun atau bergerak kebawah/keluar dari, dalam hal ini mobil taksi
Contoh : menurunkan muatan

2. "Seru, kaya nonton infotainment." (halaman 45)
Berdasarkan konteks kalimatnya, penggunaan kata yang tepat adalah "kayak" bukan "kaya". Dari KBBI :
---> kayak/ka·yak/ memiliki pengertian : seperti; sebagai
---> kaya/ka·ya/ memiliki pengertian : mempunyai banyak harta (uang dan sebagainya)

3. "Hulu hati" (halaman 84), berbekal dari informasi yang saya ketahui selama ini, ungkapan yang benar adalah Ulu hati. *CMIIW* :)

4. "Perasaanya" (halaman 134), seharusnya : "Perasaannya"

5. "... diakusi..." (halaman 242), seharusnya :"... diakui..."

6. "...panti ashuan..." (halaman 243), seharusnya : "... panti asuhan..."

7. "...mengahadapi..." (halaman 246), seharusnya : "... menghadapi..."

8. "... melayanin..." (halaman 174), seharusnya : "... melayani..."

9. "... bahwan...", (halaman 248), seharusnya : "... bahwa..."

10. "... akarab...", (halaman 255), seharusnya : "... akrab..."

11. "... isitimewa... " (halaman 255), seharusnya : "... istimewa..."

Pada halaman 201 - 202 saya menemukan cerita dari adegan saat Adrian mengajak Mona untuk makan siang, yang kemudian Mona menolaknya karena sudah ada janji sebelumnya untuk makan siang bersama teman-teman karyawan yang lain. Nah, pada halaman 203 - 204, cerita adegan tersebut terulang alias tertulis kembali, namun seperti sudah mengalami proses pengeditan (tidak persis sama dengan yang tertulis pada halaman 201 -202), dan setelah itu cerita berlanjut. Ini sebenarnya tidak begitu mengganggu, hanya saja kesannya tidak profesional dan begitu sangat kurang telitinya pada saat proses editing. Lagi, kalau suatu saat buku ini mengalami cetak ulang, pada bagian ini, buang saja halaman 203 dan 204 tersebut, selanjutnya halaman dilanjut dengan menyambung mulai dari halaman 201 - 202. 

Sejujurnya, saya kurang suka jika menemukan penggunaan kata yang tidak baku pada sebuah buku pada bagian deskripsi (pada bagian dialog, itu tidak menjadi masalah), pada buku ini kata tidak baku itu salah satunya, misalnya kata "nggak" pada bagian deskripsi, di kalimat pertama, halaman pertama, bab pertama buku ini. Namun, untungnya saya tidak menemukan banyak hal seperti itu pada buku ini.

Untuk kualitas kertas jilid, kertas bagian dalam buku, ukuran, bentuk serta spasi huruf, tidak ada masalah. Semuanya Oke!

Dari segi cerita, saya merasa cerita dan karakter para tokohnya masih hambar, belum tergali dengan baik dan mendalam. Misalnya saja, Adrian dan Mona, jika di telisik, sebenarnya kisah mereka gak jauh berbeda dengan Sophie dan Bara. Karakter Mona dan Sophie, selai hanya dari fisik dan kebiasaan, tidak ada lagi hal yang membuat mereka benar-benar spesial secara masing-masing.

Untuk penyampaian cerita, saya suka sekali dengan cara penulis yang memilih menggunakan point of view yang berbeda di setiap babnya, bergantian antara Mona dan Sophie. Ini membuat saya sebagai pembaca, merasa terus penasaran untuk terus membaca bab-bab berikutnya tanpa berhenti. Saya hanya membutuhkan 4 jam saja untuk membaca buku ini sampai dengan selesai. Diselingi, minum, ambil minum, dan mengatur playlist musik yang saya dengar, hehehe...

Selain itu, aku juga suka banget sama ide penulis yang menyelipkan rubrik konsultasi di antara pergantian babnya. Dan, duh.. itu lho yang dibahas kok mewakili banget pertanyaan-pertanyaan aku ya... hahaa... kayak misalnya, gimana sih cara menghadapi dan menjawab orang yang selaluuu dengan tanpa merasa dosa bertanya : "Pacarnya yang mana?". Nah, di buku ini ada,lho... dibahas. Eh, kamu lagi sedih karena patah? Di buku ini juga ada cara-cara untuk mengendalikan emosi kamu disaat-saat seperti itu. Atau justru saat ini, kamu sedang merasa jatuh cinta, suka sama seseorang? Tapi ada kemungkinan orang itu gak suka sama kamu? Duhh...tapi jangan khawatir, di buku ini, iyaa...masih di buku ini juga, ada tips-tips untuk membuat orang yang kamu suka jadi tergila-gila sama kamu. Ayo, tunggu apa lagi? Baca dan praktekan tips-tipsnya. Soal berhasil atau tidak, itu yaa... tergantung usaha dan doa kamu. Hehehe... 

Amanat
Dengan tema kehidupan sehari-hari, bergenre komedi romantis, saya menangkap beberapa amanat yang disampaikan penulis melalui cerita pada buku ini :
1. Keluarga adalah hadiah terbesar dan terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Begitu juga sebaliknya, percayalah, bahwa diri kita pun sangatlah berarti bagi keluarga kita.

2. Pandai-pandailah dalam memilih teman, sahabat apalagi calon pasangan. :P

3. Jangan menilai seseorang dari luarnya saja. Seseorang yang terlihat baik, manis dan perhatian bisa jadi memiliki sifat asli yang tidak terpuji. Begitu pula sebaliknya, bisa jadi seseorang yang terlihat tidak baik justru dia memiliki akhlak yang baik.

4. Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Selagi masih ada waktu untuk berpikir, pikirkanlah dengan matang keputusan yang akan kamu ambil tersebut.

5. Hargailah orang yang menyayangimu dengan tulus, minimal beri dia kejelasan hubungan kalian. :P

6. Jadilah diri sendiri, syukuri apa yang telah kau miliki. Kamu itu unik dengan kelebihan kekuranganmu sendiri. 

7. Hidup ini kadang memang terasa berat untuk dijalani, tapi percayalah bahwa akan ada jalan keluar untuk setiap permasalahan dan kesulitan yang kita hadapi.

Kutipan-Kutipan Favorit
1. "Aku nggak peduli kamu kurus atau gemuk, yang penting kamu sehat." (halaman 215)

2. "... wanita yang hanya mengandalkan kecantikannya itu bodoh. Kecantikan itu seperti aset yang setiap harinya menyusut. Setiap hari nilainya terus menurun. Aset-aset seperti itu nggak bernilai." (halaman (215)

3. "Aku nggak bisa menjalani hubungan kayak gini. Aku cuma minta kamu tegas aja" (halaman 217)

4. "Hidup nggak bisa bisa dihancurkan. Hidup terlalu keras dan tangguh untuk bisa hancur." (halaman 226)

5. "Kenapa aku suka sama kamu? Apa suka sama seseorang harus ada alasan? Nggak bisa ya aku mencintaimu tanpa alasan?" (halaman 234)

6. "Jatuh cinta adalah hal terindah yang bisa dinikmati oleh seluruh umat manusia. Nikmatilah anugerah cinta yang kamu alami." (halaman 251)

7. "Aku hanya ingin mencintai dirinya, hari ini, esok, dan seterusnya bahkan sampai aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya jatuh cinta kepadanya." (halaman 256)

Rating Time!
Terlepas dari segala kekurangan yang ada, saya menyukai buku ini. Kisah yang sederhana, cerminan kehidupan dan kisah cinta dalam kehidupan nyata sehari-hari, tidak membosankan, menarik untuk diikuti. Ditambah dengan selipan kuis, dan rubrik curhat, menjadikan buku terasa lebih "hidup" dibandingkan dengan buku-buku lain yang menyajikan cerita dengan tema serupa.

Iya, 3 bintang untuk buku ini. Yeayy!! :)


Recommended buat kamu yang menyukai bacaan ringan, yang diselipi pesan-pesan kehidupan seputar kehidupan dan cinta, baik itu cinta kepada keluarga, pasangan, teman dan sahabat. Dijamin, buku ini bakal bikin kamu kesaaal, senyam-senyum, ketawa ngakak dan berteriak : "aaah... kurang nih ceritanya, masih penasaran banget"

Terima kasih kepada mbak Retha, untuk kiriman bukunya. Terima kasih atas kepercayaannya. Maaf, lelet ini mengerjakan PRnya, hehe... Selamat yaa untuk buku barunya ini. Semoga disukai dan bisa memberi inspirasi positip bagi para pembacanya. Sukses terus yaa untuk kedepannya, makin produktif... pokoknya ditunggu terbit buku-buku berikutnya karya mbak Retha, dan... anu, duh gimana ya bilangnya.... itu lho... aku suka sama Bara. Hihihii... :)